Konten dari Pengguna
Restorative Aquaculture: Ketika Budidaya Laut Ikut Memulihkan Habitat
3 Oktober 2025 22:00 WIB
·
waktu baca 5 menit
Kiriman Pengguna
Restorative Aquaculture: Ketika Budidaya Laut Ikut Memulihkan Habitat
Degradasi habitat pesisir terus terjadi: terumbu karang memutih, padang lamun hilang, hingga hutan rumput laut alami menyusut drastis. Situasi ini menekan stok ikan, memperburuk kualitas air.Sigit E Praptono
Tulisan dari Sigit E Praptono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Laut bukan sekadar ruang produksi pangan. Ia adalah rumah bagi miliaran organisme, penyangga iklim, sekaligus benteng pertahanan alami pesisir. Namun, degradasi habitat pesisir terus terjadi: terumbu karang memutih, padang lamun hilang, hingga hutan rumput laut alami menyusut drastis. Situasi ini menekan stok ikan, memperburuk kualitas air, dan melemahkan ketahanan ekologi pesisir.
Di tengah tantangan itu, sebuah paradigma baru muncul: restorative aquaculture. Bukan hanya memanen hasil laut, tetapi juga menanam kembali kehidupan di laut. Konsep ini menekankan bahwa budidaya bisa berfungsi ganda, memproduksi komoditas sekaligus memulihkan ekosistem, dari oyster reef, padang lamun (seagrass), hingga hutan kelp (seaweed).
Habitat yang Hilang, Layanan Ekosistem yang Berkurang
Oyster reef, lamun, dan hutan kelp dikenal sebagai 'arsitektur alami' lautan. Oyster reef mampu menyaring air secara masif, satu individu tiram bisa memfilter lebih dari 100 liter air per hari (Smith, 2024). Dengan itu, kekeruhan menurun, kadar nutrien lebih terkendali, dan ekosistem pesisir menjadi lebih stabil. Reef juga menjadi rumah bagi berbagai ikan komersial, udang, hingga kepiting.
Padang lamun tak kalah penting. Ia menyimpan karbon biru, menstabilkan sedimen, dan menyediakan 'nursery ground' bagi anakan ikan. Namun, penelitian menunjukkan lebih dari 30% padang lamun dunia hilang akibat pembangunan pesisir, eutrofikasi, dan perubahan iklim (Ruiz-Diaz et al., 2024).
Sementara itu, hutan kelp--'hutan hujan laut'--menyerap nutrien berlebih seperti nitrogen dan fosfor, yang kerap menjadi polutan dari aktivitas manusia. Penelitian terbaru menegaskan bahwa budidaya rumput laut (seaweed farming) tidak hanya menghasilkan pangan dan biomaterial, tetapi juga berfungsi sebagai penyerap nutrien (nutrient sink) dan habitat struktural (Fricke et al., 2024).
Produksi ke Restorasi: Model Budidaya yang Memperbaiki
Restorative aquaculture memadukan antara praktik budidaya dengan tujuan ekologi. Ada beberapa bentuk yang kini berkembang:
1. Oyster Farming yang Berpadu dengan Restorasi Reef
Unit budidaya tiram dapat dirancang untuk sekaligus menjadi substrat bagi pertumbuhan reef alami. Substrat batu atau cangkang bekas dapat memperkuat struktur reef dan menampung generasi tiram baru. Menurut Bishop et al. (2023), kombinasi antara budidaya tiram dan restorasi mampu meningkatkan kejernihan air sekaligus memperkaya habitat ikan demersal.
2. Restorasi Lamun dengan Dukungan Budidaya
Program outplanting lamun di banyak negara kerap gagal karena skala dan biaya. Namun, penelitian Ruiz-Diaz et al. (2024) menunjukkan bahwa integrasi metode budidaya, misalnya melalui pembibitan lamun secara massal, dapat meningkatkan keberhasilan restorasi. Beberapa tambak bahkan mulai mengembangkan model 'seagrass nursery' untuk mendukung rehabilitasi kawasan pesisir.
