Konten dari Pengguna

Cerita Umroh (2): Karpet Masjid Nabawi

Sugeng Winarno
Pegiat Literasi Media, Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)
26 Agustus 2025 9:03 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Cerita Umroh (2): Karpet Masjid Nabawi
Karpet di Masjid Nabawi bukan sekadar alas shalat, tetapi bagian dari sistem pelayanan jamaah yang sangat diperhatikan oleh Pemerintah Kerajaan Arab Saudi.
Sugeng Winarno
Tulisan dari Sugeng Winarno tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Akhirnya kami serombongan menginjakkan kaki di pelataran Masjid Nabawi.
Dengan semburan butiran air kipas angin yang terpasang di beberapa tiang payung masjid Nabawi, kami merasakah kesegaran.
Rasa panas dalam berjalanan dari hotel menuju masjid yang tak sebegitu jauh itu seketika sirna.
“Mak nyess”. Saat kaki- kaki kami memasuki masjid Nabawi dan menginjak karpet empuk berwarna hijau itu.
Otot-otot kaki kami yang tegang selama perjalanan naik pesawat dan bus itu jadi rileks saat menginjak matras lembuh karpet Masjid Nabawi.
Karpet Masjid Nabawi.
Ya, karpet Masjid Nabawi memang spesial. Karpet yang selama ini hanya saya lihat lewat unggahan foto-foto dan video jamaah umroh di media sosial, saat ini benar-benar telah saya dan semua jamaah rombongan Mitra Umroh Sejahtera rasakan empuknya.
Kami masuk masjid Nabawi melalui gerbang (gate) 331. Ustad Hilman memandu kami. Menjelaskan singkat, area masjid, termasuk tempat air Zam-Zam yang bisa diminum jamaah.
Kami memasuki masjid dengan melepas alas kaki dan membungkusnya dengan plastik yang sudah tersedia di pintu masuk.
Tempat alas kami di salah satu pintu masuk Masjid Nabawi. Sumber foto: penulis.
Kami masuk area Masjid Nabawi dengan disambut aroma khas Masjid Nabawi.
Saya bersama bapak-bapak, memilih menyusuri pilar-pilar Masjid Nabawi hingga sampai di shaf depan. Kami mengambil shaf di barisan depan dan sholat Dhuhur berjamaan bersama bapak-bapak karena sholat dhuhur berjamaah di Masjid Nabawi telah selesai dilaksanakan saat kami memasuki masjid.
Bapak-Bapak Jamaah Mitra Umroh bersiap sholat berjamaah di Masjid Nabawi. Sumber foto: Ustad Hilman.
Setelah kami semua sholat, petugas yang membawa galon air zam-zam dipundaknya menghampiri kami. Ia mengalirkan air Zam-Zam di gelas plastik dan diberikannya kepada kami satu per satu. Tak lama kemudian orang lain yang bertugas memungut plastik gelas habis pakai mengampiri kami dan meminta gelas bekas yang telah kami pakai.
Sambil menunggu waktu sholat Ashar, kami pun berzikir, berdo’a, dan memandangi sekeliling tempat kami sholat. Mulai dari pilar-pilar, arsitektur, ornamen, lampu-lampu, dan semua detail masjid kami cermati.
Jamaah Mitra Umroh sedang bersujud di atas karpet Masjid Nabawi. Sumber foto: Ustad Hilman.
Dan yang tak luput kami cermati adalah karpet Masjid Nabawi.
Sebelum saya datang ke masjid Nabawi, saya telah banyak mendapat cerita tentang karpet masjid yang super empuk ini.
Karpet di Masjid Nabawi bukan sekadar alas shalat, tetapi bagian dari sistem pelayanan jamaah yang sangat diperhatikan oleh Pemerintah Kerajaan Arab Saudi. Sejak perluasan besar-besaran pada abad ke-20, karpet-karpet khusus dipasang agar jamaah dari seluruh dunia bisa beribadah dengan nyaman, bersih, dan teratur.
Motif karpet Masjid Nabawi tidak terlalu mencolok, namun berfungsi sebagai panduan barisan shalat. Desainnya bernuansa Arab klasik dengan ukiran geometris sederhana.
Kualitas karpet Masjid Nabawi dibuat dari bahan wol murni berkualitas tinggi, tahan lama, lembut, dan dirancang khusus agar nyaman dipakai jamaah yang duduk atau sujud berjam-jam.
Ukuran setiap karpet memiliki panjang sekitar 4 meter dan lebar 1,2 meter, dengan garis motif sebagai pembatas shaf.
Menurut beberapa sumber, karpet Masjid Nabawi diproduksi secara khusus, menggunakan karpet wol premium berkualitas tinggi. Dibuat oleh pabrik karpet Al-Safiyah Carpet Factory, sebuah pabrik resmi di Arab Saudi yang ditugaskan membuat karpet untuk dua masjid suci (Masjid Nabawi dan Masjidil Haram).
Setiap karpet diberi kode tertentu agar mudah diidentifikasi. Jika rusak atau kotor, petugas segera mengganti dengan yang baru.
Saat saya dan beberapa teman lain mengamati seluruh isi masjid, kami lihat sejumlah petugas sedang membersihkan karpet dengan mesin vacum. Bagian masjid yang karpetnya sedang dilakukan pembersihan dan penyedotan debu ditutup dengan penutup khusus yang dikaitkan antara pilar yang satu dengan yang lain.
Waktu sholat Ashar berjamaah pun tiba. Kami mendengar lantunan suara Azan yang sangat merdu. Suara azan yang benar-benar memanggil hati kami untuk berserah diri, bermunajat, dan beribadah.
Kami pun sholat berjamaah Ashar. Kami melihat jamaah datang dari segala penjuru dunia. Kami berbeda asal negara, warna kulit, postur tubuh. Pakaian dan bahasa kami tak sama, namun kami semua disatukan oleh seruan Azan dan sholat yang hendak kita dirikan.
Di selembar karpet hijau Masjid Nabawi itu kami bersujud. Kami bersimpuh. Jutaan dahi bersujud di atas karpet Nabawi. Jutaan air mata jatuh dan meresap ke dalam serat-serat karpet tebal itu.
Karpet Nabawi seakan jadi saksi wajah-wajah yang datang dengan harapan. Ada yang bergetar menahan tangis, ada yang tunduk dalam syukur, ada yang berbisik lirih dan hanya Allah yang mengerti.
Dari ujung dunia mereka datang. Laki-laki, perempuan, tua, muda, kaya, miskin. Mereka semua sama ketika keningnya menyentuh karpet Masjid Nabawi.
Karpet Masjid Nabawi jadi saksi do’a seorang ayah yang meminta rezeki halal bagi keluarganya. Karpet itu juga merasakan basahnya air mata seorang ibu yang tulus berdo’a demi anaknya. Mendengar doa sepasang suami istri yang merindukan kehadiran buah hatinya. Karpet Nabawi juga mendengar bisikan seorang hamba yang menyesali dosa-dosanya.
Ibu-Ibu Jamaah Mitra Umroh berpose di pelataran Masjid Nabawi. Sumber foto: Mitra Umroh.
Karpet Nabawi itu jadi saksi sekian banyak do’a-do’a dipanjatkan dan terbang tinggi, melewati tiang-tiang masjid Nabawi dan menuju Arasy Allah yang agung.
Kami semua rombongan jamaah Mitra Umroh Sejahtera bersyukur. Kami menangis, jiwa kami bergetar. Kami menemukan damai, kami menemukan tenang, di Masjid Nabawi beralas karpet hijau nan empuk itu. (*)
(bersambung, ……….)
Trending Now