Konten dari Pengguna

Negeri Darurat Ayah

Sudirman Said
Rektor Universitas Harkat Negeri
13 November 2025 7:30 WIB
·
waktu baca 8 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Negeri Darurat Ayah
"Karakter ayah" harus memuat fungsi guru yang pemimpin. Pemimpin ditopang keteguhan prinsip, dan guru ditopang oleh keteguhan ilmu. #userstory
Sudirman Said
Tulisan dari Sudirman Said tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi seorang ayah mengurus anaknya yang masih bayi. Foto: happybas/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi seorang ayah mengurus anaknya yang masih bayi. Foto: happybas/Shutterstock
Itu pertanyaan pendek saya kepada ratusan tenaga pendidik: 160-an guru bimbingan konseling serta 40-an kepala sekolah di Tegal, Brebes, dan sekitarnya. Dari sekolah negeri maupun swasta. Suatu cara saya membuka diskusi “pendidik adalah pemimpin”. Berlangsung sejak pagi, Selasa Paing, 11 November 2025.
Pemimpin berbeda dengan pimpinan. Pimpinan hadir berkat position power ‘kekuatan posisi’ atau faktor-faktor dari luar diri (jabatan, SK pengangkatan, circle “orang dalam”, dll). Adapun pemimpin lahir berkat personal power ‘kekuatan personal’ atau faktor-faktor dari dalam diri (pengetahuan, keahlian, referensi, dll).
Lebih utama jadi pemimpin daripada pimpinan. Tapi, sudah barang tentu akan jauh lebih “nendang” maslahatnya kalau bisa menjadi pimpinan sekaligus pemimpin.

Tak Dinyana

Diskusi berjalan antusias. Tajuknya “EduPsy Series 1.0: Menciptakan Lingkungan Belajar Menyenangkan” dan dilakukan di Aula Kampus Mataram, Universitas Harkat Negeri, Tegal. Di luar aula, pagi memecah lengang. Angkasa mendungnya tenang. Gerimis meniris tipis.
Jawaban dari para guru macam-macam. Menarik-menarik. Ada yang mengidolakan pemimpin Panglima Besar Jendral Sudirman. Ada Mar'ie Muhammad. Ada Tan Malaka. Bahkan, ada Pak Suripto—baru sepasaran berpulang (6 November 2025). Semua idola itu sepuluh orang. Hanya satu saja yang perempuan: Ibu Bidan Fitriana. Saya lupa siapa.
Tapi, ada satu hal tak dinyana. Apa itu? Ternyata, tak sedikit dari mereka yang mengidolakan ayahnya sendiri. Tidak ada satu pun yang menyebut ibu. Wah, bisa kualat kita. Ini menarik dan mungkin perlu diriset, bagaimana bisa sampai tidak ada satu pun yang menyebut ibunya sendiri sebagai pemimpin idola?
Saya ayah dari 3 putri dan 4 putra. Tapi, mengapa ayah? Mengapa saya? Sekadar menebak-nebak, ayah disebut-sebut sebagai (pemimpin) idola itu agaknya merupakan manifestasi dari suatu kerinduan. Kerinduan dari seorang anak.
Selain sebagai pencari nafkah, ayah adalah pendidik, pelindung, dan panutan moral bagi keluarga. Seturut “jam terbang” saya sebagai ayah, selama ini kami kerap disosokkan sebagai figur yang kuat, tegar, terkadang dingin, dan pekerja.
Sayangnya, para ayah jarang mendapat ruang ekspresi secara emosional. Kami, para ayah, tetap seorang manusia. Manusia biasa. Manusia yang pernah muda. Pernah punya mimpi. Punya rasa takut atau kalut. Punya resah dan lelah. Hingga getir dan khawatir.
Semua itu tak jarang disimpan dalam-dalam. Dalam diam. Di balik sikap ayah yang keras-dingin itu, yakinlah, ada air mata yang berlinang diam-diam di hening malam.

