Konten dari Pengguna
Udang Tersandera Sertifikasi: Dampak pada Tambak dan Tenaga Kerja
4 November 2025 16:00 WIB
·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Udang Tersandera Sertifikasi: Dampak pada Tambak dan Tenaga Kerja
Ada kecemasan yang membelit: udang yang siap panen belum tentu bisa dijual.Sigit E Praptono
Tulisan dari Sigit E Praptono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Kincir tambak masih berputar semalaman. Benur tetap ditebar. Petambak tetap memberi pakan beberapa kali sehari. Budidaya udang tidak berhenti. Namun dibalik aktivitas itu, ada kecemasan yang membelit: udang yang siap panen belum tentu bisa dijual. Bukan karena wabah penyakit atau cuaca ekstrem, melainkan karena regulasi ekspor baru setelah ditemukannya isotop radioaktif Cesium-137 (Cs-137) pada produk udang beku asal Indonesia oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) pada Agustus 2025.
Jejak Cs-137 sebesar 68 becquerel per kilogram memang masih jauh di bawah ambang batas aman internasional, yaitu 1.200 Bq/kg menurut Codex Alimentarius. Namun temuan itu cukup membuat FDA menerapkan kebijakan import certification sejak 31 Oktober 2025. Artinya, seluruh udang asal Indonesia wajib diuji menggunakan alat deteksi radioaktif sebelum masuk pasar Amerika Serikat (FDA, 2025).
Masalahnya, menurut laporan Shrimp Club Indonesia (SCI, 2025), Indonesia hanya memiliki dua alat RIID (Radiation Isotope Identifier Device) yang aktif, sementara laboratorium BRIN hanya mampu menguji satu sampel setiap 5–10 hari. Ketika produksi harian terus berlangsung, jalur pengujian ini menjadi sempit seperti leher botol. Dari tambak hingga pelabuhan, sistem tersendat.
Tambak Tidak Berhenti, Tapi Biaya Membengkak
Dampak paling nyata terjadi di kolam. Petambak tidak bisa menghentikan siklus pemeliharaan hanya karena kebijakan ekspor berubah. Udang yang sudah memasuki umur panen, 100 hingga 110 hari, harus tetap diberi pakan. Aerator tetap menyala 24 jam. Pekerja tetap berjaga malam untuk mengontrol air dan kadar oksigen.
Penundaan panen berarti biaya operasional harian meningkat (baca: membengkak). FAO (2022) mencatat bahwa pakan menyumbang hingga 60-70 persen biaya produksi tambak intensif. Jika panen tertunda seminggu saja, tambahan biaya pakan bisa meningkat 5–10 persen. Selain itu, semakin lama udang dipelihara, semakin tinggi risiko penurunan kualitas air karena akumulasi amonia dan nitrit. Udang bisa stres, nafsu makan menurun, bahkan mati mendadak bila terjadi plankton crash.
Mutu hasil panen juga menjadi taruhan. Udang yang dipanen terlambat cenderung (berpotensi) memiliki tekstur lebih lembek, kandungan air yang lebih tinggi, dan rentan kerusakan pasca panen (FAO, 2022). Artinya, ketika akhirnya diekspor, harganya bisa dipotong.
Dampak Tidak Langsung: Harga Turun, Siklus Tebar Terganggu
Ketika ekspor tertahan, sebagian udang dipaksa masuk pasar lokal. Akibatnya, terjadi oversupply. Harga udang vaname ukuran 100 ekor/kg yang biasanya dijual Rp50.000–55.000 bisa turun menjadi Rp40.000–45.000 per kilogram di beberapa sentra tambak (SCI, 2025).
Tambak kecil paling terdampak. Mereka tidak memiliki cold storage untuk menahan panen. Tidak ada akses ke laboratorium, tidak punya modal untuk menunda jual. Beberapa bahkan terpaksa menjual di bawah harga pokok produksi hanya untuk menutup biaya pakan.
Dalam jangka lebih panjang, dampak lain muncul: banyak petambak menunda tebar benur untuk siklus berikutnya. Penelitian Saputra et al. (2024) menyebutkan, jika satu siklus panen terganggu, tambak kecil rentan berhenti produksi secara permanen.
Tekanan di Punggung Pekerja Tambak
Dibalik angka produksi, ada pekerja tambak yang menjaga udang setiap hari, mulai dari anak kolam, teknisi air, mandor lapangan, hingga pengontrol kualitas air. Mereka adalah penopang utama budidaya.
Dalam jangka pendek:
• Panen tertunda berarti pekerjaan bertambah. Mereka harus memberi pakan lebih lama, mengecek ketinggian air, memperbaiki kincir, dan berjaga malam agar listrik tidak padam.
• Upah berbasis panen ikut tertunda. Beberapa hanya menerima gaji pokok tanpa bonus.
• Tekanan psikologis meningkat. Udang sudah besar, tetapi tidak bisa dijual. Anak kolam ikut cemas, meski mereka tidak memahami detail isu radioaktif.
Penelitian Hadiyanto et al. (2023) mencatat, ketidakpastian hasil panen dan pemasaran adalah penyebab stres kerja tertinggi di sektor budidaya udang.
Dalam jangka panjang:
• Tambak yang menunda siklus produksi bisa mengurangi jumlah pekerja.
• Generasi muda semakin enggan bekerja di tambak karena dinilai tidak stabil dan penuh risiko.
• Hanya tambak modern yang mulai melatih pekerjanya untuk memenuhi standar biosekuriti dan traceability ekspor. Tambak kecil tertinggal, kualitas SDM stagnan.
Dampak Sistemik: Dari Kolam ke Masa Depan Desa Pesisir
Dampak ini tidak hanya dirasakan oleh pemilik tambak dan pekerjanya. Ekonomi pesisir pun ikut melambat. Penjualan pakan berkurang, bengkel dinamo sepi pesanan, penyedia tenaga listrik genset ikut kehilangan pemasukan. Bahkan warung kopi di tepi tambak ikut lengang karena kantong kosong sehingga enggan untuk nongkrong.
Narasinya sederhana, tetapi mengkhawatirkan: budidaya udang masih jalan, tapi nyaris minim jalan keluar.
Ini Saatnya Memilih-Tumbuh atau Tumbang
Krisis Cs-137 bukan soal radiasi semata. Ini tentang kesiapan sistem budidaya kita menghadapi standar global. Jika negara tidak mempercepat penyediaan alat uji radioaktif, memperbanyak laboratorium, melindungi tambak kecil, dan memastikan pekerja tambak tidak menjadi korban, maka yang paling dulu tumbang bukanlah ekspor, tetapi ekosistem tambak dan manusia di dalamnya.
Namun jika krisis ini dijadikan peluang, Indonesia justru bisa membangun ekosistem tambak yang lebih kuat: terlacak, higienis, ramah lingkungan, dan menghargai manusia dibalik lumpur tambak.
Karena menjaga udang tetap aman di mata dunia bukan hanya soal lolos sertifikasi. Ini soal memastikan kincir terus berputar, tambak tetap hidup, dan pekerjanya tetap bermartabat.

