Konten dari Pengguna
Nilai Yudhistira dan Sengkuni di Dunia Kerja
29 November 2025 7:00 WIB
·
waktu baca 5 menit
Kiriman Pengguna
Nilai Yudhistira dan Sengkuni di Dunia Kerja
Fenomena quiet quitting dan quiet firing tengah menyeruak di dunia kerja Indonesia, terutama sejak pandemi mengubah cara kita bekerja dan berinteraksi di tempat kerja.Sigit E Praptono
Tulisan dari Sigit E Praptono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Fenomena quiet quitting dan quiet firing tengah menyeruak di dunia kerja Indonesia, terutama sejak pandemi mengubah cara kita bekerja dan berinteraksi di tempat kerja. Dibalik istilah yang tampak halus itu, ada drama batin dan taktik organisasi yang tak kalah panas dari kisah Mahabharata. Dua tokoh wayang - Yudhistira dan Sengkuni - mewakili dua nilai yang kini bertarung dalam ekosistem kerja modern: keadilan, transparansi, dan integritas versus manipulasi, tekanan halus, dan permainan senyap yang mematikan motivasi.
Menghadirkan keduanya dalam analisis memberi perspektif kuat bahwa fenomena ini bukan sekadar isu HR, melainkan refleksi dari pertarungan nilai di tempat kerja yang semakin kompleks.
Yudhistira: Lambang Keadilan, Keseimbangan dan Manusiawi
Dalam dunia wayang, Yudhistira adalah personifikasi dharma, keadilan, kesetaraan, dan kebijaksanaan. Ia tidak menuntut di luar batas wajar, memahami kapasitas setiap prajuritnya, dan menjaga moral pasukannya tetap tinggi. Nilai-nilai ini merupakan antitesis utama dari penyebab meningkatnya quiet quitting di kalangan pekerja milenial dan Gen Z.
Riset Gallup (2024) mencatat bahwa engagement karyawan global turun menjadi 21%, angka terendah dalam satu dekade. Di AS, hanya 31% pekerja yang engaged, sementara proporsi manajer engaged hanya 27%, terutama kelompok usia muda. Temuan ini sejalan dengan laporan Microsoft Work Trend Index (2023) yang menunjukkan meningkatnya burnout akibat beban kerja yang melonjak, jam kerja yang lebih panjang, dan ketidakjelasan prioritas kerja setelah pandemi.
Fenomena ini juga tampak di Indonesia. Spirit kerja keras masih menjadi norma sejumlah perusahaan, tetapi ekspektasi generasi muda berubah drastis. Mereka menginginkan kejelasan peran, kompensasi yang sepadan, dan atasan yang hadir secara emosional, bukan sekadar pemberi instruksi.
Ketika nilai-nilai Yudhistira absen di manajemen - keadilan dalam beban kerja, transparansi dalam penilaian, penghargaan yang layak - karyawan terjebak dalam minimum effort mode. Inilah yang dikenal sebagai quiet quitting: bekerja hanya sebatas kontrak (tugas), meniadakan kelebihan usaha karena merasa tidak dihargai.
Riset menunjukkan pola serupa. Ratnawati et al. (2020) menemukan bahwa faktor-faktor psikologis seperti embeddedness memperkuat retensi dan mengurangi turnover intention, komponen yang melemah ketika atasan gagal memberikan dukungan atau keadilan. Studi Ariasari & Tjahjono (2024) dalam analisis scientometric mereka juga menunjukkan tren riset lima tahun terakhir yang menegaskan Work-Life Balance (WLB) sebagai determinan utama performa karyawan.
Dalam bahasa wayang, absennya nilai-nilai Yudhistira dalam kepemimpinan memicu karyawan melakukan tarik diri secara halus—sebuah bentuk perlawanan diam terhadap ketidakadilan struktural.
Sengkuni: Simbol Manipulasi, Pengurangan Dukungan, dan Taktik Quiet Firing
Jika Yudhistira mewakili terang, Sengkuni adalah bayangan kelam dunia kerja, intrik, tekanan halus, dan permainan licik yang tak terlihat namun mematikan. Di banyak organisasi, quiet firing dilakukan dengan pola serupa: bukan pemecatan langsung, tetapi membuat karyawan menyerah sendiri.
Strategi yang kerap muncul mencerminkan pola Sengkuni:
• mengurangi akses karyawan pada informasi penting,
• menahan promosi tanpa alasan jelas,
• memberikan target mustahil,
• mengisolasi pekerja dari tim,
• atau menurunkan dukungan supervisor hingga karyawan merasa tidak lagi diinginkan.
Lebih berbahaya lagi, praktik ini sering dibungkus sebagai 'penyesuaian', 'restrukturisasi', atau 'proses evaluasi berkala'. Padahal, pada intinya, perusahaan sedang mendorong karyawan keluar tanpa ingin menanggung konsekuensi hukum maupun reputasi.
