Konten dari Pengguna

Cerita Umroh (17): Dari Nabawi ke Bir Ali

Sugeng Winarno
Pegiat Literasi Media, Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)
11 September 2025 23:36 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Cerita Umroh (17): Dari Nabawi ke Bir Ali
Perjalanan dari Nabawi ke Bir Ali adalah pengalaman tak terlupakan. Kami semua meninggalkan kota Nabi dengan linangan air mata, lalu memasuki ihram di Bir Ali dengan penuh khusyuk.
Sugeng Winarno
Tulisan dari Sugeng Winarno tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pagi itu, Madinah masih diselimuti kesejukan. Langitnya cerah, cahaya matahari perlahan menyapu atap-atap hotel di sekitar Masjid Nabawi.
Jamaah Mitra Umroh sudah terbiasa bangun lebih awal sejak berada di kota Nabi ini. Ada yang bergegas menuju masjid untuk melaksanakan shalat Subuh berjamaah, ada pula yang memilih berdiam sejenak di kamar sambil menyiapkan hati menghadapi perjalanan penting yang akan mereka jalani hari itu yakni meninggalkan Madinah menuju Makkah al-Mukarramah.
Beberapa hari terakhir di Madinah telah menjadi kenangan berharga. Shalat di Nabawi, ziarah ke makam Rasulullah, duduk khusyuk di Raudhoh yang disebut sebagai taman surga, hingga menyusuri jejak sejarah di sekitar kota suci itu.
Semuanya membekas di hati para jamaah. Kini, kami semua harus melanjutkan rangkaian ibadah umroh dengan mengambil miqot di Masjid Bir Ali.
Selesai makan siang, mutawwif ustad Hilman mengumpulkan kami semua jamaah di lobi hotel. “Bapak-Ibu yang dirahmati Allah, hari ini kita akan meninggalkan Madinah menuju Makkah. Sebelum berangkat, mari kita niatkan perjalanan ini sebagai ibadah. InsyaAllah kita akan singgah di Masjid Bir Ali, tempat miqot bagi penduduk Madinah dan siapa pun yang datang dari arah kota ini,” ungkap ustad Hilman.
Mendengar itu, beberapa diantara kami terdiam. Ada rasa berat di hati karena harus meninggalkan Nabawi. Dalam hati kami, “kapan lagi kita bisa kembali ke sini. Rasanya ingin lebih lama di Nabawi.”
Jamaah Mitra Umroh mengambil miqot di Masjid Bir Ali. Sumber foto: Mitra Umroh.
Ustad Hilman menerangkan, “Jangan khawatir. Setiap doa yang kita panjatkan di Madinah tidak akan sia-sia. Semoga Allah memberikan kesempatan untuk kembali lagi. Kini kita melanjutkan ibadah ke Makkah, tanah suci yang menjadi kiblat shalat kita semua.”
Bus rombongan bergerak meninggalkan kawasan Nabawi. Dari balik kaca bus, jamaah memandangi menara hijau Masjid Nabawi yang kian menjauh. Nampak wajah-wajah yang berat meninggalkan Nabawi. Semua merasakan perpisahan seolah meninggalkan rumah sendiri. Meski demikian, hati kami semua dipenuhi harapan baru untuk segera melihat Ka’bah.
Perjalanan ke Bir Ali hanya sekitar 11 kilometer. Namun, setiap meter jalan seakan membawa jamaah pada refleksi spiritual. Mutawwif ustad Hilman bercerita sepanjang perjalanan:
“Di sinilah Rosulullah berihram ketika berangkat umroh dan haji dari Madinah. Masjid ini menjadi salah satu miqot yang ditetapkan dalam syariat.”
Berjalan kaki memasuki Masjid Bir Ali, Sumber foto: Shafa.
Tak lama, bus memasuki kompleks Masjid Bir Ali. Bangunan masjid berdiri megah dengan menara yang menjulang, dikelilingi halaman luas dan pepohonan kurma yang tertata. Fasilitasnya cukup lengkap seperti tempat wudhu, kamar mandi, hingga ruang ganti yang memadai untuk jamaah dari seluruh dunia.
Para jamaah Mitra Umroh turun dari bus dengan tertib. Suasana terlihat khidmat. Setelah semua siap, kami masuk ke dalam masjid.
Mutawwif mengingatkan untuk meluruskan niat.
“Kini kita akan berniat umroh. Mari kita berniat umroh. Setelah itu, mari kita bersama-sama bertalbiyah.”
Jamaah Mitra Umroh telah mengambil miqot, niat berumroh. Sumber foto: Mitra Umroh.
Di Masjid Bir Ali, di tengah terik panas, ada dermawan yang membagikan minuman juice gratis. Kami semua mengambil minuman dalam botol itu dan meminumnya.
Selanjutnya kami kembali ke bus untuk melanjutkan perjalanan.
Setelah semua memasuki bus, Ustad Hilman memandu kami melantunkan talbiyah.
Minuman juice gratis dibagikan dermawan di Masjid Bir Ali. Sumber foto: Shafa.
Kami semua melantunkan talbiyah dalam perjalanan.
“Labbaik Allahumma labbaik, labbaika laa syarika laka labbaik, innal hamda wan ni‘mata laka wal mulk, laa syarika lak.”
Sejak saat itu, kami semua resmi memasuki keadaan ihram dengan segala larangan dan adabnya.
Bus melaju menuju Makkah al-Mukarramah. Perjalanan sekitar 450 kilometer itu diperkirakan memakan waktu 5–6 jam. Jalan raya yang mulus membentang di antara gurun dan pegunungan batu. Bagi kami, pemandangan ini terasa asing sekaligus menakjubkan.
Sepanjang perjalanan, suasana bus dipenuhi dzikir dan do’a. Ada yang terus melantunkan talbiyah.
Mutawwif Ustad Hilman mengingatkan,“Jangan lupa, selama ihram kita dilarang memotong kuku atau rambut, memakai wewangian, serta berbuat maksiat. Jaga lisan, jaga hati, dan perbanyak do’a.”
Tanaman pohon kurma di Masjid Bir Ali. Sumber foto: Shafa.
Perjalanan ini bukan sekadar fisik, melainkan juga perjalanan batin. Kami semua merenungi betapa ringan kami kini menempuh jarak Madinah ke Makkah dengan bus berpendingin udara. Sementara dahulu Rosulullah dan para sahabat menempuh jalan berat dengan unta dan berjalan kaki di bawah terik matahari.
Bagi jamaah Mitra Umroh, perjalanan dari Nabawi ke Bir Ali adalah pengalaman tak terlupakan. Kami semua meninggalkan kota Nabi dengan linangan air mata, lalu memasuki ihram di Bir Ali dengan penuh khusyuk.
Perjalanan ini mengajarkan bahwa ibadah bukan sekadar ritual, tetapi juga perjalanan batin yang sarat makna. Dari Nabawi kami belajar cinta kepada Rosulullah, di Bir Ali kami belajar kepatuhan pada syariat. (*)
(bersambung, ……….)
Trending Now