Konten dari Pengguna

Cerita Umroh (13): Menyusuri Lapak-Lapak Pedagang Oleh-Oleh

Sugeng Winarno
Pegiat Literasi Media, Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)
6 September 2025 5:48 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Cerita Umroh (13): Menyusuri Lapak-Lapak Pedagang Oleh-Oleh
Di lapak-lapak oleh-oleh Madinah, tawar-menawar bukan hanya soal harga, melainkan juga seni berkomunikasi. Bahasa tubuh, senyum, bahkan angka-angka di kalkulator menjadi sarana.
Sugeng Winarno
Tulisan dari Sugeng Winarno tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Hari masih pagi ketika jamaah Mitra Umroh keluar dari Masjid Nabawi. Usai shalat Subuh, suasana Madinah terasa begitu damai. Udara sejuk menyelimuti kota, sementara cahaya matahari mulai menyinari Kubah Hijau yang menjadi lambang kemuliaan.
Wajah-wajah jamaah tampak bahagia bercampur haru. Ada yang masih duduk berzikir, ada yang memandang Nabawi dengan mata basah, enggan meninggalkan masjid yang menjadi tempat paling mulia setelah Masjidil Haram.
Sebelum meninggalkan Madinah, sejumlah jamaah Mitra Umroh ingin mencari oleh-oleh sebagai kenangan dan buah tangan buat saudara dan teman di tanah air. Beberapa jamaah menyusuri lapak-lapak oleh-oleh di area perbelanjaan Madinah.
Ketika memasuki kawasan lapak penjual oleh-oleh, jamaah Mitra Umroh langsung disambut suasana hiruk pikuk yang hidup. Lorong-lorong sempit dipenuhi pedagang yang menjajakan aneka barang.
Salah satu lorong, berjejer lapak yang menjual aneka barang dan makanan oleh-oleh Madinah. Sumber foto: Shafa.
Suara mereka bersahutan, ada yang memanggil dengan bahasa Arab fasih, ada yang menggunakan bahasa Urdu, Turki, bahkan ada yang fasih menyebut kalimat-kalimat sederhana dalam bahasa Indonesia.
“Ibu, ibu,…seratus ribu tiga ibu,” demikian salah seorang penjual menawarkan barang dagangannya.
“Emas-emas, mari beli, bagus,” ungkap pedagang yang lain.
Pedagang baju gamis, sajadah, banyak berjejer. Apalagi penjual parfum. Lapak parfum ada di mana-mana.
“Silakan… murah-murah, untuk orang Indonesia,” kata seorang pedagang Arab dengan logat kaku tapi penuh keramahan. Kalimat itu sontak membuat para jamaah tersenyum.
Lapak penjual parfum dan aneka barang oleh-oleh. Sumber foto: Shafa.
Lapak-lapak penuh dengan tumpukan kurma juga banyak. Ada yang menjual kurma Ajwa, berwarna hitam yang terkenal sebagai kurma Nabi. Kurma Sukari yang manis legit juga ada. Ada pula kurma Safawi yang lembut teksturnya.
Tak semua jamaah membeli kurma. Ada banyak diantara mereka yang hanya mencicipi karena memang para pedagang menyodorkan dan mempersilahkan untuk mencoba.
Beralih dari kios kurma, jamaah menyusuri lorong lain yang penuh dengan sajadah, mukena, tasbih, parfum Arab, dan aneka pernak-pernik islami. Sajadah dengan motif Ka’bah, masjid Nabawi, bahkan motif bunga-bunga menghiasi dinding kios. Para ibu sibuk memilih, membandingkan warna, dan membandingkan harganya.
Di satu kios, mukena putih bersulam benang emas tampak mencuri perhatian. Seorang pedagang mengangkatnya sambil berkata, “Bagus sekali… untuk oleh-oleh, harga murah.”
Salah satu lapak penjual sajadah di Madinah. Sumber foto: Shafa.