3. Kelp Farms sebagai Penyerap Nutrien
Budidaya rumput laut, terutama dalam skema Integrated Multi-Trophic Aquaculture (IMTA), berfungsi sebagai 'biofilter' yang menyerap nitrogen dari buangan tambak ikan atau udang. Selain mengurangi polusi, struktur kelp juga memberi ruang berlindung bagi ikan-ikan kecil. Studi Forbes (2022) mencatat bahwa meskipun komunitas yang terbentuk di farm tidak identik dengan hutan kelp alami, ia tetap menambah kompleksitas habitat laut.
Manfaat Ganda: Produksi dan Jaga Ekosistem
Mengapa restorative aquaculture patut dipertimbangkan? Pertama, karena manfaat ekologinya nyata dan terukur. Di wilayah dengan reef tiram aktif, kadar nitrogen terlarut bisa turun hingga 40%, sementara kejernihan air meningkat signifikan (Smith, 2024). Di lokasi lain, padang lamun yang dipulihkan terbukti menyimpan karbon biru lebih tinggi dibanding area terdegradasi (Ruiz-Diaz et al., 2024).
Kedua, ada manfaat sosial-ekonomi. Produksi tiram, rumput laut, dan hasil sampingan lain tetap bernilai komersial. Sistem IMTA, misalnya, tidak hanya memperbaiki kualitas air, tetapi juga menambah diversifikasi pendapatan petani laut (Tabrett, 2024).
Ketiga, restorative aquaculture memberi co-benefit berupa perlindungan pantai. Struktur oyster reef dapat meredam gelombang dan mengurangi erosi, sementara padang lamun memperkuat sedimen di dasar laut. Dalam konteks perubahan iklim dan naiknya permukaan laut, layanan ekosistem ini sangat vital.
Tantangan Implementasi
Meski potensinya besar, restorative aquaculture bukan tanpa hambatan.
Jalan ke Depan: Dari Tambak ke Kebijakan
Indonesia, dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia, memiliki peluang besar menjadi pionir restorative aquaculture. Bayangkan, jika sebagian tambak atau unit budidaya laut diintegrasikan dengan padang lamun buatan atau reef tiram, maka hasilnya bukan sekadar udang atau rumput laut, tetapi juga kualitas air yang lebih bersih, keanekaragaman hayati lebih kaya, dan karbon biru yang tersimpan lebih banyak.
Untuk itu, diperlukan tiga langkah strategis:
1. Integrasi restorasi ke dalam rencana produksi: setiap unit budidaya harus dilihat tidak hanya dari segi output pangan, tetapi juga output ekosistem.
2. Zonasi pesisir berbasis ekosistem: area dengan beban nutrien tinggi dapat menjadi lokasi farm rumput laut, sementara area berlumpur cocok untuk restorasi lamun.
3. Inovasi pembiayaan: dukungan melalui sertifikasi 'restorative seafood', skema pasar karbon, hingga subsidi bagi usaha yang terbukti memberikan manfaat ekosistem.
Penutup
Restorative aquaculture adalah peluang untuk meredefinisi hubungan manusia dengan laut. Ia bukan sekadar soal produktivitas, tetapi juga soal tanggung jawab: bagaimana menghasilkan pangan tanpa mengorbankan rumah bersama, bahkan ikut memperbaikinya.
Jika oyster reef kembali tumbuh, lamun kembali menghijau, dan kelp bergoyang di bawah arus, maka kita tidak hanya memanen hasil laut. Kita juga sedang menanam kembali kehidupan di laut. Sebuah investasi ekologis yang nilainya jauh melampaui keuntungan jangka pendek, karena lautan yang sehat adalah fondasi ekonomi, budaya, dan keberlanjutan kita semua.

