Konten dari Pengguna

Warna-warna Pandemi: Catatan Seorang Diplomat di Beijing

silviayang
Sesdilu 79. Suka baca buku dan makan.
20 Oktober 2025 11:30 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Warna-warna Pandemi: Catatan Seorang Diplomat di Beijing
Pengalaman penugasan diplomat Indonesia di Beijing pada masa pandemi.
silviayang
Tulisan dari silviayang tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pos pemeriksaan tes PCR gratis di Beijing. Foto koleksi pribadi.
zoom-in-whitePerbesar
Pos pemeriksaan tes PCR gratis di Beijing. Foto koleksi pribadi.
Maret 2021. Setelah sempat tertunda hampir dua bulan, saya akhirnya memegang tiket di tangan untuk berangkat penempatan ke Beijing sebagai diplomat. Tapi perjalanan menuju Beijing waktu itu jauh dari kata sederhana. Pandemi COVID-19 membuat semua terasa lebih lambat- dan penuh kejutan.
Sebelum diizinkan berangkat, saya harus menjalani tes PCR dan tes darah dari rumah sakit yang ditunjuk. Hasil tes PCR saya negatif, namun antibodi justru tinggi. Akibatnya Kedutaan Besar Tiongkok di Jakarta belum memberikan izin untuk terbang. Hal ini karena antibodi tinggi dianggap baru saja terpapar oleh virus, atau belum pulih total dari virus. Alhasil, saya menunggu beberapa minggu dahulu dan mengulang tes. Akhirnya pada tes yang ketiga dan setelah saya vaksinasi COVID-19, antibodi tinggi saya dianggap normal. Barulah lampu hijau diberikan.
Masalah lain yang muncul adalah ketersedian tiket. Penerbangan langsung ke Beijing saat itu ditutup, sehingga saya memutuskan terbang dahulu dari Jakarta ke Shenzhen. Harga tiket kala itu juga naik jauh di atas harga normal - dari yang biasanya sekitar Rp 4 juta untuk one way ticket, menjadi nyaris Rp 20 juta. Setelah proses tes PCR yang panjang, saat itu saya hanya ingin segera berangkat.
Begitu pesawat mendarat di Shenzhen, suasana bandara terasa seperti adegan film pandemi. Penumpang belum boleh beranjak dari kursi. Seorang petugas dengan APD lengkap masuk ke dalam pesawat, mendekati kursi tempat saya duduk, kemudian menanyakan nama saya. Ia meminta saya mengikutinya ke ruang pemeriksaan tambahan, lalu mengantar saya ke bus yang akan berangkat ke hotel karantina. Anehnya, di dalam bus itu hanya saya seorang diri.
Setibanya di hotel pun, suasanya sangat berbeda dari bayangan saya. Tidak ada satu pun petugas hotel berseragam yang membantu membawakan koper atau menyambut di lobi. Hanya ada satu orang pria, lagi-lagi lengkap dengan pakaian APD, datang dan menyemprotkan disinfektan ke koper dan tubuh saya.
Durasi karantina pun tidak main-main. Saya tidak boleh meninggalkan kamar hotel selama tiga minggu penuh. Setiap hari, suhu tubuh diperiksa dua kali dan makanan ditaruh di depan pintu. Tidak ada interaksi langsung dengan siapa pun. Hari-hari terasa panjang. Waktu saya habiskan dengan senam di dalam kamar, belajar Mandarin, merajut dan menggambar.
Tahun 2022 menjadi bab tersendiri. Ketika kasus COVID-19 kembali meningkat, banyak kompleks apartemen yang dilockdown. Masyarakat juga diwajibkan untuk tes PCR dua hari sekali di pos terdekat tempat tinggalnya. Tes PCR diberikan gratis dan hasilnya akan terintegrasi ke aplikasi Beijing Health Kit tiap individu. Jika seseorang tidak PCR rutin, Beijing Health Kit miliknya akan menjadi warna merah, dan orang tersebut tidak dapat masuk ke tempat-tempat umum dan menggunakan transportasi publik. Masyarakat lokal juga melakukan panic buying karena tidak ada yang tahu berapa lama lockdown berlangsung.
Tempat saya tinggal juga akhirnya ikut di-lockdown karena ada satu penghuni yang dinyatakan positif. Pintu dijaga petugas 24 jam. Pengelola komplek mengirimkan alat tes PCR mandiri dan paket sayuran segar ke semua unit, cukup untuk beberapa hari. Dari jendela, saya bisa melihat Beijing yang biasanya sibuk berubah menjadi kota yang benar-benar hening.
Paket sayuran yang dikirim oleh pengelola komplek ke apartemen penulis. Foto koleksi pribadi
Suasana lockdown di apartemen penulis. Foto koleksi pribadi.
Beberapa bulan kemudian, saya menghadiri suatu forum di Shanghai. Kegiatan berjalan lancar, namun kejadian tak terduga datang saat saya sudah di bandara, hendak kembali ke Beijing. Aplikasi Beijing Health Kit saya tiba-tiba berubah berwarna merah. Padahal hasil tes PCR saya di Shanghai negatif, tapi tetap saja, warna merah berarti dilarang masuk ke Beijing. Setelah ditelusuri, penyebabnya ternyata di dekat hotel tempat saya tinggal di Shanghai baru saja ditemukan satu kasus baru. Akibatnya, saya harus menunggu beberapa hari di Shanghai sampai aplikasi Beijing Health Kit saya kembali berwarna hijau. Rasanya memang aneh terjebak oleh sistem yang begitu ketat.
Di tengah rutinitas kerja, tantangan lain datang pada saat kunjungan pejabat dari Indonesia ke Tiongkok. Begitu rombongan delegasi kembali ke Indonesia, semua staf KBRI yang ikut mendampingi wajib menjalani karantina lagi hingga dua minggu walaupun tidak terinfeksi virus COVID-19.
Kini, ketika saya mengingat kembali semua itu, rasanya seperti potongan kisah dari masa yang jauh — tapi begitu nyata. Pandemi di Tiongkok mengajarkan saya banyak hal. Tentang disiplin, tentang menerima keterbatasan, dan terutama tentang menghargai kebebasan kecil yang dulu terasa biasa — seperti berjalan di udara bebas tanpa masker, atau sekadar memindai ponsel tanpa cemas. Kini, setiap kali melihat kembali masa itu, saya hanya berpikir: betapa luar biasa cara dunia berubah, dan betapa cepat manusia bisa beradaptasi.
Trending Now