Konten dari Pengguna
Melihat Indonesia dari Jendela Kereta
28 Oktober 2025 21:00 WIB
·
waktu baca 5 menit
Kiriman Pengguna
Melihat Indonesia dari Jendela Kereta
Perjalanan dengan kereta kadang lebih jujur dari laporan ekonomi. Pemandangan di luar jendela memperlihatkan wajah nyata negeri ini.Sigid Mulyadi
Tulisan dari Sigid Mulyadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Dari balik jendela kereta, saya belajar satu hal: bahwa perjalanan bisa lebih jujur daripada laporan ekonomi. Pemandangan yang berganti di sepanjang rel—dari sawah yang hijau hingga rumah-rumah di tepi jalur—kadang mampu berbicara lebih banyak tentang kondisi negeri ini dibanding grafik dan tabel di ruang rapat.
Tapi sebelum sampai di titik itu, perjalanan saya dimulai dengan hal yang lebih sederhana: memesan taksi lewat aplikasi.
Obrolan ringan dengan seorang teman membawa saya pada pengetahuan baru, bahwa kini pemesanan taksi untuk hari dan jam tertentu bisa dilakukan jauh-jauh hari. Dengan pembayaran lewat aplikasi, bukti transaksinya pun langsung tersimpan—mudah diklaim, transparan, dan sesuai prinsip at cost. Rasanya seperti contoh kecil dari kemajuan sistem yang berlandaskan integritas.
Saya memutuskan untuk memesan taksi sejak hari sebelumnya. Alasannya sederhana: penginapan saya berada di dalam kompleks yang cukup jauh dari jalan utama. Daripada kesulitan memesan di pagi hari, saya memilih untuk memastikan kepastian. Mungkin tarifnya sedikit lebih tinggi, tapi kadang kepastian memang bernilai lebih mahal.
Pagi itu, taksi sudah menunggu di lobi. Setelah menyelesaikan proses check-out dan mengambil sarapan take away, saya segera berangkat. Jalan tol masih lengang, dan langit di luar perlahan berwarna muda.
Gedung-gedung tinggi di kejauhan masih berkelap-kerlip, seolah menegaskan bahwa kota ini tak pernah benar-benar tidur. Di sinilah paradoks kota besar terasa jelas: di balik gemerlapnya, selalu ada wajah lain—orang-orang yang terus bergerak, bekerja, dan berjuang.
Namun pagi itu, saya tidak sedang mengejar waktu. Saya justru sedang menjemput kesempatan untuk melihat ulang negeri ini—melalui jendela sebuah kereta.
Perjalanan yang Membuka Mata
Sekitar satu jam kemudian, saya tiba di stasiun. Barangkali ini perjalanan kereta pertama saya setelah sekian lama. Saya memilih kursi dekat jendela; tempat terbaik untuk memandang dan merenung.
Saat kereta mulai melaju, suara gesekan roda dengan rel terdengar ritmis. Di luar, hamparan sawah, kebun, rumah penduduk, dan jalan kecil berganti-ganti. Pemandangan itu tampak biasa, tapi di situlah keistimewaannya: dari yang biasa itulah kita bisa membaca denyut kehidupan bangsa ini.
Melihat dari jendela kereta sebenarnya seperti membaca laporan ekonomi dalam bentuk visual.
Ketika jalan di sisi rel mulus, jembatannya kokoh, dan drainasenya terawat, saya tahu ada tata kelola yang baik di daerah itu. Tapi di tempat lain, genangan air, sampah, dan rumah-rumah yang berdempetan di tepi rel memberi sinyal bahwa pembangunan belum merata.
Permukiman di sepanjang rel selalu jujur. Rumah-rumah tembok yang tertata menandakan kesejahteraan, sementara hunian sempit dari papan atau seng menunjukkan masih lebarnya jarak sosial yang harus dijembatani.
