Konten dari Pengguna

Pemimpin Lapangan: Energi Tersembunyi di Balik Keberhasilan Budidaya Perikanan

Sigit E Praptono
Praktisi Budidaya dan Pemerhati SDM Akuakultur
2 Oktober 2025 14:00 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Pemimpin Lapangan: Energi Tersembunyi di Balik Keberhasilan Budidaya Perikanan
Pemimpin lapangan: Energi tersembunyi di balik keberhasilan budidaya perikanan. Budidaya perikanan yang berdaya saing global hanya mungkin terwujud bila pemimpin lapangan berani dicetak. #userstory
Sigit E Praptono
Tulisan dari Sigit E Praptono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sumber: istockphoto
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: istockphoto
Di antara riuh mesin kincir, bau asin laut yang menempel di udara, dan riak air kolam yang menyimpan jutaan benur, sesungguhnya ada sosok yang menentukan nasib sebuah tambak. Ia bukan pemilik modal, bukan pula konsultan yang sibuk mengutak-atik laporan. Sosok itu adalah pemimpin lapangan, orang yang hadir setiap hari di garis depan, mengawasi kualitas air, menenangkan tim ketika plankton tiba-tiba "crash", hingga memutuskan kapan panen atau tindakan lain yang harus dilakukan.
Dalam wacana budidaya perikanan, perbincangan sering kali terjebak pada dua hal: teknologi dan modal. Kita sibuk membicarakan sensor kualitas air, formulasi pakan, atau kebijakan ekspor. Padahal, semua itu akan berakhir sia-sia jika tidak ada kepemimpinan yang tangguh di lapangan. Field leadership (kepemimpinan lapangan) adalah energi tersembunyi yang bisa menentukan keberhasilan atau kegagalan sebuah usaha budidaya.

Tantangan Kompleks di Balik Tambak

Sektor perikanan budidaya tengah menempati posisi strategis sebagai penyedia pangan dunia. FAO (2022) menegaskan, produksi akuakultur kini melampaui perikanan tangkap dan diproyeksikan terus tumbuh sebagai tulang punggung ketahanan pangan global.
Namun, pertumbuhan ini tidak bisa hanya ditopang oleh teknologi semata. Engle (2021) mengingatkan bahwa sektor akuakultur membutuhkan tenaga kerja yang tidak hanya terampil secara teknis, tetapi juga memiliki kapasitas kepemimpinan di semua level.
Realitas di lapangan menunjukkan betapa kompleksnya budidaya. Setiap hari pekerja tambak menghadapi variabel tak menentu: kualitas air yang fluktuatif, serangan penyakit, cuaca ekstrem, hingga volatilitas harga pasar. Dalam kondisi seperti ini, kepemimpinan yang hadir langsung di titik operasional menjadi vital. Field leader dituntut mengambil keputusan cepat, berani, sekaligus bijak, sering kali tanpa sempat menunggu instruksi dari manajemen pusat.
Pekerja menyortir ikan hasil tangkapan di tempat bongkar muat Pelabuhan Perikanan Samudera Nizam Zahman, Jakarta Utara, Kamis (8/8/2024). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Apa Itu Field Leadership?

Field leadership adalah kepemimpinan yang dijalankan di arena operasional sehari-hari. Ia bukan sekadar mengatur orang, melainkan menjadi jembatan antara strategi perusahaan dengan realita lapangan. Pemimpin lapangan adalah supervisor tambak yang mampu membaca tanda-tanda air "sakit", teknisi yang melatih tim muda mengoperasikan alat kerja dan kontrol pakan, atau koordinator kolam yang berani memutuskan panen lebih cepat ketika survival rate menurun.
Karakter penting seorang field leader terdiri dari pengambilan keputusan cepat dalam situasi krisis, komunikasi efektif untuk menyampaikan arahan manajemen kepada pekerja tambak, sekaligus menyuarakan aspirasi tim ke atas, kemampuan melatih (coaching)untuk memastikan pengetahuan tidak berhenti pada satu orang saja, dan kecerdasan emosional serta empati karena menjaga moral tim sama pentingnya dengan menjaga kualitas air.

Mengapa Leadership Development Penting?

