Konten dari Pengguna
Cerita Umroh (10): Menara Masjid Nabawi
3 September 2025 8:44 WIB
Β·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Cerita Umroh (10): Menara Masjid Nabawi
Menara-menara Masjid Nabawi itu bukan hanya keindahan arsitektur, melainkan simbol spiritual yang sarat makna.Sugeng Winarno
Tulisan dari Sugeng Winarno tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Perjalanan umroh bersama Mitra Umroh selalu menghadirkan kisah yang tak terlupakan. Setiap langkah yang diayunkan di Tanah Suci terasa penuh makna, seakan hati ini digiring untuk terus mengingat Allah dan merindukan Rosulullah.
Begitu pula ketika rombongan kami tiba di Madinah, kota yang penuh dengan ketenangan dan cahaya. Di sanalah, sebuah pemandangan pertama kali membuat hati kami bergetar saat melihat dari dalam bus yang kami tumpangi nampak menara Masjid Nabawi yang menjulang gagah ke langit.
Sejak bus kami mulai memasuki kawasan dekat Masjid Nabawi, pandangan kami tak bisa lepas dari menara-menara tinggi yang tampak dari kejauhan.
βItu Masjid Nabawi, sudah terlihat menaranya,β ujar ustaz Hilman melalui pengeras suara di dalam bus. Kami serombongan menegok ke arah menara yang menjulang tinggi.
Bagi kebanyakan di antara kami, perjalanan ini adalah kali pertama menjejakkan kaki di Madinah. Selama ini menara Nabawi hanya terlihat dalam gambar, foto, siaran televisi, atau YouTube. Tapi kini, menara-menara itu berdiri nyata di depan mata, seakan menyambut kedatangan rombongan kami.
Merujuk sejumlah sumber, sejak awal berdirinya, Masjid Nabawi tidak memiliki menara. Saat itu, adzan dikumandangkan dari tempat yang tinggi atau dari atap masjid.
Baru kemudian, seiring perkembangan arsitektur Islam, menara mulai ditambahkan. Pada masa Dinasti Umayyah dan Abbasiyah, menara menjadi bagian penting dari masjid-masjid besar.
Untuk Masjid Nabawi sendiri, pembangunan menara terus berkembang hingga kini berdirilah menara-menara megah yang menjadi ciri khasnya.
Masing-masing menara memiliki ketinggian lebih dari seratus meter, menjulang ke langit Madinah. Menara-menara itu berfungsi bukan hanya sebagai tempat mengumandangkan adzan, tetapi juga simbol kemegahan dan kemuliaan rumah Rasulullah.
Rombongan kami kemudian memasuki masjid. Dan setiap kali keluar dari Masjid Nabawi untuk kembali ke hotel, pandangan kami kembali tertuju pada menara. Dari berbagai sudut kota Madinah, menara itu selalu terlihat, seakan menjadi penunjuk arah bagi hati kami.
Ada sesuatu yang unik dalam pengalaman itu. Menara Masjid Nabawi bukan hanya menara fisik, melainkan juga menjadi simbol bahwa di manapun jamaah berada, arah hatinya selalu kembali ke Rosulullah.
Menara Nabawi memang bukan sekedar bangunan, tapi menjadi cahaya penunjuk arah, baik secara fisik maupun spiritual.
Sore itu, ketika azan Maghrib berkumandang, banyak jamaah yang memilih sholat di pelataran masjid. Suara merdu muadzin terdengar bergema, meluncur melalui pengeras suara yang dipasang di menara. Getaran suara itu terasa begitu indah, seolah datang langsung dari langit.
Beberapa jamaah tertegun, merasakan suasana yang sulit digambarkan dengan kata-kata. βSeperti dipanggil Allah dari atas sana,β begitu yang dirasakan sejumlah jamaah sholat Magrib.
Momen itu membuat kami menyadari, menara Masjid Nabawi tidak hanya berdiri sebagai simbol keindahan arsitektur, tetapi juga menjadi tempat dari mana panggilan Allah terdengar begitu agung.
Menara-menara Masjid Nabawi itu bukan hanya keindahan arsitektur, melainkan simbol spiritual yang sarat makna.
Perjalanan kami di Madinah diwarnai dengan kisah-kisah sederhana namun penuh hikmah. Banyak di antara jamaah yang menjadikan menara Masjid Nabawi sebagai latar doa-doa pribadi. Ada yang berdoa sambil memandangnya dari pelataran, ada pula yang memfotonya sebagai kenang-kenangan.
Menara-menara Masjid Nabawi adalah saksi bisu kerinduan umat pada Rosulullah. Setiap jamaah memiliki kisah masing-masing, tapi semuanya bermuara pada rasa syukur yang sama bahwa Allah telah memberi kesempatan untuk hadir di Masjid Nabawi.
Hari-hari di Madinah berlalu begitu cepat. Namun setiap kali menatap menara Masjid Nabawi, hati kami serasa ditambatkan di kota ini. Menara-menara itu bukan hanya bangunan yang menjulang tinggi, melainkan simbol panggilan abadi.
Panggilan untuk selalu merindukan sholat di masjid Nabi, panggilan untuk merindukan Rosulullah, dan panggilan untuk merindukan kedekatan dengan Allah.
Bagi kami, jamaah Mitra Umroh, menara-menara Masjid Nabawi adalah kenangan yang tak akan pernah hilang. Kini, saat kami sudah kembali ke tanah air, menara-menara itu tetap akan terpatri dalam hati, menjadi cahaya penuntun dalam setiap langkah hidup. (*)
(bersambung, β¦β¦β¦.)

