Konten dari Pengguna
Mengapa Kita Bisa Bingung dalam Menentukan Pilihan dari Perspektif Biopsikologi
19 Oktober 2025 14:37 WIB
ยท
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Mengapa Kita Bisa Bingung dalam Menentukan Pilihan dari Perspektif Biopsikologi
Kebingungan bukan sekadar kurang fokus. Dari sisi biopsikologi, otak dan emosi berperan besar dalam cara kita mengambil keputusan.Shuhaib Ahmad Syauqi
Tulisan dari Shuhaib Ahmad Syauqi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Setiap manusia pasti pernah merasakan kebingungan saat harus menentukan sesuatu, mulai dari hal sederhana seperti memilih makanan hingga keputusan besar seperti menentukan karier dan pasangan. Kebingungan sering dianggap sebagai tanda kurangnya ketegasan atau fokus. Padahal, kurangnya ketegasan lebih berkaitan dengan aspek psikologis seperti keraguan diri dan kecemasan, sedangkan kurangnya fokus juga dapat disebabkan oleh faktor biologis di otak, khususnya pada bagian prefrontal cortex yang berperan dalam pengambilan keputusan dan pengendalian perhatian. Dengan demikian, kebingungan bukan sekadar persoalan psikologis, tetapi juga memiliki dasar biopsikologis yang memengaruhi cara kita berpikir dan bertindak.

Kebingungan yang terjadi secara terus-menerus dapat menimbulkan berbagai dampak, baik secara mental maupun biologis. Kebingungan dapat meningkatkan stres dan kecemasan karena otak kesulitan memproses informasi dan menilai pilihan yang ada. Fenomena ini dapat mengganggu aktivitas prefrontal cortex serta meningkatkan aktivitas amigdala yang berhubungan dengan respons emosi negatif (Morgado, Sousa, & Cerqueira, 2014). Dalam jangka panjang, individu yang terlalu sering mengalami kebingungan cenderung mengalami decision fatigue atau kelelahan dalam membuat keputusan, yang dapat berujung pada perilaku pasif dan penurunan kemampuan regulasi diri (Soutschek, Ruff, Strombach, Kalenscher, & Tobler, 2016). Hal ini menunjukkan bahwa kebingungan bukan hanya persoalan sesaat, tetapi dapat berdampak pada keseimbangan emosi dan fungsi otak secara keseluruhan.
Kebingungan dalam menentukan pilihan tidak muncul secara tiba-tiba. Kondisi ini terjadi di otak bagian prefrontal cortex, yaitu area yang berfungsi untuk menimbang konsekuensi, merencanakan tindakan, dan mengendalikan dorongan emosional. Saat seseorang dihadapkan pada banyak pilihan atau tekanan waktu, aktivitas di bagian ini meningkat. Namun, jika beban terlalu besar, prefrontal cortex dapat mengalami kelelahan sehingga kemampuan menilai dan memilih menjadi terganggu (Soutschek, Ruff, Strombach, Kalenscher, & Tobler, 2016). Hal ini dapat membuat seseorang mudah ragu, bahkan ketika pilihannya sebenarnya sederhana.
Selain itu, sistem limbik juga berperan dalam munculnya kebingungan, terutama amigdala. Amigdala bertugas mengolah emosi, termasuk rasa cemas dan takut membuat kesalahan. Ketika seseorang khawatir akan konsekuensi dari pilihannya, amigdala mengirim sinyal stres ke seluruh tubuh, melepaskan hormon kortisol, dan menekan kerja prefrontal cortex (Morgado, Sousa, & Cerqueira, 2014). Akibatnya, semakin tinggi tingkat kecemasan seseorang, semakin sulit baginya untuk berpikir jernih dan mengambil keputusan rasional. Hal ini menjelaskan mengapa kebingungan sering kali disertai perasaan cemas, tidak yakin, atau bahkan panik.
Faktor lain yang turut memengaruhi kebingungan adalah sistem reward otak yang dikendalikan oleh dopamin. Ketika kita memikirkan berbagai pilihan, dopamin membantu menilai mana yang paling memberikan kepuasan. Namun, dalam kehidupan modern, sistem dopamin sering kali menjadi tidak seimbang. Otak terbiasa mencari sensasi cepat atau โhadiah instanโ, sementara keputusan penting justru memerlukan pertimbangan yang lambat dan logis. Ketidakseimbangan ini dapat memicu konflik antara dorongan emosional dan rasional, yang pada akhirnya menimbulkan kebingungan dalam menentukan pilihan (Kobayashi, Nagase, & Watanabe, 2023).
Kebingungan dalam mengambil keputusan bukanlah sekadar persoalan psikologis atau kelemahan pribadi, tetapi juga melibatkan proses yang terjadi di dalam otak. Prefrontal cortex, amigdala, dan sistem dopamin memiliki peran penting dalam mengatur cara kita berpikir, merasa, dan menilai pilihan. Oleh karena itu, memahami kebingungan dari sudut pandang biopsikologi membantu kita melihat bahwa proses pengambilan keputusan melibatkan kerja otak. Menjaga kesehatan mental serta keseimbangan emosi menjadi kunci agar kita dapat membuat keputusan yang lebih rasional.
Morgado, P., Sousa, N., & Cerqueira, J. J. (2014). The impact of stress in decision making in the context of uncertainty. Frontiers in Behavioral Neuroscience.
Soutschek, A., Ruff, C. C., Strombach, T., Kalenscher, T., & Tobler, P. N. (2016). Brain stimulation reveals crucial role of overcoming self-centeredness in self-control.
Kobayashi, K., Nagase, A., & Watanabe, M. (2023). Dopamine regulates decision thresholds during reinforcement learning. Nature Communications.