Riset menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan beracun semacam ini merusak engagement. Penelitian Yasmin (2025) menunjukkan bahwa field leadership berpengaruh pada kinerja melalui peningkatan employee engagement. Artinya, ketika pemimpin hadir, mendukung, dan membimbing secara aktif - nilai Yudhistira - kinerja meningkat. Namun ketika pemimpin menjauh, menekan, atau membiarkan ketidakjelasan - nilai Sengkuni - karyawan tersingkir secara psikologis, sebelum akhirnya fisik.
Secara global, fenomena quiet firing naik tajam setelah pandemi. Survei SHRM (2024) menyebut 1 dari 3 karyawan pernah mengalami pengurangan dukungan atau isolasi tempat kerja yang berkaitan dengan upaya penyingkiran nonformal. Di Indonesia, kasus serupa banyak terjadi dalam perusahaan keluarga dan birokrasi yang masih menonjolkan gaya manajemen top-down.
Quiet firing membuat ruang kerja penuh ketidakpastian. Orang tak pernah tahu apakah masalahnya pada kinerja, atau sekadar karena dinamika kekuasaan dan intrik seperti yang dimainkan Sengkuni di istana Hastina.
Cermin Konflik Manajerial di Organisasi Modern
Jika kita melihat dunia kerja sebagai Bharatayudha versi modern, quiet quitting dan quiet firing adalah medan pertempuran antara dua nilai besar: integritas vs. manipulasi, kejelasan vs. ambiguitas, pendampingan vs. pembiaran, keadilan vs. tekanan senyap.
Seperti perang di Kurukshetra, konflik ini bukan tentang siapa yang lebih kuat, tetapi siapa yang lebih konsisten menjalankan nilai. Karyawan bukan sekadar sumber daya, tetapi bagian dari sistem yang merespons energi pemimpinnya.
Ketika manajemen mengedepankan nilai Yudhistira:
• peran jelas,
• beban kerja seimbang,
• dialog dua arah,
• dan penghargaan transparan,
karyawan cenderung tumbuh, terikat, dan memberikan kontribusi lebih.
Sebaliknya, ketika kultur organisasi dipengaruhi pola Sengkuni - informasi dirahasiakan, karyawan disudutkan, dan kepemimpinan bersifat intimidatif - muncullah kultur survival mode. Karyawan menarik diri, organisasi kehilangan talenta terbaik, dan reputasi perusahaan runtuh secara perlahan.
Arah Solusi: Menguatkan Nilai Yudhistira dalam Sistem Kerja
Fenomena quiet quitting dan quiet firing bukan sekadar masalah individu atau manajemen, tetapi sinyal bahwa organisasi membutuhkan rekalibrasi nilai. Jika perusahaan ingin keluar dari pusaran ini, ada beberapa langkah fundamental:
1. Kembalikan keadilan beban kerja
Gunakan prinsip JD-R (Job Demands–Resources) untuk menyeimbangkan tuntutan dengan sumber daya. Karyawan bukan kuda kerja tanpa batas.
2. Jadikan komunikasi dua arah sebagai standar
Atasan harus menjadi coach, bukan pengawas. Gallup (2024) menegaskan engagement meningkat ketika manajer melakukan check-in teratur.
3. Cegah gaya kepemimpinan ala Sengkuni
Isolasi, tekanan halus, dan manipulasi harus jadi zero tolerance policy.
4. Perkuat Work-Life Balance
Didukung riset Ariasari & Tjahjono (2024) yang menunjukkan WLB adalah variabel penting performa.
5. Bangun budaya psychological safety
Agar karyawan tidak merasa berbicara adalah risiko karier.
Yudhistira mengajarkan bahwa kepemimpinan adalah pelayanan. Sengkuni mengajarkan bahwa manipulasi hanya menghasilkan kemenangan sesaat, dan kekalahan abadi. Dunia kerja masa kini membutuhkan pemimpin yang berpihak pada keberlanjutan hubungan kerja, bukan kemenangan semu jangka pendek.
Penutup
Quiet quitting dan quiet firing mungkin tampak sebagai istilah baru, tetapi nilai di baliknya telah lama diperankan dua tokoh besar dunia wayang: Yudhistira dan Sengkuni. Satu menawarkan integritas, satu lagi intrik. Organisasi yang memilih nilai Yudhistira akan melahirkan loyalitas, kreativitas, dan keberlanjutan. Sebaliknya, organisasi yang membiarkan pola Sengkuni berkuasa akan menghadapi ketidakpastian, burnout, dan kehilangan talenta terbaiknya.
Pertanyaannya kini sederhana:
Di medan Kurukshetra bernama dunia kerja, organisasi Anda berdiri di sisi Yudhistira atau Sengkuni?

