Konten dari Pengguna
Cerita Umroh (19): Melihat Ka’bah dari Dekat
15 September 2025 4:47 WIB
·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Cerita Umroh (19): Melihat Ka’bah dari Dekat
Momen yang paling membekas dalam hati adalah saat pertama kali memandang Ka’bah. Di detik itu, jamaah benar-benar merasakan arti dari perjalanan menuju Tanah Haram. Sugeng Winarno
Tulisan dari Sugeng Winarno tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Muthowwif kami, Ustad Hilman, menyampaikan, “Setelah ini kita langsung menuju Masjidil Haram untuk melaksanakan thawaf. Siapkan hati, karena sebentar lagi kita akan melihat Ka’bah.”
Malam itu, langit Makkah bertabur cahaya lampu dari menara-menara Masjidil Haram. Udara terasa hangat, khas kota yang dikelilingi bukit dan gunung berbatu.
Meski tubuh kami semua lelah akibat perjalanan panjang, wajah-wajah kami tampak bersemangat. Ada sinar bahagia yang tak bisa disembunyikan.
Sebentar lagi akan menyaksikan pemandangan yang selama ini hanya hadir dalam do’a dan mimpi yakni Ka’bah, rumah Allah, kiblat seluruh umat Islam.
Kami berjalan beriringan menuju Masjidil Haram. Dari kejauhan, menara-menara tinggi masjid sudah terlihat, berdiri anggun menyambut para jamaah. Lampu-lampu putih memancarkan cahaya seakan menuntun langkah kami.
Ketika melewati gerbang besar, kami semua benar-benar merasakan aura berbeda. Udara terasa lebih lembut, suasana hati terasa lebih damai.
Kami semua menanggalkan alas kaki, menyimpan alas kaki dalam plastik dan memasukkannya dalam tas serut. Kami semua lalu melangkahkan kaki di atas marmer putih yang dingin.
Setiap langkah menuju Ka’bah semakin mempertebal rasa haru. Lantai marmer putih yang dingin menyentuh telapak kaki kami semua. Aroma khas Masjidil Haram tercium perpaduan wangi sederhana dan udara malam yang sejuk.
Kami semua jamaah Mitra Umroh berjalan dengan tertib, menundukkan kepala, menjaga kesunyian hati.
Semakin dalam kami masuk, semakin besar rasa haru itu. Ustad Hilman terus berjalan di depan, mengarahkan kami ke arah Ka’bah. Hati saya berdebar sangat kencang.
Dan akhirnya, pandangan itu tiba. Dari balik kerumunan jamaah, mata saya tertuju pada satu titik yakni Ka’bah.
Air mata jamaah mengalir tanpa bisa ditahan. Lutut saya terasa lemas. Seperti mimpin, di hadapan saya berdiri bangunan yang selama ini menjadi arah shalat saya, yang setiap hari saya sebut dalam do’a, dan yang selama ini saya rindukan dalam mimpi.
Selama ini saya dan jamaah yang lain hanya melihat Ka’bah dalam bentuk gambar yang sering dipasang di dinding ruang tamu rumah. Ka’bah juga sering kita lihat di pigura aneka rupa yang dijual di toko-toko yang menjual busana dan perlengkapan muslim.
Ka’bah juga sering kami lihat saat ada jamaah haji atau umroh sedang manasik atau simulasi melakukan thawaf.
Kini kami semua jamaah dapat melihat Ka’bah langsung dari jarak dekat. Kami bisa melihat Ka’bah dengan Kiswah hitamnya yang berkilau, kaligrafi emasnya tampak begitu indah. Jutaan manusia dari seluruh penjuru dunia mengelilinginya.
Terlihat oleh kami semua jamaah Mitra Umroh yakni Hajar Aswad yang dikerumuni banyak jamaah yang ingin mencium dan berdo’a. Di sebelahnya, diantara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah ada Multazam, tempat yang ijabah terkabulnya do’a-do’a.
Ada juga yang sedang sholat di dalam Hijir Ismail, bagian Ka’bah yang juga mustajab terkabulnya do’a-do’a.
Sementara jamaah yang lain terlihat berebut bisa menyentuh sudut Rukun Yamani.
Di sekitar Maqom Ibrahin juga tampak berjejal sejumlah jamaah yang ada di sekeliling tempat tapak kaki Ibrahim itu.
Terlihat pula sejumlah askar berseragam yang sedang sibuk mengatur agar jamaah berjalan tertib.
Saya dan jamaah yang lain menengadahkan tangan, berdoa dengan suara bergetar.
Ustad Hilman memimpin kami semua berdo’a saat melihat Ka’bah untuk yang pertama kali.
Di hadapan Ka’bah, semua rasa lelah, semua rasa berat dalam hidup, seakan hilang begitu saja.
Malam itu, kami memulai thawaf mengelilingi Ka’bah sebanyak 7 putaran, melanjutkan Sa’i antara Shafa dan Marwah juga sebanyak 7 putaran, hingga menyempurnakan umroh dengan Tahallul, memotong 3 helai rambut kepala atau mencukurnya.
Momen yang paling membekas dalam hati saya tetaplah saat pertama kali memandang Ka’bah.
Di detik itu, saya benar-benar merasakan arti dari perjalanan menuju Tanah Haram.
Bukan sekadar perjalanan fisik dari Madinah ke Mekkah, tetapi perjalanan hati dari dunia menuju kedekatan dengan Allah.
Bagi jamaah Mitra Umroh, malam itu akan selalu menjadi kenangan sepanjang hayat. Detik pertama menatap Ka’bah dari dekat, kami semua merasa seluruh do’a, harapan, dan rindu yang dipendam selama ini akhirnya terjawab. (*)
(bersambung, ……….)

