Konten dari Pengguna

Harga Udang vs Penyakit: Ketika Pasar Menentukan Arah Manajemen Budidaya dan SDM

Sigit E Praptono
Praktisi Budidaya dan Pemerhati SDM Akuakultur
25 Oktober 2025 22:00 WIB
·
waktu baca 6 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Harga Udang vs Penyakit: Ketika Pasar Menentukan Arah Manajemen Budidaya dan SDM
Tekanan ganda: petambak harus meningkatkan volume dan kualitas produksi untuk tetap kompetitif, tetapi pada saat yang sama harus menghadapi risiko penyakit dan biaya operasional yang tinggi.
Sigit E Praptono
Tulisan dari Sigit E Praptono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi udang beku. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi udang beku. Foto: Shutterstock
Harga udang tidak sekadar angka di pasar komoditas, ia adalah ‘kompas’ yang menentukan arah strategi produksi, manajemen tambak, hingga pengelolaan sumber daya manusia (SDM) di sektor akuakultur. Ketika harga udang naik, gairah produksi petambak melonjak. Padat tebar diperbesar, pakan dipacu, siklus produksi dipercepat.
Namun bersamaan dengan euforia itu, ancaman penyakit udang pun meningkat drastis. Sebaliknya, ketika harga turun, biaya operasional ditekan, dan ironisnya, yang sering dipangkas pertama kali adalah anggaran biosekuriti dan pengawasan teknis, dua aspek yang justru paling menentukan keberlangsungan produksi.
Fluktuasi harga ini bukan sekadar dinamika pasar domestik. Menurut Food and Agriculture Organization (FAO, 2023), dalam lima tahun terakhir (2019–2023) harga udang global mengalami fluktuasi tajam hingga 35–45%. Ketergantungan Indonesia terhadap pasar ekspor, terutama Amerika Serikat, Jepang, dan Tiongkok, menjadikan industri ini sangat sensitif terhadap dinamika ekonomi dan kebijakan luar negeri negara tujuan ekspor.
Ketika harga ekspor naik, banyak tambak memperluas tebaran dan memperpendek siklus pemeliharaan untuk mengejar momentum harga. Namun praktik ini sering kali diikuti peningkatan stres lingkungan, penumpukan limbah organik, dan munculnya penyakit pada udang.

Tekanan Ekspor dan Hambatan Pasar Global

Selain tekanan fluktuasi harga, ada faktor penting lain yang jarang diulas di tingkat petambak: hambatan ekspor non-tarif. Dalam beberapa bulan terakhir, industri perudangan Indonesia menghadapi tantangan serius dalam menembus pasar Amerika Serikat dan Jepang. Salah satunya terkait isu kontaminasi radioaktif pada produk perikanan dan udang beku yang masuk ke Jepang, terutama setelah meningkatnya pengawasan ketat pasca pelepasan air olahan dari PLTN Fukushima (FAO & WHO, 2023). Jepang memperketat standar Maximum Residue Limits (MRL) dan melakukan uji acak terhadap produk perikanan, termasuk udang.
Di sisi lain, pasar AS juga semakin memperketat standar keamanan pangan, terutama terkait cemaran mikroba dan residu bahan kimia. Menurut data United States Food and Drug Administration (FDA, 2024), beberapa pengiriman udang dari Asia Tenggara, termasuk Indonesia, pernah ditolak karena tidak memenuhi standar keamanan. Kondisi ini menimbulkan tekanan ganda: petambak harus meningkatkan volume dan kualitas produksi untuk tetap kompetitif, tetapi pada saat yang sama harus menghadapi risiko penyakit dan biaya operasional yang tinggi.
Ketergantungan yang besar pada ekspor membuat sektor budidaya udang Indonesia sangat rentan. Ketika ada hambatan pasar di luar negeri, harga domestik tertekan dan mendorong efisiensi ekstrem di tingkat tambak. Dan sering kali, efisiensi itu dilakukan dengan cara yang salah: mengurangi pengawasan teknis dan menurunkan standar biosekuriti.

Penyakit EHP dan Vibriosis: 'Pembunuh Senyap' Produksi

Dalam kondisi tekanan pasar yang tinggi, penyakit menjadi faktor penentu produktivitas. Jika White Spot Syndrome Virus (WSSV) atau Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease (AHPND) dikenal sebagai 'pembunuh cepat' di tambak, maka Enterocytozoon hepatopenaei (EHP) dan Vibriosis adalah 'pembunuh senyap' yang menghancurkan produktivitas secara perlahan.
EHP menyebabkan pertumbuhan udang lambat dan ukuran panen tidak seragam. Penelitian oleh Tangprasittipap et al. (2013) menunjukkan EHP dapat menurunkan pertumbuhan udang hingga 30–40% dan menyebabkan size variation yang tinggi pada panen. Hal ini berdampak langsung pada nilai jual dan efisiensi panen, terutama saat harga ekspor sedang turun. Sementara itu, vibriosis, yang disebabkan oleh bakteri Vibrio spp., memperburuk kondisi kesehatan udang terutama pada fase pertumbuhan tengah hingga akhir, sering menyebabkan mortalitas bertahap (chronic mortality).
Kombinasi EHP dan vibriosis kerap membuat siklus budidaya menjadi tidak efisien: pakan boros, waktu panen mundur, dan ukuran udang tidak seragam. Dalam situasi harga ekspor yang sensitif, kondisi ini menjadi pukulan telak bagi petambak.

