Konten dari Pengguna

Etos Pekerja Kemanusiaan

Sudirman Said
Rektor Universitas Harkat Negeri
26 November 2025 15:30 WIB
ยท
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Etos Pekerja Kemanusiaan
Beberapa waktu lalu saya berkesempatan melihat sendiri etos para relawan PMI: bekerja dalam keterbatasan, tetap sigap dan optimis. #userstory
Sudirman Said
Tulisan dari Sudirman Said tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi relawan Palang Merah Indonesia (PMI). Foto: Ririn/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi relawan Palang Merah Indonesia (PMI). Foto: Ririn/ANTARA FOTO
Akhir pekan lalu saya baru saja menyelesaikan rangkaian kegiatan di Papua dan Papua Barat, menyertai Ketua Umum PMI Bapak Jusuf Kalla melantik kepengurusan PMI di 6 Provinsi di Papua. Dua hari berikutnya, langkah membawa saya ke ujung barat Nusantara: Takengon, Aceh. Di sana saya membuka Musyawarah Provinsi PMI Aceh yang diikuti perwakilan dari 23 kabupaten/kota.
Persiapan mereka rapi dan telaten, sudah dimatangkan sejak beberapa bulan sebelumnya. Semua dokumentasi tertata, alur sidang disepakati bersama para pemegang mandat. Komunikasi dengan Pelindung dan para pemangku kepentingan juga berjalan baik, termasuk koordinasi antara Ketua Umum, Pak Jusuf Kalla, dan Gubernur Aceh, Pak Muzakir Manaf.
Syukurlah, seluruh prosesi berlangsung adem, guyub, penuh suka cita. Laporan pertanggungjawaban diterima secara aklamasi, dan Ketua Petahana, Pak Murdani Yusuf, kembali diminta memimpin organisasi gerakan kemanusiaan di Nanggroe Aceh Darussalam. Usai acara, sekitar pukul 22.30, saya pamit menuju Banda Aceh agar bisa kembali ke Jakarta dengan penerbangan paling pagi.
***
Kita bisa berencana, tetapi Tuhanlah yang punya kehendak. Sejak kami tiba di Banda Aceh kemarin pagi, hujan tak berhenti. Langit gelap seperti tak memberi isyarat kapan akan terang.
Kami berangkat dua mobil dari Takengon: satu kendaraan rekan-rekan PMI Aceh, satu lagi mobil yang saya tumpangi bersama tim dari Jakarta.
Baru sejam berjalan, laju kami tertahan. Sebuah pohon tumbang menutup badan jalan sebelah kiri, sementara sisi kanan mulai retak dan rawan longsor. Kami menunggu hampir setengah jam, namun tak ada tanda pergerakan.
Salah satu pengurus PMI Aceh, Bung Ansari Makhmud, anak muda gesit yang juga anggota DPR Aceh, mengajak rekan-rekannya turun di tengah hujan. Apa pun alat yang tersedia mereka manfaatkan untuk memotong pohon yang melintang itu.
Ilustrasi Pohon Tumbang. Foto: Antara/Ardiansyah
Dalam gelap malam, di hutan perdu tanpa sinyal internet, mereka bekerja bahu-membahu. Pemandangannya mirip adegan iklan jelang lebaran medio tahun 2000-an.
Begitu batang kayu tergeser, perjalanan kembali lancar. Kami melanjutkan rute menuju Bireun. Jika normal, Takengon ke Bireun ditempuh 2 sampai 3 jam. Malam itu, kecepatan tak pernah lebih dari 30 km per jam. Mobil berguncang memasuki genangan dalam; kadang harus merayap melewati lumpur akibat guguran tebing sepanjang jalan.
Bung Ansari kini memimpin konvoi. Setiap ada rintangan ia turun mengatasi, seolah-olah sedang membuka jalan untuk iringan panjang musafir kelelahan.
