Konten dari Pengguna
Cerita Umroh (18): Menuju Tanah Haram
13 September 2025 16:46 WIB
·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Cerita Umroh (18): Menuju Tanah Haram
Setelah beberapa jam perjalanan, akhirnya bus memasuki wilayah Tanah Haram. Suasana hening menyelimuti. Sugeng Winarno
Tulisan dari Sugeng Winarno tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Setelah beberapa hari tinggal di kota Nabi, shalat di Masjid Nabawi, berziarah ke makam Rosulullah dan menikmati ketenangan spiritual yang luar biasa, tibalah waktunya saya bersama rombongan Mitra Umroh meninggalkan Madinah menuju Mekah al-Mukarramah.
Hati saya campur aduk, sedih karena harus berpisah dengan Masjid Nabawi yang penuh ketenteraman, tetapi juga dipenuhi rasa rindu yang tak tertahan untuk bertemu dengan Baitullah, rumah Allah yang menjadi pusat do'a seluruh umat Islam di dunia.

Bus yang kami tumpangi perlahan meninggalkan Masjid Bir Ali dan melaju ke Mekkah. Sepanjang perjalanan kami semua rombongan melantunkan talbiyah:
“Labbaik Allahumma labbaik, labbaika laa syarika laka labbaik. Innal hamda, wan ni‘mata, laka wal mulk, laa syarika lak.”
Bus melaju meninggalkan Madinah. Dari balik jendela, saya menatap jalan raya yang membelah gurun. Pegunungan batu tampak kokoh, langit biru bersih, dan udara kering menyelimuti perjalanan.
Di dalam bus, sebagian jamaah larut dalam dzikir, ada pula yang menutup mata. Saya sendiri memilih terus melafalkan talbiyah, berusaha menjaga hati agar tetap ikhlas.
Muthawwif kami, ustad Hilman mengingatkan: “Sejak berniat di Bir Ali, kita sudah berada dalam ihram. Jaga larangan-larangan ihram, jangan berdebat, jangan marah, dan perbanyak doa.”
Perjalanan panjang kami tak terasa melelahkan karena hati terus berdebar membayangkan Ka’bah. Bayangan kiswah hitam yang menyelimuti Ka’bah seolah sudah hadir di pelupuk mata. Saya membayangkan bagaimana rasanya menatap rumah Allah secara langsung, bukan lagi lewat gambar atau mimpi.
Setelah beberapa jam perjalanan, akhirnya bus memasuki wilayah Tanah Haram. Suasana hening menyelimuti. Muthowwif mengingatkan agar jamaah memperbanyak do'a dan menjaga kesucian niat. Para jamaah menatap keluar jendela, melihat perbukitan gersang yang menyambut, seakan berkata, “Selamat datang di tanah pilihan Allah.”
Hati mulai berdebar. Setiap detik terasa begitu lambat. Bayangan Ka’bah sudah memenuhi pikiran. Diantara kami ada yang menutup mata, mencoba membayangkan hitamnya kiswah yang menyelimuti Ka’bah.
Beberapa waktu kemudian, ustad Hilman mengumumkan: “Kita akan segera memasuki wilayah Tanah Haram.”
Saat mendengar itu, hati saya makin bergetar. Saya memperbanyak do'a dan memohon kepada Allah agar perjalanan ini diterima, agar langkah kami semua sampai ke Baitullah dengan selamat.
Kami semua rombongan menunduk, melafalkan istighfar berulang kali. Kami semua merasa seakan Allah benar-benar sedang menyambut kedatangan kami sebagai tamu-Nya.
Akhirnya, bus memasuki kota Mekah. Lampu-lampu kota menyala terang, suasana semakin ramai. Rasa haru bercampur dengan rasa tak percaya.
Terlihat dari kejauhan menara clock tower dengan nyala lampu warna hijau.
“Inilah Mekah,” bisik saya dalam hati, “kota suci yang sejak kecil selalu saya rindukan.”
Kami berhenti di hotel untuk menaruh barang-barang. Diantara kami sudah tidak sabar.
Meski tubuh lelah karena perjalanan panjang, semangat untuk segera bertemu dengan Ka’bah mengalahkan segalanya.
Kami semua sadar bahwa Tanah Haram bukan hanya sebuah wilayah suci, tetapi juga simbol kasih sayang Allah yang memanggil hamba-Nya untuk datang, agar hati mereka kembali bersih dan jiwa mereka kembali tenang.
Ketika bus berhenti di area parkir hotel, jamaah segera menuju kamar untuk meletakkan barang-barang.
Meski tubuh lelah, semangat ibadah mengalahkan segalanya. Ustad Hilman selalu muthowwif mengingatkan,“Kita segera menuju Masjidil Haram untuk melaksanakan umroh pertama kita. Jaga kekompakan, jangan berpisah dari rombongan, dan persiapkan hati untuk perjumpaan dengan Ka’bah.”
Kalimat itu membuat semua jamaah menahan napas. Inilah momen yang sudah lama ditunggu, momen yang selama ini hanya hadir dalam do'a dan mimpi untuk bisa melihat Ka’bah dari dekat. (*)
(bersambung,…..)

