Konten dari Pengguna
Dokter Angka Nitisastro, Sang Pendiri Institut Teknologi Sepuluh Nopember
31 Desember 2025 12:15 WIB
Β·
waktu baca 5 menit
Kiriman Pengguna
Dokter Angka Nitisastro, Sang Pendiri Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) didirikan atas inisiatif Dr. Angka Nitisastro, yang menjadi penggagas utama sekaligus Ketua Yayasan Perguruan Tinggi Teknik (YPTT) Surabaya.Sonny Fadli
Tulisan dari Sonny Fadli tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sesuai dengan tulisan saya sebelumnya, saya akan mengulas bagaimana sejarah berdirinya ITS, siapa dibalik pendirian Kampus Teknologi yang terkemuka di Indonesia, yang sudah melahirkan banyak insinyur dan pemimpin hebat.
Hemat saya, memahami sejarah bukan sekedar urusan hafalan tanggal, tempat, waktu, hingga orang. Negara yang rakyatnya buta sejarah akan lebih mudah untuk dihasut, dibodohi, dijajah informasi bahkan digusur bangsa lain. Rakyatnya lebih mudah diadu, saling tidak percaya, bahkan bisa menentang leluhur atau bapak sendiri. Ini tercermin dalam proses runtuhnya Majapahit yang didalamnya ada kecelakaan sejarah yang justru singkatnya disebabkan kebutaan sejarah, menyebabkan anak terhasut, mengunggulkan nilai-nilai kebaruan, namun meremehkan nilai-nilai leluhur, kudeta sang raja.
Beberapa perusahaan musnah di sekian generasi karena tidak oahamnya histori dan visi sehingga berujung bangkrut. Tentu kita tidak berharap demikian, maka kita perlu membuka lembaran sejarah mengenai Dr. Angka Nitisastro ini.
Siapa Dokter Angka Nitisastro?
Ada beberapa dokumen sejarah yang menunjukkan kiprah Dr. Angka Nitisastro. Dalam harian DE NIEUWSGIER 7 September 1950, Dr. Angka Nitisastro merupakan salah satu tokoh yang mewarnai. beliau tercatat dalam struktur Partai Nasional Indonesia (PNI) Surabaya. Pada saat itu, tokoh politik dan pemerintahan cukup banyak diduduki oleh kalangan professional termasuk dokter.
Dalam teks koran Nieuwe Courant (18 september 1951), nama Dr. Angka Nitisastro muncul dalam bahasa Belanda sebagai salah satu anggota Adviesraad voor arbeidsvoorziening atau Dewan Penasihat untuk Penyediaan Tenaga Kerja.
βMaandagochtend installeerde de minister van arbeid Iskandar Tedjasukmana een adviesraad voor arbeidsvoorziening. De raad bestaat uit de volgende leden: Sumarto (parlementslid, voorzitter), Tjokrosuharto (ministerie van onderwijs), Mevrouw S., Ir. Drs. Teulink (ministerie van onderwijs), Prawoto (ministerie van verbindingen), Baheramsja St. Indra (ministerie van onderwijs), Sarbini (ministerie van economische zaken), Amien Tjokrosuseno (ministerie van landbouw), Mon. Anβsastra (vereniging van technici), Sujono Atmo (IPPI), Tonu Parna (SOBSI), Manurung (Dewan Ekonomi), Drs. Schuyleman (IndustriΓ«le bond), Mr. Nolen (Ondernemersbond), Djuwarl (SOBSI) en Dr. Angka Nitisastro.β
Dalam teks koran yang Anda lampirkan (Gezinsblad, 28 maart 1963) muncul nama dr. Angka Nitisastro, die wordt vermeld in verband met de vulkaanuitbarsting van de Goenoeng Agoeng op Bali. Dr. Angka Nitisastro disebut sebagai voorzitter van de afdeling West-Java van het Indonesische Rode Kruis. Singkatnya, dalam koran tersebut dr. Angka Nitisastro tampil sebagai tokoh medis dan kemanusiaan lewat kapasitasnya di Palang Merah Indonesia, memberi pernyataan dramatis tentang jumlah korban dan kerusakan akibat letusan Gunung Agung di Bali tahun 1963. Dalam sebuah konferensi pers ia menyampaikan laporan mengenai dampak letusan Gunung Agung yang sampai 11.000 orang.