Bung Ansari ditemani oleh Dokter Ikhwanuddin, Farid, dan Mursana. Di sebelah saya ada Bang Zulfan tanpa lelah terus mengemudi, meskipun sudah hampir 36 jam tidak tidur.
Setelah beberapa jam, kami kehausan, tak siap dengan bekal air minum. Bung Ansari kembali mengarahkan kami berhenti di kedai kopi Bireun Partee, Desa Mns Seutuy, Kecamatan Juli, Kabupaten Bireun
Segelas Kopi Sanger khas Aceh dan semangkuk mi rebus menjadi penyelamat kecil di tengah perjalanan yang panjang. Saat itu jam sudah menunjukkan pukul 03.00 dini hari.
Konvoi kembali bergerak, menembus genangan demi genangan sampai Peudada. Jarak kedai ke Peudada sebenarnya tak sampai 5 km, tetapi kami menempuhnya selama empat jam.
Air semakin tinggi. Akhirnya mobil tak bisa lagi menerjang. Tanpa sinyal HP, kami tak dapat mengabarkan apa pun. Pukul 08.00 kami memutuskan menuju puskesmas terdekat untuk mengisi baterai dan mencari internet.
Namun tak lama kemudian listrik padam. Pengelolanya meminta maaf. Genset tersedia, tetapi bahan bakarnya habis. SPBU pun tutup karena banjir.
Kami terpaksa kembali ke arah Kota Bireun mencari warung yang listriknya menyala. Tanpa listrik, tak ada Wi-Fi. Barulah sekitar pukul 11.00 siang kami menemukan warung makan bernama Rindu Alam. Menyantap nasi dan ikan seadanya, kami berbagi ruang bersama para pengendara dan penumpang travel yang sudah tertahan sejak malam.
Para pengurus warung tampak kelelahan; tamu datang silih berganti. Bung Ansari, tanpa diminta, ikut membantu melayani rombongan lain.
Di tengah perbincangan, saya kembali menyaksikan etos para relawan PMI: bekerja dalam keterbatasan, tetap sigap, tetap optimis. Obrolan nostalgia tentang hari-hari membangun kembali Aceh pasca-tsunami membuat suasana semakin berbaur antara letih dan haru.
***
Foto udara pemukiman penduduk yang terendam banjir di Lhoksukon, Aceh Utara, Aceh, Selasa (26/12/2023). Foto: Mirza Baihaqie/ANTARA FOTO
Tiba-tiba seorang lelaki berpeci menghampiri saya, menyodorkan tangan. Namanya Pak Toib, Kepala Dusun Kampung Kedubang Jawa, Langsa. Ia baru pulang menghadiri wisuda putranya di Banda Aceh dan sudah terdampar di Peudada sejak malam.
โ€œPak, saya kepala dusun. Banyak warga nelpon. Bertahun-tahun kami tak pernah kebanjiran. Tapi sekarang rumah kami kemasukan air.โ€
Ia menambahkan, jalan menuju Langsa dan Lhokseumawe pun tak kalah parah, banjirnya sama besar dengan jalur ke arah Banda Aceh, sehingga banyak warga terperangkap di perjalanan. Kata teman-teman PMI Aceh, curah hujan tahun ini memang tak biasa.
Dan di mana pun kondisi memburuk, relawan PMI seperti ikan di kolam, dengan etos dan komitmennya seketika bergerak melayani warga yang kesulitan, memenuhi panggilan kemanusiaan.
Hingga tulisan ini dimuat, saya dan beberapa kawan PMI masih menunggu air surut. Mungkin malam ini, mungkin besok pagi, kami berharap ada sedikit keajaiban yang membuka jalan pulang.
Saya memang sedang kesulitan karena harus menjadwal ulang berbagai pertemuan. Tapi itulah nilai-nilai pekerja kemanusiaan. Keadaan krisis justru menjadi persemaian segala macam solusi.
Teman-teman PMI Aceh, selamat dengan kepengurusan yang baru. Mari kita jaga Tujuh Prinsip Gerakan Kepalangmerahan Internasional.
Trending Now