Konten dari Pengguna
Cerita Umroh (21): Sa’i: Menapaki Jejak Siti Hajar
19 September 2025 4:59 WIB
·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Cerita Umroh (21): Sa’i: Menapaki Jejak Siti Hajar
Sa’i adalah ibadah yang pada hakikatnya adalah napak tilas perjuangan seorang ibu yakni Siti Hajar, yang berlari bolak-balik di padang tandus Mekkah, mencari air untuk anaknya, Nabi Ismail.Sugeng Winarno
Tulisan dari Sugeng Winarno tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Setelah Thawaf di Ka’bah, selesai dengan do’a dan linangan air mata, tubuh kami terasa letih namun hati dipenuhi ketenangan.
Jamaah Mitra Umroh diarahkan oleh muthowwif ustadz Hilman menuju bukit Shafa. Dari jauh kami melihat tanda penanda Sa’i, sebuah jalur panjang yang membentang di dalam Masjidil Haram, menghubungkan dua bukit bersejarah yakni Shafa dan Marwah.
Di sinilah perjalanan kami dimulai.
Sa’i adalah ibadah yang pada hakikatnya adalah napak tilas perjuangan seorang ibu yakni Siti Hajar, yang berlari bolak-balik di padang tandus Mekkah, mencari air untuk anaknya, Nabi Ismail yang kala itu masih bayi.
Kami berdiri di kaki bukit Shafa. Muthowwif mengingatkan, “Mari berniat. Sa’i bukan sekadar berjalan. Ini adalah mengikuti jejak cinta, iman, dan ketabahan seorang ibu. Kita sedang menghidupkan kembali momen yang penuh keajaiban.”
Kami menghadap ke arah Ka’bah. Tangan terangkat, do’a dipanjatkan.
Hati saya bergetar. Bagaimana seorang Siti Hajar, seorang wanita, mampu bertahan di tengah padang pasir tanpa makanan dan minuman, hanya berbekal iman.
Rombongan kami mulai berjalan. Rombongan jamaah Mitra Umroh saling menjaga satu sama lain. Jalur Sa’i dipenuhi jamaah dari berbagai negara. Ada yang melangkah cepat, ada yang pelan, ada pula yang didorong dengan kursi roda. Semuanya dengan satu tujuan yakni meneladani Siti Hajar.
Di bagian jalur yang ditandai lampu hijau, para jamaah laki-laki mempercepat langkah dengan lari kecil, sebagaimana sunnah. Jamaah perempuan tetap berjalan dengan mantap. Suara zikir terdengar di sekeliling. Muthowwif memimpin do’a dan semua jamaah menirukan.
Sampai di Marwah, kami berhenti. Tangan kembali terangkat. Ada rasa lega, seolah satu putaran membawa kami lebih dekat dengan Allah.
Putaran demi putaran kami jalani. Dari Marwah kembali ke Shafa, lalu lagi ke Marwah. Tujuh kali bolak-balik bukanlah perjalanan pendek, apalagi setelah Thawaf sebelumnya. Tapi anehnya, rasa letih berubah menjadi energi spiritual. Semakin melangkah, semakin kuat rasa syukur dalam hati.
Di bawah lampu hijau, saya dan jamaah laki-laki yang lain mempercepat langkah. Sesaat terbayang Siti Hajar yang berlari cemas, mencari tanda kehidupan, mencari setetes air.
Tepat di bawah lampu hijau itu kami membaca do’a:
"Rabbighfir warham wa'fu wa takarram, wa tajaawaz 'ammaa ta'lam innaka ta'lamu maa laa na'lamu. Allahummaghfir warham innaka antal aa'azzul akram."
Setiap kali berhenti di ujung, do’a kembali dipanjatkan. Ada jamaah yang memohon rezeki, ada yang memohon kesembuhan dari penyakit, ada yang berdo’a agar anak-anaknya menjadi sholeh sholehah. Semua do’a itu berpadu menjadi harmoni spiritual.
Tujuh kali perjalanan akhirnya tuntas. Kami berhenti sejenak, sebagian jamaah duduk melepas lelah. Tapi di wajah mereka tidak ada keluhan, justru senyum syukur.
Muthowwif, kemudian menyampaikan bahwa, “Sa’i mengajarkan kita bahwa usaha dan do'a harus berjalan beriringan. Siti Hajar berlari, berusaha, tidak menyerah. Tapi pada akhirnya, Allah lah yang memberikan Zam Zam sebagai jawaban. Begitulah hidup. Kita berusaha, kita berlari, kita berdo’a, tapi hasilnya kita serahkan kepada Allah.”
Sa’i adalah koreksi bagi jiwa kami untuk berusaha sekuat tenaga, lalu menyerahkan sepenuhnya kepada Sang Maha Pemberi.
Bagi sebagian dari kami, Sa’i bukan sekadar ritual. Ia adalah perjalanan batin. Perjalanan yang mengingatkan bahwa di balik setiap ujian, ada pertolongan Allah yang menunggu di ujung jalan.
Ketika kami berjalan keluar dari jalur Sa’i, hati kami terasa ringan. Meski tubuh lelah, jiwa kami dipenuhi kekuatan baru. Kami sadar, hidup ini memang penuh dengan “Sa’i” yakni usaha, perjuangan, bolak-balik antara harapan dan kenyataan. Tapi seperti Siti Hajar, kami harus yakin bahwa di ujung jalan, ada “Zam Zam” yang Allah sediakan untuk setiap hamba-Nya.
Hari itu, kami belajar banyak dari Sa’i. Bahwa kehidupan ini adalah perjalanan bolak-balik, penuh usaha, kadang berlari, kadang hanya mampu berjalan. Bahwa do’a tidak boleh terpisah dari kerja keras. Bahwa kesabaran dan tawakal adalah kunci setiap ujian.
Sa’i membuat kami semakin yakin bahwa Allah selalu mendengar. Allah selalu melihat. Dan Allah selalu menjawab do’a, meski dengan cara yang tak pernah kita duga.
Bersama jamaah Mitra Umroh, kami keluar dari Masjidil Haram dengan hati yang penuh syukur. Perjalanan Sa’i akan selalu kami kenang, bukan hanya sebagai bagian dari rangkaian umroh, tetapi sebagai pelajaran hidup yang akan terus tertanam dalam diri kami. (*)
(bersambung, ……….)

