Konten dari Pengguna
Ketahanan Tambak di Era Penyakit dan Traceability
18 Oktober 2025 21:00 WIB
·
waktu baca 5 menit
Kiriman Pengguna
Ketahanan Tambak di Era Penyakit dan Traceability
Ancaman penyakit yang kian kompleks dan tuntutan traceability (ketelusuran) yang semakin ketat dari pasar internasional.Sigit E Praptono
Tulisan dari Sigit E Praptono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Industri akuakultur dunia berada di persimpangan penting. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, produksi perikanan budidaya melampaui tangkapan liar, menjadikannya salah satu penopang utama ketahanan pangan global. Namun dibalik pertumbuhan pesat ini, mengintai dua tantangan besar yang saling terkait: ancaman penyakit yang kian kompleks dan tuntutan traceability (ketelusuran) yang semakin ketat dari pasar internasional. Jika tak diantisipasi dengan baik, keduanya berpotensi menggoyahkan produktivitas, menurunkan daya saing ekspor, dan melemahkan ketahanan ekonomi komunitas pesisir.
Ancaman Penyakit: Dari EHP hingga Sindrom Kotoran Putih
Wabah penyakit udang seperti Enterocytozoon hepatopenaei (EHP), White Feces Syndrome, dan berbagai virus perairan menjadi persoalan serius bagi banyak negara produsen. Penyakit ini bukan sekadar gangguan teknis: ia menurunkan tingkat kelangsungan hidup, memperlambat pertumbuhan, dan memaksa petambak melakukan panen dini yang tidak menguntungkan.
Kajian Food and Agriculture Organization (FAO) mencatat peningkatan signifikan kerugian ekonomi akibat wabah penyakit udang dalam lima tahun terakhir, khususnya di negara produsen Asia. Temuan World Organisation for Animal Health memperkuat peringatan ini: EHP kini menjadi patogen 'silent but significant' yang terus menekan performa tambak tanpa selalu memunculkan gejala klinis yang jelas (Govindasamy et al., 2023).
Lemahnya biosekuriti, mutu benur, serta pengelolaan air yang tidak konsisten sering menjadi titik masuk patogen ke dalam sistem produksi. Dalam situasi seperti ini, paradigma pengelolaan tambak perlu berubah: dari sekadar 'pemadaman kebakaran' saat wabah, menuju investasi sistematis pada pencegahan. Langkah-langkahnya meliputi diagnostik molekuler, karantina benih, pencatatan kesehatan kolam, serta pelatihan teknis bagi pekerja tambak. Tanpa itu, biaya produksi dan risiko kegagalan panen akan terus membebani terutama petambak kecil.
Traceability: Ketelusuran sebagai Bukti Kepercayaan
Seiring meningkatnya kesadaran konsumen global terhadap keamanan pangan dan keberlanjutan, pembeli internasional kini tidak lagi cukup puas dengan label. Mereka menuntut bukti jejak digital dari tambak hingga meja makan. Dalam konteks ini, traceability bukan sekadar teknologi, melainkan mekanisme kepercayaan, jaminan bahwa produk aman, legal, dan diproduksi secara berkelanjutan.
Penelitian terbaru menunjukkan, penerapan sistem traceability berbasis blockchain dan Internet of Things (IoT) meningkatkan transparansi rantai pasok, mempercepat respons saat insiden keamanan pangan, dan memperkuat posisi daya saing produsen (Shamsuzzoha et al., 2023; Hopkins, 2024). Namun, adopsi teknologi ini kerap terbentur kendala: biaya implementasi yang tidak murah, fragmentasi rantai pasok, serta resistensi sebagian pelaku terhadap perubahan.
Dua Sisi Satu Koin
Isu penyakit dan traceability sesungguhnya bukan dua hal terpisah. Keduanya saling menguatkan atau - jika diabaikan - saling memperburuk keadaan. Wabah penyakit yang tidak tercatat dengan baik akan menyulitkan penelusuran sumber infeksi. Sebaliknya, lemahnya sistem ketelusuran membuat importir kehilangan kepercayaan dan berpotensi menutup akses pasar.