SDM Tambak sebagai Garda Terdepan

Dalam menghadapi tekanan pasar dan penyakit, SDM tambak bukan sekadar operator, tetapi 'sensor dini' dalam sistem produksi. Ketika tenaga kerja cukup, terlatih, dan sigap, tanda-tanda dini penyakit dapat terdeteksi dan ditangani sebelum meluas. Namun, dalam praktiknya, ketika harga turun, banyak tambak mengurangi jumlah tenaga kerja atau melemahkan sistem pengawasan harian.
Padahal, penelitian oleh Kumar et al. (2021) di India menunjukkan pelatihan biosekuriti dan pengawasan ketat oleh SDM lapangan dapat mengurangi risiko infeksi WSSV hingga 60%. Studi serupa di Vietnam oleh Phu et al. (2020) menemukan bahwa pelatihan deteksi dini EHP dan perawatan kualitas air menurunkan prevalensi penyakit sebesar 35% dalam satu siklus produksi.

Fluktuasi Harga dan Keputusan Produksi

Keputusan produksi di tambak udang sangat dipengaruhi oleh harga pasar. Ketika harga tinggi, petambak sering menaikkan padat tebar dan mempercepat siklus produksi, tetapi tidak selalu diimbangi peningkatan sistem pengelolaan lingkungan dan biosekuriti. Ketika harga turun, efisiensi dilakukan dengan mengurangi biaya teknis, termasuk tenaga kerja dan monitoring laboratorium.
Padahal, menurut Meyer et al. (2020), dalam teori 'harga-sadar risiko', keputusan produksi yang sehat seharusnya mempertimbangkan risiko kerugian jangka panjang akibat penyakit, bukan hanya harga jangka pendek. Dalam konteks udang, risiko terbesar justru datang dari penyakit kronis seperti EHP dan vibriosis, bukan hanya penyakit akut.
(Dokumen Pribadi)

Pendekatan Manajemen Adaptif

Untuk memutus siklus harga-penyakit, pendekatan manajemen adaptif sangat dibutuhkan. Pertama, padat tebar dan input produksi harus disesuaikan dengan kapasitas sistem, bukan sekadar target harga. Kedua, pelatihan dan rotasi SDM lapangan perlu diperkuat agar deteksi dini dan tanggap darurat bisa berjalan cepat. Ketiga, strategi panen parsial (partial harvest) dapat menjadi solusi menjaga arus kas tanpa menekan lingkungan secara ekstrem.
Konsep ini sejalan dengan pendekatan 'early warning and adaptive management' dalam budidaya berkelanjutan (FAO, 2022). Negara produsen utama seperti Ekuador dan Thailand telah membuktikan efektivitas sistem panen parsial dan jadwal produksi adaptif dalam mengurangi kerugian akibat penyakit (Lightner et al., 2020).

Peran Pemerintah dan Asosiasi

Petambak individu sulit menghadapi tekanan ekspor dan risiko penyakit sendirian. Pemerintah dan asosiasi perlu hadir dengan kebijakan mitigasi, seperti sistem peringatan dini wabah (early warning), standar keamanan pangan terpadu, asuransi risiko produksi, serta diplomasi perdagangan untuk membuka akses pasar.
Jepang, misalnya, kini mewajibkan sertifikasi keamanan tambahan untuk komoditas udang akibat kekhawatiran kontaminasi radioaktif (FAO & WHO, 2023). Tanpa dukungan kelembagaan, petambak kecil akan kesulitan memenuhi standar ini. Di Ekuador, asosiasi industri mengoordinasikan harga minimum dan jadwal panen bersama untuk menjaga stabilitas pasar dan mengurangi over-supply saat harga turun (FAO, 2023).

SDM Bukan Beban, Melainkan Aset

Sering kali SDM dianggap beban biaya yang harus dipangkas saat harga turun. Padahal dalam sistem budidaya intensif, SDM justru menjadi penentu keberlangsungan produksi. Tran et al. (2023) menunjukkan tambak dengan pelatihan biosekuriti minimal dua kali per siklus memiliki tingkat kelangsungan hidup udang 20% lebih tinggi dibandingkan tambak tanpa pelatihan. Ini adalah investasi, bukan beban.

Harga Boleh Fluktuatif, Biosekuriti Harus Konstan

Harga udang dunia akan terus berfluktuasi, dan pasar ekspor akan semakin ketat. Tapi biosekuriti dan kapasitas SDM tidak boleh ikut naik turun mengikuti harga. Penyakit seperti EHP dan vibriosis adalah musuh jangka panjang yang hanya bisa dikendalikan dengan disiplin manajemen, bukan euforia pasar.
Petambak yang tangguh bukan mereka yang hanya pandai mengejar harga tinggi, melainkan mereka yang mampu menjaga sistem produksinya tetap sehat ketika harga rendah dan pasar ekspor penuh hambatan. Dengan strategi adaptif, investasi SDM, dan dukungan kelembagaan, Indonesia bisa keluar dari lingkaran harga-penyakit yang selama ini menggerogoti daya saing industri udang nasional.
Trending Now