Kepemimpinan bukanlah bakat yang muncul begitu saja; ia bisa dilatih dan dikembangkan. Sayangnya, pengembangan kepemimpinan dalam sektor budidaya sering kali hanya berhenti di level manajerial atas. Padahal, tanpa pipeline kepemimpinan yang menyentuh lapangan, keberlanjutan usaha akan rapuh.
Partelow (2023) menekankan, transformasi keberlanjutan di akuakultur membutuhkan arena keterlibatan yang luas, termasuk penguatan kapasitas lokal. Dengan kata lain, mencetak pemimpin lapangan bukan hanya kepentingan perusahaan, melainkan agenda pembangunan sektor perikanan secara keseluruhan.
Golden (2024) bahkan menyoroti pentingnya kapasitas adaptif organisasi perikanan menghadapi perubahan iklim. Kapasitas itu bukan lahir dari rapat strategi di kantor, melainkan dari kemampuan pemimpin lapangan beradaptasi di kolam, memutuskan, menyesuaikan, dan memimpin tim dalam situasi tak terduga.
Ilustrasi Pemimpin Perempuan. Foto: aslysun/Shuttterstock

Tantangan dalam Mencetak Pemimpin Lapangan

Mengembangkan kepemimpinan di level operasional tentu tidak mudah. Ada beberapa kendala yang kerap ditemui. Pertama, budaya hierarkis: pemimpin dianggap hanya mereka yang duduk di kantor, bukan yang berkubang lumpur di tambak. Kedua, kurangnya pelatihan kontekstual: banyak program kepemimpinan masih terlalu generik, tidak menyentuh problematika khas tambak.
Kemudian, kesenjangan generasi. Generasi muda yang melek teknologi sering enggan terjun ke pekerjaan lapangan. Terakhir, tekanan operasional. Target panen, risiko gagal, dan jam kerja panjang sering membuat pemimpin lapangan bekerja di bawah tekanan berat tanpa dukungan memadai.

Strategi dan Jalan Keluar

Untuk menjawab tantangan tersebut, ada beberapa langkah yang dapat diambil. Langkah pertama, pelatihan berbasis kasus nyata. Program leadership development harus menggunakan simulasi persoalan tambak: dari crash plankton, biosekuriti, hingga pengelolaan IPAL. Langkah kedua, mentoring dan coaching. Supervisor senior mendampingi staf muda dan memastikan transfer pengetahuan berjalan efektif.
Selanjutnya empowerment. Berikan ruang bagi pemimpin lapangan mengambil keputusan taktis tanpa harus selalu menunggu 'atasan'. Kemudian, pemanfaatan teknologi digital. Field leader perlu dibekali literasi digital agar mampu memanfaatkan sensor kualitas air dan aplikasi monitoring dalam pengambilan keputusan. Terakhir, reward system yang adil. Apresiasi kinerja pemimpin lapangan, bukan hanya melalui angka produksi, melainkan juga keberhasilan menjaga moral tim dan retensi karyawan.

Implikasi Jangka Panjang

Investasi pada kepemimpinan lapangan akan menghasilkan dampak luas. Pertama, produktivitas dan kualitas panen meningkat. Kedua, kesalahan operasional menurun. Selanjutnya, turnover karyawan berkurang karena moral dan engagement lebih tinggi. Terakhir, organisasi lebih adaptif menghadapi guncangan, baik dari pasar maupun lingkungan.
Foto udara di tambak budidaya udang berbasis kawasan (BUBK) milik Kementerian Kelautan dan Perikanan di Kebumen, Jawa Tengah. Foto: Dok. KKP
Dengan demikian, field leadership bukan hanya urusan internal perusahaan. Ia adalah pilar ketahanan sektor budidaya nasional. Tanpa pemimpin lapangan yang visioner, usaha perikanan akan terus terjebak dalam lingkaran masalah klasik: produksi naik-turun, tenaga kerja cepat lelah, dan perusahaan rawan goyah.

Seruan untuk Menatap Lapangan

Masa depan budidaya perikanan Indonesia tidak akan ditentukan semata oleh kualitas pakan atau benih unggul. Faktor penentu sejatinya adalah kualitas manusia, khususnya mereka yang memimpin di lapangan.
Sudah saatnya kita menempatkan pengembangan kepemimpinan lapangan sebagai investasi strategis, setara dengan infrastruktur dan modal kerja. Pemerintah dapat memasukkan modul kepemimpinan dalam program pelatihan teknis perikanan, sementara perusahaan perlu menyusun sistem kaderisasi yang serius.
Karena pada akhirnya, teknologi dan modal hanya sejauh tangan yang mengoperasikannya dan tangan itu butuh kepala yang mampu memimpin dengan bijak, hati yang memahami tim, serta mata yang awas terhadap tanda-tanda perubahan di kolam.
Budidaya perikanan yang berdaya saing global hanya mungkin terwujud bila kita berani mencetak lebih banyak pemimpin lapangan. Mereka yang diam-diam menjadi energi tersembunyi di balik setiap panen sukses.
Trending Now