Konten dari Pengguna

Cerita Umroh (22): Tahalul: Rambut yang Dipotong, Ego yang Dilepas

Sugeng Winarno
Pegiat Literasi Media, Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)
21 September 2025 4:58 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Cerita Umroh (22): Tahalul: Rambut yang Dipotong, Ego yang Dilepas
Tahalul itu bukan soal rambut. Rambut hanyalah simbol. Yang Allah ingin adalah kerelaan hati kita. Rela melepas kebanggaan, kuasa, dan ego. Rela mengakui bahwa kita ini hanyalah hamba yang lemah.
Sugeng Winarno
Tulisan dari Sugeng Winarno tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Langkah-langkah kami akhirnya berhenti di ujung Marwah. Sa’i telah usai, tujuh kali perjalanan bolak-balik antara Shafa dan Marwah yang penuh doa, keringat, dan air mata kini selesai. Nafas masih terengah, kaki terasa berat, tapi hati begitu ringan.
Saya menunduk, menyadari bahwa rangkaian umroh sudah hampir selesai. Tinggal satu tahap yakni tahalul. Tahalul itu ibadah yang sekilas tampak sederhana, hanya memotong rambut, tetapi maknanya amat dalam.
Ustadz Hilman sebagai muthawwif dengan suara lembut berkata, “Bapak, Ibu, alhamdulillah Thawaf sudah kita jalani, Sa’i sudah kita lakukan. Kini saatnya Tahalul. Inilah penanda berakhirnya umroh kita.”
Secara bergantian Bapak-Bapak jamaah Mitra Umroh sebagian rambutnya di potong Muthowwif. Sumber foto: Shafa.
Kami duduk berbaris, menunggu giliran. Jamaah laki-laki bergantian dipotong ustad hilman. Jamaah perempuan secara berggantian memotong ujung rambut mereka, kira-kira sejengkal jari.
Diantara kami ada yang memilih cukup memotong tiga helai rambut. Namun sebagian bapak-bapak yang lain memilih untuk menggunduli rambutnya.
Saya berdiri di depan ustad Hilman yang sedang membawa gunting kecil dan memotong helai rambut saya. Hanya beberapa helai rambut, mungkin nyaris tak berarti. Namun saya sadar, di hadapan Allah, itu bukan sekadar helai rambut. Itu adalah simbol kerelaan saya melepaskan sesuatu dari diri saya.
Tahalul, memotong beberapa helai atau menggundul rambut kepala. Sumber foto: Shafa.
Dalam hati saya berdoa, “Ya Allah, terimalah Tahalulku ini. Seperti aku rela melepaskan rambutku, aku pun ingin rela meninggalkan dosa, kesombongan, dan keangkuhan. Jadikan aku hamba yang rendah hati di hadapan-Mu.”
Kami semua dalam suasana haru. Rambut yang kecil itu menjadi saksi kerendahan hati seorang hamba yang rela menyerahkan segalanya pada Allah.
Ustadz Hilman kembali memberi tausiyah singkat, “Tahalul itu bukan soal rambut. Rambut hanyalah simbol. Yang Allah ingin lihat adalah kerelaan hati kita. Rela melepas kebanggaan, kuasa, dan ego. Rela mengakui bahwa kita ini hanyalah hamba yang lemah.”
Saya termenung. Betul sekali. Rambut tumbuh setiap hari, kita sisir, kita rapikan, kadang kita banggakan. Tetapi dalam Tahalul, kita diajak untuk rela melepas sebagian dari itu. Sama halnya dengan hidup. Allah bisa saja meminta kita melepas sesuatu yang kita cintai, untuk melihat apakah kita benar-benar ikhlas.
Ada yg berTahalul dengan memotong gundul rambut kepalanya. Sumber foto: Mitra Umroh.
Setelah Tahalul, ustadz Hilman berkata, “Sekarang Bapak Ibu sudah keluar dari ihram. Semua larangan ihram sudah boleh dilakukan kembali. Tapi ingat, jangan hanya keluar dari kain ihram, tapi masuklah ke dalam kesucian hati.”
Kata-kata itu membuat kami semua merenung. Ihram memang sudah dilepas, tapi apakah hati saya tetap suci setelah pulang ke tanah air? Ataukah saya akan kembali ke kebiasaan lama yang penuh kelalaian?
Tahalul membuat saya paham bahwa kerelaan itu membebaskan. Rambut yang dipotong hanyalah simbol kecil. Tapi ketika saya rela, saya merasa ringan. Seakan-akan Allah sedang berkata “Jika kau bisa rela pada hal kecil, belajarlah rela pada hal-hal besar dalam hidupmu.”
Prosesi Tahalul, memotong beberapa helai rambut kepala. Sumber foto: Shafa.
Saya jadi teringat banyak hal, kerelaan melepaskan harta untuk sedekah, kerelaan memaafkan orang yang menyakiti, kerelaan menghadapi takdir Allah meski pahit. Bukankah semua itu hakikatnya sama dengan Tahalul?
Tahalul itu tak sekedar memotong rambut, tetapi juga melepas ego. Melepaskan sesuatu yang kita genggam erat, agar hati kita lebih bersih dan lapang.
Selesai Tahalul, suasana di rombongan kami penuh rasa syukur. Ada yang saling menepuk bahu, ada yang berpelukan. Persaudaraan di antara jamaah Mitra Umroh terasa semakin kuat.
Kami sama-sama belajar bahwa ibadah ini bukan hanya tentang ritual, tapi tentang makna. Dan makna Tahalul telah mengikat hati kami dalam satu pelajaran besar yakni kerelaan.
Tahalul, bagian akhir dari rangkaian Umroh. Sumber foto: Shafa.
Saya sadar, hidup ini penuh dengan “Tahalul.” Setiap hari, Allah meminta kita untuk rela melepas sesuatu. Kadang harta, kadang waktu, kadang rasa nyaman, kadang orang yang kita cintai. Semua itu adalah ujian kerelaan. Dan setiap kali kita rela, kita semakin dekat dengan-Nya.
Saya berdoa lirih: “Ya Allah, sebagaimana aku telah rela melepas rambutku hari ini, ajarkanlah aku untuk selalu rela pada ketetapan-Mu. Relakan aku melepas kesombongan, dosa, dan segala yang menjauhkan diriku dari-Mu.”
Hari itu, di tanah suci, saya benar-benar memahami bahwa Tahalul adalah tentang kerelaan dan tentang melepas ego. Bukan hanya kerelaan memotong rambut, tapi kerelaan hati untuk tunduk sepenuhnya kepada Allah.
Kerelaan untuk mengakui bahwa kita hanyalah hamba yang lemah. Kerelaan untuk meninggalkan ego dan dosa. Kerelaan untuk percaya sepenuhnya pada kehendak Allah. Bersama jamaah Mitra Umroh, saya menyelesaikan umroh dengan penuh syukur. Tahalul menjadi puncak yang mengajarkan makna terdalam dari perjalanan umroh ini. (*)
(bersambung, ……….)
Trending Now