Konten dari Pengguna
Dari Mimpi Ke Pedalaman Hingga Menjadi Dosen Fakultas Kedokteran Baru
19 Desember 2025 8:05 WIB
Β·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Dari Mimpi Ke Pedalaman Hingga Menjadi Dosen Fakultas Kedokteran Baru
"Fakultas Kedokteran dan Kesehatan ITS memiliki peluang besar dibandingkan FK lain yang baru berdiri. Teknologi Sebagai keunggulan yang mengiringi Kedokteran"Sonny Fadli
Tulisan dari Sonny Fadli tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Tulisan ini adalah seri perjalanan hidup, kisah bagaimana perjalanan saya menjadi seorang dosen di fakultas kedokteran yang beru berdiri. Jadi begini, saat saya lulus sebagai dokter di Fakultas Kedokteran universitas Airlangga, saya tidak pernah berpikir ke depan akan menjadi dosen. Ya, setelah lulus dokter, saya tidak langsung mengambil pendidikan S2 atau spesialis melainkan bekerja sebagai dokter di Pedalaman Papua tahun 2013-2015.
Selama dua tahun di hutan Papua. Di tengah cengkrama dengan pace mace naudetom, boleba, babak, bubak, sodat, dadat, iwanggin saya membangun imajinasi untuk kembali ke Surabaya sekolah spesialis. Saya mulai membaca buku satu per satu yang saya bawa dari surabaya sebagai bekal mengikuti seleksi penerimaan program pendidikan dokter spesialis dengan mengambil keahlian spesialis obstetri dan ginekologi. Mimpi saya adalah kembali ke Papua, mengabdi untuk pace-mace di Kabupaten Mamberamo Raya sangat membanggakan dan menyenangkan.

Selama pendidikan spesialis saya bertemu dengan istri yang notabene teman seangkatan. Kami menikah setelah dinyatakan lulus sebagai dokter spesialis obstetri dan ginekologi. Tujuan pengabdian berbelok dari Papua ke Kepulauan Anambas, Kepulauan Riau. Saya tidak mungkin mengajak istri ke Papua karena terkadang saya menjumpai pengalaman yang tidak terduka, seperti saya pernah dikerjar oknum aparat mabuk dengan memakai AK-47. Namun, ketika kami sampai di Kepulauan Anambas, di sana kondisinya hampir sama dengan Papua, masalah kesehatan yang dihadapi kesulitan merujuk, obat yang kurang ternyata tidak hanya terjadi di papua. Syukurlah kami bisa mendapatkan tempat yang setera, masyarakat yang sama-sama membutuhkan pelayanan kesehatan.
Saya mulai realistis, tidak mungkin saya mengajak istri yang baru menikah untuk ke Papua, pedalama lain secara terus menerus dengan berbagai alasan yang mungkin akan kami ulas detail di sesi tulisan lain. Saya mempunyai pemikiran, untuk meneruskan perjuangan saya mengabdi ke Papua hanya dengan menjadi seorang dosen. Mengapa demikian?karena dengan saya menjadi dosen, saya bisa ikut berkontribusi dalam memberikan dorongan semangat kepada calon dokter untuk sebanyak-banyaknya mau mengabdi ke Pedalaman Indonesia.
Saya mencoba berkomunikasi dengan dosen saya di Departemen Obstetri dan Ginekologi di FK Unair untuk peluang menjadi dosen, saya pun mendaftar. Namun, beberapa bulan kemudian muncul informasi di media sosial terkait penerimaan dosen di Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Institut Teknologi Sepuluh Nopember.
Saya yang kebetulan saat itu juga sebagai mahasiswa Startup Teknologi Sepuluh Nopember memutuskan untuk ikut seleksi penerimaan dosen. Setelah mengikuti beberapa tahap proses seleksi, saya pun menjadi satu di antara dosen yang beruntung menjadi dosen di Prodi Pendidikan Profesi Dokter, Fakultas Kedokteran dan Kesehatan(FKK) ITS.
Saya melihat di beberapa grup whatsapp beberaa meragukan apakah benar ITS bisa membangun Fakultas Kedokteran. Wajar saja, karena ITs terkenal dengan Kampus Teknologi, sedangkan kedokteran sangat jauh berbeda dan mungkin lebih kompleks. "Apakah ITS tidak fokus saja di bidang teknologi, apakah ini hanya untuk capital flight, apakah SDM ITS mampu?"Namun, ada juga pendapat yang berisi harapan, bahkan salah satu guru panutan saya menyampaikan "Fakultas Kedokteran dan Kesehatan ITS memiliki peluang besar dibandingkan FK lain yang baru berdiri. Teknologi Sebagai keunggulan yang mengiringi Kedokteran. ITS bisa membangun Rumah Sakit Pendidikan yang berbeda dari yang dimiliki universitas yang ada saat ini."
Dosen ITS yang saya kenal pertama kali yakni bapak Adhi Dharma Wibawa. Perkenalan saya dengan beliau terjadi saat melamar beliau sebagai dosen pembimbing tesis saya. Ini terjadi hampir beriringan dengan proses seleksi dosen. Dan saya baru tahu setelahnya bahwa pak Adhi Dharma Wibawa adalah salah satu founder dari FKK ITS.
Satu per satu saya mengenal dosen baik yang dari program studi kedokteran, pendidikan profesi dokter, dan teknologi kedokteran. Saya merasakan atmosfer akademik yang luar biasa dinamis, semangat muda sebagai fakultas baru, rasa seperti satu keluarga, diskusi yang egaliter tanpa ada superitas senior junior. Hari demi hari, pagi siang malam hari-hari kami isi dengan persiapan pendirian program studi kedokteran dan pendidikan profesi dokter. Tentu pengalaman ini tidak didapat oleh semua dosen baru terutama di fakultas kedokteran yang sudah lama berdiri.
Inilah periode waktu dimana kami dalam upaya mewujudkan candaan yang beredar di tengah masyarakat βkuliah di Kedokteran ITS ae rekβ menjadi sebuah kenyataan.
Bersambung Ke "Angka Nitrisastro, Dokter Pendiri Kampus Teknologi"
Oleh Sonny Fadli
Di tulis di atas pesawat Garuda Indonesia
Kamis/18 Desember 2025.