Fatherless

Ilustrasi anak tidak dekat dengan ayah. Foto: airdone/Shutterstock
Kerinduan sangat seorang anak terhadap sosok ayah? Bu Hani, seorang guru bimbingan konseling di Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Bulakamba, Brebes, menyorongkan angka mencengangkan.
Katanya, 20,9% anak mengalami fatherless. Artinya, meski punya ayah, tapi mereka kehilangan sosok atau peran ayah. Artinya lagi, seperlima anak kita hidup dalam kondisi “Ayah? banyak; tapi sosok dan perannya? sedikit.”
Periksa punya periksa, angka 20,9% itu ternyata datangnya dari data UNICEF (United Nations Children's Fund) rilisan 2021. Angka BPS (Badan Pusat Statistik) berkata lain. Dalam periode yang sama, menurut BPS, jumlah anak Indonesia berusia 0-5 tahun yang diasuh oleh kedua orang tuanya secara penuh mencapai 37,17%.
Berapa angka termutakhirnya? Mikro Survei Sosial Ekonomi Nasional-nya BPS mencatat, angka sekarang beda-beda tipis saja dari angka UNICEF 2021. Per Maret 2024, anak Indonesia yang fatherless mencapai 20,1% (atau sekitar 15,9 juta) dari total 79,4 juta anak berusia kurang dari 18 tahun.
Dari ke-15,9 juta anak fatherless itu, 4,4 juta anak tinggal di keluarga tanpa ayah. Adapun 11,5 juta sisanya tinggal bersama ayah dengan jam kerja lebih dari 60 jam/pekan. Jauh di atas aturan Undang-Undang 11/2020 (tentang Cipta Kerja): 40 jam/pekan. Disebutkan di pasal 77: jam kerja formal maksimal untuk 6 hari kerja adalah 7 jam/hari atau 40 jam/pekan. Adapun untuk yang 5 hari kerja, maksimal 8 jam/hari atau 40 jam/pekan.
Lingkup provinsi, persentase anak fatherless yang tertinggi ada di Gorontalo, yakni: 26,9% (atau 92.381 dari total 343.414 anak di provinsi itu). Disusul Kalimantan Timur (26,2%), Nusa Tenggara Barat (25,9%). Jawa Tengah ada di peringkat keempat: 23%.
Angka-angka itu menunjukkan bahwa, peran pengasuhan orang tua, khususnya peran ayah, harus diakui kesenjangannya signifikan. Timpang. Menurut psikolog-keluarga Kak Seto Mulyadi (2018), anak yang dekat dengan ayah cenderung lebih konfiden dan cakap bersosial. Absennya seorang ayah berimbas pada kejiwaan anak pada masa dewasanya kelak. Mudah murung, depresi, takut gagal, dll.
Bu Anna Dani Andriyanti, seorang psikolog yang duduk di sebelah saya, menjelaskan. Absennya sosok ayah membentuk mental si anak. “Anak jadi kehilangan sosok teladan,” kata psikolog Klinis Rumah Sakit Umum Daerah Kardinah dan psikolog Perlindungan Perempuan dan Anak–Pusat Pelayanan Terpadu Puspa Kota Tegal itu.
Lantas, apa biang dari itu semua? Pada 2015, Rutgers WPF Indonesia—kini Yayasan Gemilang Sehat Indonesia—merilis laporan berjudul “State of the World’s Fathers – Country Report: Indonesia”. Di dalamnya ada tersebut bahwa, budaya patriarkhilah biang kerok dari absennya ayah dalam perkembangan anak. Masyarakat kita masih kuat persepsinya bahwa pengasuhan anak adalah tanggung jawab ibu, mencari nafkah ada di ayah. Padahal, peran ayah pun krusial dalam urusan perkembangan anak.
Padahal, peran ayah bukan diukur dari frekuensi perjumpaan fisik saja, tapi juga dari kualitas dukungan dan keterlibatan emosional. Studi yang dilakukan Amato & Gilbreth (1999) menunjukkan, ayah yang hangat, tegas, dan suportif dalam gaya pengasuhan mampu menumbuhkan anak-anak yang mandiri, konfiden, dan berdaya tahan.
Saya bisa merasakan hal itu. Karena, boleh dikata, saya pun produk fatherless family. Ayah meninggal saat saya masih berusia 9 tahun, dan usia adik terkecil baru 3 bulan. Ayah saya banyak sibuk di luar, sehingga kami jarang sekali berinteraksi. Sewaktu masih ada pun kehadiran ayah terasa tiada, apalagi ketika sudah tiada.

