Konten dari Pengguna
Cerita Umroh (16): Rindu yang Tertambat di Nabawi
9 September 2025 6:03 WIB
·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Cerita Umroh (16): Rindu yang Tertambat di Nabawi
Masjid Nabawi bukan sekadar bangunan megah. Ia adalah simbol cinta, kedamaian, dan persatuan umat Islam.Sugeng Winarno
Tulisan dari Sugeng Winarno tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Kerinduan itu bermula jauh sebelum keberangkatan. Banyak dari kami, jamaah Mitra Umroh, sudah lama menyimpan do’a agar diberi kesempatan berkunjung ke Tanah Suci.
Setiap kali mendengar kisah orang yang pulang dari Madinah, hati kami bergetar. Setiap kali melihat foto Masjid Nabawi, ada rasa ingin yang tak terbendung. Kerinduan itu seperti ombak yang datang terus-menerus, tak pernah berhenti.
Dan akhirnya, do’a-do’a itu dijawab. Allah memanggil kami untuk memenuhi undangan-Nya.
Perjalanan menuju Madinah penuh harapan. Bagaimana tidak, di antara miliaran umat Muslim di dunia, Allah memilih kami rombongan Mitra Umroh 9 Agustus ini untuk menjadi tamu-Nya.
Saat pengumuman pilot terdengar bahwa sebentar lagi pesawat mendarat di Madinah, hati kami bergetar.
Begitu roda pesawat menyentuh landasan, seakan dada kami dipenuhi bunga-bunga bahagia. Madinah, kota yang penuh berkah, kota yang dijanjikan ketenangan, kini berada di hadapan kami. Rasa lelah perjalanan panjang hilang seketika, tergantikan rasa ingin segera bertemu dengan Masjid Nabawi, rumah Rosulullah.
Saat bus rombongan Mitra Umroh yang kami tumpangi mendekati area Masjid Nabawi, menara-menara tinggi yang berwarna putih menjulang terlihat dari kejauhan. Pemandangan itu membuat dada terasa sesak oleh haru.
Langkah pertama kami di halaman Nabawi begitu ringan. Payung-payung raksasa yang menaungi para jamaah membuat suasana terasa teduh meski matahari terik. Di bawah payung-payung itu, ribuan orang berjalan dengan wajah penuh harap.
Kami seakan menyaksikan miniatur umat Islam dari seluruh dunia, berkumpul di satu tempat dengan tujuan yang sama yakni menggapai ridha Allah.
Saat pertama memasuki pintu masjid Nabawi, aroma harum karpet khas Nabawi menyambut kami. Ruangannya luas, sejuk, dan menenangkan. Suasana hening bercampur dengan lantunan do’a-do’a yang terdengar dari mulut para jamaah. Saat itu kami sadar, inilah rumah Rasulullah, tempat beliau dahulu shalat, mengajarkan Al-Qur’an, dan membimbing umat.
Shalat pertama kami di Masjid Nabawi adalah shalat Dhuhur berlanjut Ashar. Saat takbir berkumandang, kami tak mampu menahan haru. Seolah-olah ada yang berbeda dengan sholat di tempat ini.
Rakaat demi rakaat terasa singkat, padahal hati ingin berlama-lama. Imam membaca ayat-ayat Al-Qur’an dengan suara yang merdu, dan gema bacaan itu menyatu dengan keheningan.
Pengalaman dan kenangan berikutnya adalah saat rombongan kami menuju Raudhoh. Sejak awal kami sudah mendengar bahwa Raudhoh adalah tempat mustajab, taman surga di dunia.
Saat memasuki area itu, tubuh kami berdesakan dengan jamaah lain. Meski sempit dan padat, tidak ada rasa jengkel. Semua rela berkorban demi bisa menjejakkan kaki di tempat yang Rosulullah janjikan sebagai taman surga.
Ketika kami sampai di karpet hijau yang menandai Raudhoh, hati seolah pecah oleh rasa haru. Do’a-do’a yang selama ini hanya tersimpan dalam hati tiba-tiba mengalir deras. Ada yang berdoa untuk keluarganya, ada yang memohon ampunan, ada yang meminta kemudahan rezeki, dan ada yang hanya menangis tanpa kata.
Tidak ada pengalaman yang lebih menggetarkan hati selain ketika berdiri di depan makam Rosulullah. Hati kami penuh rasa hormat, cinta, sekaligus rindu yang sulit digambarkan. Kami melangkah pelan, memberi salam dengan penuh kelembutan.
“Assalamu’alaika ya Rasulullah…”
Di momen itu, kami benar-benar merasakan betapa besar cinta umat kepada Nabi Muhammad, cinta yang melintasi waktu dan jarak.
Hari-hari di Madinah terasa begitu singkat. Setiap shalat di Masjid Nabawi membawa kedamaian. Seusai shalat Subuh, kami sering duduk lama di pelataran masjid sambil menyaksikan langit Madinah berubah dari gelap menjadi biru keemasan. Jamaah dari berbagai negara duduk berdampingan, semua khusyuk dalam ibadah.
Kami juga menyaksikan bagaimana para petugas masjid melayani jamaah dengan penuh kesabaran. Mereka menjaga kebersihan, mengatur kerumunan, dan selalu memberi senyum. Masjid ini memang bukan sekadar tempat ibadah, tetapi rumah bagi seluruh umat.
Diantara kami terbayang bagaimana dahulu Rosulullah sendiri yang ikut membangun masjid ini bersama para sahabat. Bagaimana di sinilah majelis ilmu pertama Islam berlangsung. Dan bagaimana dari tempat ini cahaya Islam menyinari seluruh dunia. Kisah itu membuat hati kami semakin terpaut, semakin sulit melepaskan diri dari masjid yang mulia ini.
Waktu berjalan cepat. Tak terasa hari terakhir rombongan Mitra Umroh di Madinah. Perasaan kami bercampur aduk antara bahagia karena telah diberi kesempatan beribadah di Nabawi, tetapi juga sedih karena harus meninggalkannya.
Kini, setelah kami kembali ke tanah air, kerinduan itu tetap hidup. Setiap kali adzan berkumandang di masjid kampung kami, ingatan akan suara adzan di Masjid Nabawi muncul kembali. Setiap kali membuka mushaf, kami teringat suasana jamaah membaca Al-Qur’an di pelataran Nabawi. Bahkan aroma harum karpetnya masih terasa seakan menempel dalam ingatan.
Rindu ini bukan rindu biasa. Ia adalah rindu yang mengikat hati kepada Rosulullah. Rindu yang membuat kami ingin memperbaiki diri, meningkatkan ibadah, dan menjaga akhlak. Karena Masjid Nabawi bukan sekadar bangunan megah. Ia adalah simbol cinta, kedamaian, dan persatuan umat Islam.
Bagi kami, jamaah Mitra Umroh, Masjid Nabawi adalah rumah kerinduan. Tempat jiwa menemukan ketenangan, tempat do’a-do’a dipanjatkan dengan penuh harap, dan tempat cinta kepada Rosulullah bersemayam.
Kerinduan ini akan selalu tertambat, menunggu saat Allah kembali memberi kesempatan. Dan kami yakin, siapa pun yang pernah menginjakkan kaki di Masjid Nabawi, pasti akan selalu ingin kembali. (*)
(bersambung,……….)

