Konten dari Pengguna

Blueprint

Stefanus Onggo
Mentor Dei Providentia Foundation
17 Desember 2025 21:35 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Blueprint
Resensi buku "Blueprint": Blueprint adalah kontribusi penting dalam literatur pengalaman profesional Indonesia di kancah global. Buku ini bernilai dan mengajarkan semangat untuk belajar seumur hidup.
Stefanus Onggo
Tulisan dari Stefanus Onggo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Buku Blue Print Sylvie Tanaga Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Buku Blue Print Sylvie Tanaga Foto: Dok. Istimewa
Judul buku: Blueprint
Penulis: Sylvie Tanaga
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2025
Cetakan: Pertama
Tebal buku: 248 Halaman + XLIII
ISBN: 978-602-06-8131-3
Buku Blueprint mengisahkan berbagai pengalaman dari 20 engineer asal Indonesia selama bekerja di Schlumberger (sekarang: SLB), sebuah perusahaan teknologi di industri minyak dan gas. Mayoritas narasumber sudah pensiun.
Walaupun demikian, semua sepakat bahwa pengalaman di Schlumberger telah berkontribusi dalam membentuk pribadi mereka menjadi lebih baik hari ini. Lewat kisah dan refleksi, diharapkan buku Blueprint mampu menjadi inspirasi bagi para pembaca.
Agustinus Raldiarto Tjahjomono Koestoer (Ral) tidak pernah membayangkan akan disodori durian runtuh saat sedang asyik makan siang dengan teman-temannya. Seorang perekrut Schlumberger tiba-tiba menghampiri dan mengajaknya bergabung dengan tawaran gaji tiga kali lipat dari yang ia bisa hasilkan saat itu.
Awalnya Ral ragu karena khawatir kalau ini adalah sebuah jebakan. Namun, nilai gaji yang ditawarkan begitu menggoda bagi seorang fresh graduate. Akhirnya, Ral menyetujui ajakan tersebut dan menjadi engineer Indonesia pertama dalam sejarah Schlumberger.
Kisah di atas merupakan cerita pembuka pada bab perdana yang diberi judul “Pesona Jemput Bola”. Judul dan kisah ini jelas menggambarkan karakter perusahaan yang tidak segan-segan “menjemput bola” guna mengumpulkan talenta-talenta terbaik. Strategi rekrutmen yang “tidak biasa” ini tentu meninggalkan kesan yang mendalam bagi mereka yang mengalaminya.
Dalam buku ini, Schlumberger tidak hanya dinarasikan piawai dalam memenangkan hari para calon karyawan; ia dinarasikan untuk mempertahankan komitmen mereka dalam bekerja hingga berpuluh-puluh tahun lamanya. Lalu, apa yang membuat para engineer bertahan? Hal pertama yang dibahas yakni jenjang karier yang jelas.
Sebagai perusahaan teknologi, Schlumberger menyadari bahwa keuntungan yang diperoleh berasal dari kerja nyata para engineer di lapangan. Oleh karena itu, kepedulian terhadap nasib para engineer adalah prioritas utama.
Kejelasan jenjang karier merupakan jaminan perusahaan atas loyalitas para pekerja. Hal ini berlaku untuk semua. Setiap engineer melewati tahapan karier yang sama. Pengecualian ada, tetapi minim. Selama mampu memenuhi kriteria, kenaikan jabatan merupakan keniscayaan.
Buku Blue Print Sylvie Tanaga. Foto: Dok. Istimewa
Bicara tentang kriteria kenaikan jabatan, performa adalah faktor utama penilaian kerja. Evaluasi dilakukan empat bulan sekali; bukan hanya oleh atasan, melainkan juga oleh bawahan. Prosesnya juga sangat transparan. Iwan Chandra menyebutkan bahwa ia bahkan mendapat kesempatan untuk berdiskusi mengenai target capaian yang diharapkan atasannya.
Dengan demikian, ia bisa membuat strategi untuk penilaian yang maksimal. Proses ini menunjukkan bahwa orang yang menduduki jabatan adalah mereka yang dinilai benar-benar pantas. Namun, praktik-praktik penyelewengan tidak bisa lenyap sepenuhnya. Andreas Wibawa pernah mengalami situasi di mana atasannya lebih mengutamakan karyawan dengan kewarganegaraan yang sama.
Perhatian Schlumberger terhadap para karyawan tecermin pula dalam kebijakan keselamatan kerja. Setiap engineer dilengkapi dengan Alat Pelindung Diri (APD) yang mumpuni. Rambu-rambu keselamatan terpajang besar dan jelas di setiap sudut area kerja.
Schlumberger juga memiliki zero tolerance terhadap tindakan-tindakan abai yang membahayakan jiwa. Saat lalai, mengutip Satrijo Tanudjojo, “You don’t even have to ask your boss. You have to take your bag and go home.” (hal. 88).
