Konten dari Pengguna
Gen Alpha: Anak Masa Kini yang "Lebay", Sensitif, dan Butuh Pembelajaran Seru
14 Agustus 2025 11:57 WIB
·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Gen Alpha: Anak Masa Kini yang "Lebay", Sensitif, dan Butuh Pembelajaran Seru
Gen Alpha yang lahir dan tumbuh di era internet sudah melek teknologi sejak dini. Inilah yang membuat mereka mudah "bosan" dengan metode belajar konvensional. #userstorySigit Wiryawan Triwibowo
Tulisan dari Sigit Wiryawan Triwibowo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Generasi Alpha adalah anak-anak yang lahir sejak tahun 2010-an, tumbuh di era smartphone dan internet. Mereka sangat melek teknologi sejak dini. Kebiasaan ini membuat Gen Alpha lebih nyaman belajar melalui gadget, video, dan konten visual interaktif, bukan hanya dari buku atau ceramah guru.
Akibatnya, sering muncul keluhan mereka cepat bosan atau capek saat belajar dengan cara tradisional bahkan ada yang menyebut mereka agak “lebay”. Faktanya, Gen Alpha memang mudah bosan dengan metode konvensional, misalnya hanya mendengarkan ceramah panjang, karena mereka sangat responsif terhadap media belajar berbasis teknologi dan visual
Ciri khas lainnya, Gen Alpha mudah terganggu dan lelah akibat rangsangan digital yang berlimpah. Penelitian menunjukkan mereka rentan stres mental sejak dini dan memang sulit fokus lama karena terlalu banyak stimulasi
Oleh sebab itu, agar mereka bisa belajar efektif, pembelajarannya harus dibuat menyenangkan dan tidak monoton. Kepala sekolah SD Dharma Karya UT, misalnya, menegaskan bahwa “Generasi Z dan Alpha butuh pembelajaran yang tidak membosankan dan langsung bisa mereka praktikkan.”
Artinya, materi pelajaran perlu dikemas secara kreatif dan aplikatif, bukan hanya teori kering–misalnya melalui mini-proyek di mana siswa membuat karya nyata sesuai materi
Para guru pun berinovasi dengan memanfaatkan teknologi digital agar kelas lebih hidup. Penggunaan aplikasi edukasi interaktif, video pembelajaran, kuis online, dan game edukatif dapat memperkaya pengalaman belajar Gen Alpha
Misalnya, banyak sekolah sekarang memakai Kahoot untuk kuis atau platform seperti Quizizz yang terasa seperti permainan. Metode seperti ini terbukti membuat siswa lebih antusias karena proses belajar terasa seperti bermain
Pendekatan berbasis proyek juga krusial. Gen Alpha cenderung aktif dan kreatif, sehingga tugas-tugas berbentuk proyek (baik individu maupun kelompok) membuat mereka terlibat langsung dan mengembangkan keterampilan kritis serta kreatif
Semua strategi ini sejalan dengan rekomendasi pendidikan modern agar pembelajaran Gen Alpha dipersonalisasi, kolaboratif, dan kaya teknologi
Contoh Cara Membuat Belajar Menarik untuk Gen Alpha:
Game Edukatif
Memasukkan elemen permainan dalam pembelajaran membuatnya lebih menyenangkan dan menantang Misalnya, kuis lomba antar tim, simulasi interaktif di komputer, atau board game edukasi dapat mengubah materi kering menjadi pengalaman seru.
Cerita Bergambar & Digital
Belajar lewat cerita bergambar, animasi, atau video pendek membuat konten lebih visual dan mudah dicerna. Metode bercerita digital – dengan aplikasi interaktif, animasi, atau e-book – memungkinkan anak Gen Alpha belajar sambil menonton visual menarik
Guru-guru dapat menggunakan cerita interaktif dengan gambar dan boneka untuk merangsang imajinasi. Pendekatan ini terbukti membuat pembelajaran lebih menyenangkan dan bermakna
Proyek Nyata
Alih-alih tugas hafalan, beri mereka proyek konkret. Misalnya, saat belajar sains, siswa bisa membuat mini-kebun sekolah atau eksperimen sederhana. Gen Alpha lebih suka belajar lewat kegiatan langsung, dari perencanaan hingga pelaporan hasil
Hal ini juga mengaitkan pelajaran dengan dunia nyata.
Interaktif dan Humoris
Libatkan siswa secara aktif dengan diskusi, kuis cepat, atau bermain peran. Guru bisa memasukkan humor ringan, meme, atau video lucu sesuai materi agar suasana kelas rileks. Bahkan teknik cerita bergambar interaktif yang disertai lagu atau gerakan terbukti membuat belajar jadi lebih asyik dan tidak membosankan
Misalnya, menyanyikan lagu pendek untuk menghafal istilah atau bermain peran kecil (role-play) saat berdiskusi cerita.
Dengan metode-metode seru seperti di atas, belajar tidak jadi beban bagi anak Gen Alpha. Mereka bisa aktif, kreatif, dan tetap fokus karena prosesnya variatif dan relevan. Singkatnya, rahasianya adalah membuat kelas terasa seperti edutainment–pendidikan sekaligus hiburan. Selain menguatkan pemahaman materi, pendekatan ini juga membantu Gen Alpha berkembang menjadi individu yang cerdas, percaya diri, dan siap menghadapi tantangan zaman.