Pasar kecil, bengkel, warung, atau kios yang ramai di tepi rel adalah tanda lain. Mereka menjadi saksi bahwa ekonomi rakyat tetap hidup, meski sederhana. Aktivitas ekonomi mikro seperti itu justru yang paling tahan menghadapi gejolak, sekaligus menjadi fondasi ekonomi lokal.
Lalu ketika kereta melewati kawasan pertanian, saya melihat petani yang sudah bekerja di pagi hari. Sawah yang hijau dan irigasi yang rapi menandakan produktivitas. Namun di beberapa tempat, sawah berubah menjadi perumahan baru. Sebuah paradoks antara kemajuan dan kehilangan—antara pembangunan dan hilangnya ruang hidup produktif.
Kawasan industri pun berbicara lewat pemandangan yang cepat berlalu. Pabrik yang berasap tipis, truk yang keluar-masuk, menandakan roda ekonomi berputar. Tapi bangunan mangkrak dan gudang kosong mengisyaratkan perlambatan yang tak perlu dicatat di laporan; cukup dilihat dari jendela.
Bahkan kebersihan di sepanjang jalur rel bisa menjadi barometer. Rel yang bersih menunjukkan tata kelola yang baik, kesadaran warga, dan perhatian pemerintah. Sebaliknya, sampah di bantaran rel sering kali menandakan sesuatu yang lebih besar: tentang ketimpangan, tentang abainya sistem terhadap ruang-ruang yang dianggap pinggiran.
Refleksi dari Rel yang Panjang
Perjalanan dengan kereta selalu memberi ruang untuk berpikir. Ia tidak terburu-buru seperti pesawat, dan tidak terlalu pribadi seperti mobil. Ia memberi jeda bagi mata untuk melihat, dan bagi hati untuk memahami.
Dari jendela kereta, saya melihat bagaimana Indonesia bergerak: ada yang tumbuh cepat, ada yang tertinggal, ada yang bertahan. Di satu sisi, kita menyaksikan kemajuan infrastruktur dan teknologi. Di sisi lain, kita juga melihat jurang sosial yang tak mudah dijembatani.
Kereta mengajarkan kejujuran. Ia tak pernah memilih pemandangan mana yang ingin kita lihat. Ia hanya berjalan di atas rel, menembus kota dan desa, memperlihatkan kekayaan dan kemiskinan dalam jarak pandang yang sama.
Dari perjalanan ini, saya menyadari: data statistik sering kali terlalu rapi untuk mewakili kenyataan. Pertumbuhan ekonomi memang bisa diukur dengan angka, tapi kesejahteraan manusia hanya bisa dirasakan—kadang, cukup dengan sepasang mata yang terbuka dari balik jendela.
Mungkin sudah saatnya para pemimpin negeri ini sesekali melakukan perjalanan dengan kereta.
Bukan untuk seremoni atau liputan media, tapi untuk benar-benar melihat: melihat rakyatnya, melihat daerah-daerah yang dilalui, dan mendengar cerita yang tidak pernah sampai di meja rapat.
Sebab, memahami bangsa ini tidak cukup dari laporan dan angka. Ia butuh kehadiran, tatapan, dan kesadaran untuk membaca yang tampak sederhana tapi bermakna.
Kereta terus melaju. Saya masih memandangi pemandangan yang berganti tanpa henti. Di setiap lintasan, saya merasa sedang membaca bab demi bab tentang Indonesia—tentang harapan yang tumbuh di antara ketimpangan, tentang kerja keras yang jarang terlihat, tentang hidup yang terus bergerak meski pelan.
Dan ketika akhirnya kereta berhenti di stasiun tujuan, saya tahu satu hal: memahami negeri ini tak harus selalu lewat kata-kata besar. Kadang cukup dengan duduk di kursi dekat jendela, membiarkan mata dan hati terbuka, lalu membiarkan Indonesia bercerita sendiri—melalui rel yang panjang, dan perjalanan yang tak pernah benar-benar usai.