Karakter Ayah

Ilustrasi Anak Perempuan Menangis saat Bersama Ayah. Foto: Shutterstock
Paradigma fatherless agaknya relevan buat kita ekspansikan ke level lebih luas. Untuk membaca kondisi negeri. Begini: fatherless atau absen/minimnya “karakter ayah” berdampak ke psikologi rakyat. “Karakter ayah” itu apa, akan saya jelaskan setelah ini.
Kita, kata Bu Andriyanti, tervibrasi oleh orang-orang di sekitar kita. Sebaliknya, kita pun menyebarkan vibrasi ke orang-orang sekitar. Resiprokal.
Jadi, apabila para pimpinannya fatherless, apalagi rekam-jejak etik dan tata-kelolanya tidak baik-baik saja, maka mereka akan menularkan vibrasi yang juga tidak baik-baik saja. Dirasakannya mulai di lingkar terdekatnya. Berkembang ke lingkar yang lebih luas. Lalu lebih luas lagi. Hingga ke rakyat.
Akibat vibrasi “tidak baik-baik saja” itu, elemen bangsa, terutama rakyat, jadi mudah tersulut. Takut ini, takut itu. Apalagi ditambah oleh ditakuti ini dan itu. Sebuah negeri adalah serupa jejaring raksasa laba-laba vibrasi yang relasinya resiprokal. Aktor utama dari bentang vibrasi letaknya ada di tengah. Ya laba-laba itu sendiri.
Sekarang, apa “karakter ayah” yang saya maksud tadi? Sekurang-kurangnya ada dua.
Yang pertama, karakter besi. Untuk yang ini, mari kita tengok ke etimologi. “Ayah”, itu kata dari Bahasa Kawi. Javaansch-Nederduitsch Woordenboek-nya Gericke & Roorda (1847:61) mencatat artinya: besi.
Besi adalah logam penting. Karakternya: kokoh-kuat, keras-ulet, luwes dibentuk. Di Qur’an, ia bukan saja disebut-sebut (lima kali), tapi bahkan diabadikan jadi nama surat: al-Hadid. Tapi, hadid punya titik lemah: korosif. Ketika besi bugil, oksigen akan lekas membuatnya berkarat. Sekeras apa pun besi, ia takluk pada kondisi tertentu yang mengharuskannya lebur dan mencair. Patuh pada siapa pun yang membentuknya. Besi jadi lunak, terbentuk indah, dan bernilai tinggi berkat hadirnya kerja sama harmonis antara penempa besi yang mumpuni dan penjaga api yang amanah.
Jadi, “karakter ayah” yang pertama adalah karakter besi. Kokoh-kuat dalam prinsip. Keras-ulet dalam ngayahi (men-deliver) amanah tugas. Luwes dalam menghadapi tantangan apa pun. Bersinergi dalam misi. Meski demikian, oksigen sebagai biang korosifnya perlu diwaspadai. Oksigen adalah faktor pemungkin kehidupan. Kenikmatan berupa fasilitas dan power yang tengah di genggaman, semua itu “oksigen”. Tapi sayang, hal itu kerap melenakan dari tugas wajibnya sebagai pelayan rakyat, pengurus negara.
Yang kedua, karakter guru-pemimpin. Suatu kesadaran dalam memperteguh diri dengan karakter-karakter kepemimpinan utama. Kesadaran itu terbangunnya dari keilmuan. Kemauan belajar sepanjang hayat.
Kesadaran jenis ini salah satunya terefleksi pada salah satu religi di Bali yang khas Hindu Nusantara (Hindu Dharma). Namanya Pagerwesi (artinya: pagar besi). Sebuah rerahinan gumi (hari raya bagi semua lapis warga, baik pendeta maupun umat). Diperingatinya setiap 210 hari sekali, setiap Rabu Kliwon Wuku Shinta, alias empat hari usai Hari Raya Ilmu Pengetahuan, Saraswati. Artinya, kebijakan yang didapat dari keilmuan—bukan hasil dari dogma atau ikut-ikutan—itulah sejatinya pagar peneguh utama kita dalam bersikap. Pagerwesi adalah simbol dari teguhnya prinsip yang didasari oleh keilmuan.
Lontar Sundarigama, sebuah kitab kuno abad XV, memperkaya spektrum maknanya. Yakni: “Budha Kliwon Shinta Ngaran Pagerwesi payogan Sang Hyang Pramesti Guru” (Rabu Kliwon Shinta disebut Pagerwesi sebagai pemujaan kepada Sang Hyang Pramesti Guru). Mengapa Sang Hyang Pramesti Guru? Dia-lah manifestasi Dewa Siwa, mewujud sebagai guru. Mengapa guru? Itulah fungsi penuntun, pembimbing, pemandu, termasuk pemimpin.
Jadi, jelaslah, “karakter ayah” harus memuat fungsi guru yang pemimpin. Pemimpin ditopang oleh keteguhan prinsip. Guru ditopang oleh keteguhan ilmu.
Mari kita lihat, apakah dua “karakter ayah” yang primordial itu, yakni besi dan guru-pemimpin, telah hadir dan bisa kita rasakan di sekitar kita?. Di hari Ayah Nasional ini, aku memohon maaf kepada anak-anakku, untuk semua alpa dan ketidaksempurnaanku. Banyak hal yang tak ku kerjakan sebagai ayah, terutama ketika kalian membutuhkan kehadiranku. Semoga Tuhan dan kalian, anak-anakku, memaafkanku.
Selamat Hari Ayah Nasional!
Trending Now