Bahasa Arabnya bercampur logat Indonesia sederhana, membuat suasana menjadi hangat.
Sementara yang lain ada yang lebih tertarik pada kios buku. Ada mushaf Al-Qur’an dengan sampul kulit indah, ada kitab hadis kecil yang mudah dibawa pulang.
Di lapak-lapak oleh-oleh Madinah, tawar-menawar bukan hanya soal harga, melainkan juga seni berkomunikasi. Bahasa tubuh, senyum, bahkan angka-angka di kalkulator menjadi jembatan di tengah keterbatasan bahasa.
Salah seorang jamaah menunjuk sebuah tasbih Cendana. “Berapa ini?” tanyanya.
“Seratus riyal,” jawab pedagang.
“Ah, terlalu mahal. Lima puluh saja,” katanya sambil mengacungkan lima jari.
Pedagang tertawa, menggeleng, lalu menulis angka 80 di secarik kertas. Beberapa menit kemudian, mereka bersepakat di harga 70. Keduanya berjabat tangan dengan senyum lebar. Jamaah yang lain menyaksikan adegan itu sambil tertawa kecil, menikmati suasana akrab meski awalnya tak saling mengenal.
Tawar-menawar di Madinah bukan sekadar transaksi. Ia menjadi ruang interaksi yang hangat, tempat di mana senyum dan salam bisa menembus batas bahasa dan budaya.
Bagi jamaah Mitra Umroh, setiap barang yang dibeli bukan sekadar oleh-oleh. Di balik setiap kotak kurma, sajadah, atau botol parfum, ada do’a dan cinta yang mereka titipkan untuk keluarga di tanah air.
Ada pula jamaah yang membeli parfum khas Arab untuk sahabat, sajadah untuk orang tua, atau tasbih untuk tetangga. Semuanya dipilih dengan hati. Di setiap belanjaan, terselip harapan agar cinta dari Madinah sampai ke rumah.
Di tengah keramaian lapak-lapak penjual oleh-oleh, jamaah Mitra Umroh menemukan pelajaran berharga. Lapak-lapak pedagang Madinah bukan hanya ruang ekonomi, tetapi juga ruang ukhuwah.
Dari Afrika, Asia, Eropa, hingga Amerika, jamaah Muslim dari berbagai negara bertemu di tempat yang sama. Ada yang berkulit gelap, ada yang berkulit putih, ada yang fasih berbahasa Arab, ada yang terbata-bata. Namun semua disatukan dalam satu salam yang sama, yakni “Assalamu’alaikum.”
Penjual baju gamis di salah satu lapak pasar di Madinah. Sumber foto: Shafa.
Lapak para pedagang Madinah itu cermin dunia Islam. Perbedaan bahasa tak lagi menjadi penghalang. Senyum, salam, dan do’a menjadi bahasa yang paling universal. Di lorong lapak penjual oleh-oleh yang riuh, jamaah merasakan betapa luasnya persaudaraan umat Islam.
Menjelang Dzuhur, jamaah bergegas kembali menuju Masjid Nabawi. Tangan mereka membawa kantong belanja sementara hati mereka penuh dengan rasa syukur. Dari kejauhan, menara-menara Nabawi tampak memanggil.
Saat jamaah sudah membawa belanjaan oleh-oleh pilihannya masing-masing, satu persatu mulai meninggalkan lapak-lapak itu. Mereka memang membawa barang belanjaan, namun tak sekedar barang yang dibawa pulang ke tanah air, melainkan juga rasa ukhuwah, do’a, dan cinta di kota Nabi.
Oleh-oleh terbaik dari Madinah bukanlah hanya kurma, parfum, sajadah, baju gamis, atau tasbih. Oleh-oleh terbaik adalah rasa cinta, persaudaraan, dan kenangan yang akan terus hidup meski kami sudah kembali ke tanah air. (*)
(bersambung, ……….)
Trending Now