Jadi, dokter Angka bukan sekedar sosok dokter biasa melainkan satu dari beberapa dokter hebat yang tercatat dalam dokumen sejarah, sebagai pemimpin politik, pejabat pemerintahan, dokter yang peduli kemanusiaan, di literatur lain disebutkan pula dokter Angka di sela kesibukannya masih bisa praktek melayani pasien. Kira-kira dimana dokter Angka dulu praktek, di dekat pasar pucang atau di sekirar Wonokromo?
Timeline Berdirinya ITS
Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) didirikan atas inisiatif Dr. Angka Nitisastro, yang menjadi penggagas utama sekaligus Ketua Yayasan Perguruan Tinggi Teknik (YPTT) Surabaya. Gagasan ini berawal dari keprihatinannya terhadap masih kurangnya jumlah insinyur di Indonesia, padahal negara membutuhkan sumber daya manusia yang mumpuni untuk mengelola kekayaan alam dan mendorong industrialisasi.
Pada 17 Agustus 1957, dalam Lustrum I PII Jawa Timur, Dr. Angka Nitisastro memimpin pendirian YPTT sebagai badan penyelenggara. Kemudian, pada 10 November 1957, yayasan tersebut meresmikan Perguruan Tinggi Teknik 10 Nopember Surabaya dengan penandatanganan piagam oleh Presiden Soekarno. Pada awal berdirinya, perguruan tinggi ini hanya memiliki dua jurusan, yaitu Teknik Sipil dan Teknik Mesin.
Pada tahun 1960, namanya diubah menjadi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan statusnya ditingkatkan menjadi Perguruan Tinggi Negeri berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan. Setahun kemudian, pada 10 November 1961, ITS memperingati Dies Natalis pertamanya dengan menambah tiga fakultas baru: Teknik Elektro, Teknik Kimia, dan Teknik Perkapalan.
Peran sentral Dr. Angka Nitisastro tidak hanya sebagai inisiator dan ketua yayasan pendiri, tetapi juga sebagai Rektor ITS pertama. Visi besarnya adalah membentuk insinyur-insinyur nasional yang mampu memanfaatkan potensi sumber daya alam Indonesia dan menjadi penggerak utama pembangunan industri di tanah air.
Hutang Kepada Sang Dokter
Dari sini kita bisa tahu bahwa, ITS memiliki hutang kepada seorang dokter. Tentu hutang itu bukan berupa sebuah materi yang harus diganti dengan materi namun spirit, sifat, sikap, karya, visi beliau yang harus dilanjutkan. ITS kini makin besar dan melebarkan sayap dengan keberanian membuka berbagai program studi baru termasuk salah satunya kedokteran.
Dalam beberapa kali kesempatan, Rektor ITS, Prof. Mochamad Ashari menyatakan pendirian Fakultas kedokteran dan Kesehatan ITS untuk menambal kekurangan dokter di Indonesia. Namun juga sering tersebut alasan historis yang oleh Prof Ashari disebut sebagai bentuk membalas hutang budi kepada dokter Angka, seorang dokter yang mendirikan ITS.
Menurut saya, ini adalah contoh bentuk balas budi yang sangat manis. Sebuah bentuk pernghormatan terhadap founder ITS. Seandainya dokter Angka masih hidup, seharusnya beliau sangat bangga terhadap anak cicit civitas ITS. Apalagi misal suatu hari ada dokter lulusan ITS yang mempunyai knowledge teknologi yang kuat bisa mengabdi di pelosok Indonesia. Bisa menjawab tantangan kesehatan di daerah. Betapa bangganya dokter Angka sambil nyeletuk "Isok ae awakmu le, yo yo yo apik apik apik".
Bersambung....
Sonny Fadli
Dosen dan Alumni ITS
Tulisan Sebelumnya:
https://kumparan.com/sonny-fadli-1558540672525573622/dari-mimpi-ke-pedalaman-hingga-menjadi-dosen-fakultas-kedokteran-baru-26SlkdlF6og