Di sisi lain, traceability yang kuat memungkinkan identifikasi dini terhadap sumber masalah kesehatan, mempercepat audit, serta mengefisienkan proses recall (penarikan produk) jika diperlukan. Jejak digital produksi, mulai dari asal benih, kualitas air, hingga pengelolaan pakan, menjadi bukti objektif yang memperkuat reputasi produsen di mata pasar global.
Pilar Ketahanan Tambak
Menghadapi tantangan ganda ini, ketahanan tambak harus dibangun di atas empat pilar integratif:
1. Pencegahan dan diagnostik cepat. Investasi laboratorium lapangan, uji molekuler, dan protokol karantina benih menjadi langkah kunci. Diagnostik dini mempercepat respons dan mengurangi dampak wabah (Govindasamy et al., 2023).
2. Praktik budidaya yang tangguh. Pengaturan kepadatan tebar, manajemen kualitas air secara real-time, serta sistem budidaya seperti bioflok atau RAS dapat menekan tekanan patogen dan meningkatkan performa tambak.
3. Traceability dan digitalisasi rantai pasok. Implementasi QR code, IoT, dan blockchain untuk mencatat riwayat kesehatan kolam serta pergerakan input-output produksi. Solusi digital semacam ini telah terbukti meningkatkan kepercayaan buyer dan mempercepat audit kepatuhan standar internasional (Shamsuzzoha et al., 2023).
4. Inklusi petambak kecil. Skema pembiayaan, asuransi panen, serta model kemitraan yang adil membantu petambak kecil mengakses teknologi dan menanggung biaya pencegahan awal yang tinggi.
Implikasi Manajerial dan Tata Kelola
Dalam perspektif manajemen, fokus investasi tidak lagi cukup pada input produksi (pakan, benur, atau aerasi), tetapi perlu diarahkan pula pada soft infrastructure: pelatihan sumber daya manusia, fasilitas uji kesehatan, dan integrasi sistem informasi. Di tingkat korporasi, penyusunan standar protokol biosekuriti dan traceability yang seragam antar mitra menjadi kunci menjaga konsistensi mutu.
Bagi pemerintah dan regulator, peran fasilitatif sangat menentukan. Subsidi laboratorium regional, insentif pajak bagi investasi traceability, serta regulasi biosekuriti minimum untuk akses pasar ekspor akan mempercepat adopsi standar global. Pendekatan ini bukan hanya soal teknologi, tetapi tata kelola yang transparan dan akuntabel.
Tantangan dan Peluang
Memang ada tantangan nyata. Struktur rantai pasok perikanan budidaya di banyak negara berkembang didominasi petambak mikro dan kecil yang rentan terhadap guncangan. Mereka sering kesulitan membiayai investasi awal untuk teknologi traceability maupun biosekuriti. Namun di sisi lain, momentum kebijakan global dan tekanan pasar menciptakan peluang kolaborasi publik-swasta untuk membangun skema pilot project dan pendanaan inovatif.
Dorongan Food and Agriculture Organization melalui laporan The State of World Fisheries and Aquaculture 2024 menegaskan pentingnya memperkuat ketahanan akuakultur sebagai penopang ketahanan pangan global, terutama di kawasan Asia yang menjadi produsen utama udang dan ikan air payau.
Membangun Ketahanan yang Berkelanjutan
Ketahanan tambak abad ke-21 tidak dapat lagi dipandang sebagai urusan teknis semata. Ia menuntut sinergi antara kesehatan hewan, ketangguhan sistem produksi, serta transparansi rantai pasok. Menanggapi wabah penyakit dan tuntutan traceability secara terpisah hanya akan melahirkan celah kerentanan baru. Sebaliknya, meresponsnya bersama - dengan investasi pada pencegahan, teknologi digital, dan inklusi ekonomi petambak kecil - akan memperkuat daya tahan industri udang nasional.
Di dunia dimana kepercayaan pasar dibuktikan melalui data dan ketertelusuran, kemampuan mendeteksi penyakit lebih dini dan menelusuri sumbernya secara cepat bukan lagi opsi tambahan, melainkan syarat mutlak keberlanjutan. Ketahanan tambak tidak lahir dari keberuntungan, tetapi dari tata kelola yang cerdas, transparan, dan berorientasi jangka panjang.