Pandangan akan kesetaraan membudaya dalam perusahaan ini. Bukan hanya slogan semata, praktik kesetaraan dimulai dari level yang lebih tinggi. Suatu waktu—saat tiba di London untuk mengikuti vacation training—Ahmad Yuniarto dijemput oleh seorang anak muda yang ternyata adalah atasannya.
Ia sempat terpukau karena mengetahui bahwa usia tidak menghalangi jenjang karier seseorang. Lebih dari itu, keakraban yang ditunjukkan sang atasan memberikannya perasaan nyaman dan dihargai.
Selain kesetaraan, etika dan integritas juga merupakan nilai-nilai yang dijunjung tinggi perusahaan. Kepatuhan akan nilai ini termasuk dalam menjaga kerahasiaan informasi temuan ladang migas. Tentunya, banyak pihak akan berusaha mendekati para engineer yang sarat informasi berharga dan berpotensi mendatangkan keuntungan besar. Namun, di sinilah integritas mereka diuji.
Praktik korupsi sangat diharamkan. Demikian juga dengan kegiatan suap-menyuap. Karakter kepatuhan ini begitu mendarah daging dalam diri para engineer. Bahkan, ketegasannya telah diakui oleh pihak klien, seperti yang diucapkan orang-orang perusahaan migas terhadap Suhadi Dwijomartono, “Suhadi itu jangankan ngasih duit, dosa-dosanya aja nggak pernah dia kasih!” (hal. 131).
Isi Buku Blue Print Sylvie Tanaga. Foto: Dok. Istimewa
Bekerja di Schlumberger sungguh sebuah petualangan yang sarat kejutan. Saat memutuskan untuk jadi bagian perusahaan ini, para engineer harus siap ditempatkan di mana saja dan kapan saja. Di tahun-tahun awal perekrutan engineer Indonesia, penempatan di daerah sulit dan penuh konflik tidak terhindarkan.
Paulus Iswanto tidak bisa melupakan bagaimana rasanya bekerja di pelosok Amerika Latin, sembari diawasi tentara-tentara bersenjata lengkap. Adi Harsono akan selalu mengingat kengerian saat diciduk oleh tentara Kongo karena dicurigai sebagai mata-mata CIA.
Kerap berpindah tempat kerja bagi mereka yang masih muda dan single bisa jadi terasa menyenangkan. Namun, bagi mereka yang sudah berkeluarga—bahkan memiliki anak—perkara ini tentu penuh pergumulan dan drama.
Ada yang memutuskan untuk Long Distance Relationship (LDR). Beberapa partner menunda kepindahan sampai urusan sekolah anak-anak rampung. Orang lainnya mesti legowo menyamakan langkah dengan pasangan yang berpindah setiap 2-3 tahun sekali.
Di dunia yang didominasi laki-laki ini, ternyata ada dua engineer perempuan Indonesia yang tidak ragu untuk berbaur di dalamnya. Mereka adalah Candra Sri Utama dan Fathom Saulina.
Keduanya menceritakan tantangan bagi kaumnya di industri migas dan perjuangan mereka dalam merespons isu-isu, seperti ketiadaan fasilitas-fasilitas yang ramah perempuan, pelecehan seksual, bahkan panggilan tugas mendadak pasca-melahirkan.
Dari sisi penulisan, Blueprint ditata dengan bahasa yang mengalir dan mudah diakses, jauh dari kesan teknis yang kaku. Meski seluruh narasumber berlatar belakang teknik, gaya bercerita yang dipilih Sylvie Tanaga membuat pembaca awam tetap dapat mengikuti alur cerita, tanpa harus menguasai terminologi migas.
Sesekali pembaca akan ikut tegang oleh kisah dramatis di lapangan. Di lain bagian, pembaca mungkin merasa iri dalam melihat kesempatan berkeliling dunia dan bertemu begitu banyak budaya. Pada buku ini, bagian yang paling bernilai yaitu penyajian berbagai pelajaran hidup, seperti kerja keras, ketangguhan, disiplin, integritas, keberagaman, dan semangat belajar seumur hidup.
Secara keseluruhan, Blueprint adalah kontribusi penting dalam literatur pengalaman profesional Indonesia di kancah global. Buku ini relevan dibaca oleh mahasiswa, profesional muda, maupun para pemimpin perusahaan yang tengah mencari contoh konkret praktik meritokrasi, pengembangan talenta, dan budaya kerja berintegritas.
Keterbatasan representasi narasumber perempuan layak dicatat sebagai ruang pengembangan, tetapi tidak mengurangi kekuatan utama buku ini sebagai refleksi kolektif tentang bagaimana talenta Indonesia berkiprah dan ditempa dalam ekosistem perusahaan global yang sangat menuntut—dan sangat membentuk.
Trending Now