Konten dari Pengguna
Cerita Umroh (5): Melihat Kebun Kurma di Kota Asalnya
29 Agustus 2025 2:13 WIB
·
waktu baca 5 menit
Kiriman Pengguna
Cerita Umroh (5): Melihat Kebun Kurma di Kota Asalnya
Ketika menjejakkan kaki di kota Madinah, pengalaman itu berubah sama sekali. Kurma tak lagi hanya sekadar buah dalam kotak, melainkan tumbuhan nyata di hadapan kita, di tanah asalnya.Sugeng Winarno
Tulisan dari Sugeng Winarno tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
“Bapak ibu, setelah dari Masjid Quba, kini kita akan menuju kebun kurma,” ucap ustad Hilma saat bus yang membawa rombongan kami berjalan keluar parkiran.
Melihat pohon kurma mungkin semua jamaah sudah pernah. Namun, melihat pohon kurma di kota asal kurma tumbuh belum semua jamaah pernah.
Beda rasanya jika melihat atau makan sesuatu di kota asalnya.
Makanan gudeg misalnya, bisa ada di mana-mana. Tetapi tentu beda jika makan gudeg di kota asal gudeg, Jogja.
Bakso juga ada di banyak tempat, namun tentu beda jika makan baksonya di kota asal bakso yakni Malang. Beda sensasi dan rasanya makan bakso President di pinggir rel kereta di Malang, Bakso bakar Cak Man, Bakso Damas, Bakso Toha, Bakso Prima, Bakso Tutus, dan banyak warung bakso spesial di Malang.
Bisa saja ada kebun kurma di Pasuruan Jatim, namun kebun kurma di Madinah tentu beda dengan kebuh kurma yang tidak di kota asalnya.
Tak seberapa jauh dari Masjid Quba, rombongan bus Mitra Umroh sudah tiba di testinasi kebun kurma. Namun, melihat antrean bus di parkiran sangat padat, bus putar balik dan mengalihkan tujuan ke kebun kurma di tempat lain.
Setelah berputar-putar mencari are kebun kurma yang agak cukup sepi, akhirnya rombongan kami tiba di salah satu wisata kebun kurma.
Selain pohon kurma, di tempat itu juga dijual aneka makanan yang biasa di temui di Indonesia. Bakso misalnya. Saya lihat Mas Shocheh dan istri tertarik mencoba sensasi makan bakso di area kebun kurma.
“Monggo bakso kebun kurma, 90K only,” Tulis Mas Shocheh di WAG Umroh 9 Agustus.
Sementara teman yang lain membeli aneka barang dan makanan oleh-oleh, saya dan Shafa, mencoba kedai kopi yang ada di dekat pintu masuk.
Kopi ekspresso saya pesan dan saya nikmati di salah satu kursi santai yang banyak terdapat di sudut kebuh kurma itu.
Selanjutnya kami berkeliling dan melihat-lihat kebun kurma sebelum akhirnya beberapa diantara kami membeli oleh-oleh kurma dan aneka makanan berbahan coklat.
Bagi kebanyakan orang Indonesia, kurma hadir dalam bentuk kotak-kotak rapi di pasar atau toko menjelang Ramadan. Kita terbiasa melihatnya tersusun di rak swalayan, menjadi buah yang identik dengan berbuka puasa.
Ketika menjejakkan kaki di kota Madinah, pengalaman itu berubah sama sekali. Kurma tak lagi hanya sekadar buah dalam kotak, melainkan tumbuhan nyata di hadapan kita, di tanah asalnya, di kebun-kebun kurma yang hijau, rindang, sekaligus sakral.
Madinah, sebuah kota yang dikelilingi gurun, menyimpan keajaiban berupa pohon kurma. Di tengah terik matahari dan tanah kering, pohon ini justru tumbuh subur. Batangnya menjulang tinggi, daunnya merumbai, dan tandan buahnya menggantung indah dengan warna yang beragam hijau, merah ranum, hingga coklat keemasan.
Kurma disebut sebagai pohon kehidupan di tanah Arab. Sebab, hampir seluruh bagiannya bermanfaat. Batangnya bisa digunakan sebagai kayu atau bahan bangunan, daunnya untuk kerajinan atau atap rumah, sementara buahnya adalah sumber energi dan gizi yang mampu bertahan lama. Tidak berlebihan jika kurma menjadi sandaran utama pangan masyarakat Arab sejak ribuan tahun lalu.
Sejak zaman Rosulullah, kurma sudah lekat dalam kehidupan sehari-hari. Rosulullah sendiri menjadikan kurma sebagai salah satu makanan favoritnya. Lebih dari itu, kurma punya tempat khusus dalam ibadah. Rosulullah selalu berbuka puasa dengan kurma, dan tradisi ini terus diwariskan hingga kini. Tak heran, setiap Ramadan tiba, kurma menjadi buah yang paling dicari di seluruh dunia.
Al-Qur’an pun beberapa kali menyebut kurma sebagai nikmat Allah. Salah satunya dalam Surah Maryam ayat 25, ketika Maryam diperintahkan untuk menggoyangkan pohon kurma agar buahnya gugur untuk menguatkannya saat melahirkan. Kurma hadir bukan hanya sebagai makanan, tetapi sebagai simbol kasih sayang Allah kepada hamba-Nya.
Beberapa dari kami rombongan Mitra Umroh mencoba mencicipi aneka kurma yang dijual di areal wisata kebun kurma yang sedang kami kunjungi.
Saya coba bertanya tentang kurma Madinah ke beberapa petugas yang melayani pembeli.
Madinah terkenal sebagai penghasil kurma terbaik. Ada kurma “Ajwa”, yang disebut sebagai kurma kesayangan Rasulullah, berwarna gelap dengan rasa lembut.
Selain “Ajwa”, ada kurma “Sukari” yang legit dan lumer di mulut. Ada pula “Safawi” yang berwarna hitam pekat, serta kurma “Ruthob”, kurma muda segar dengan tekstur renyah.
Setiap jenis kurma membawa keunikan rasa, dan masing-masing punya penggemar tersendiri.
Kurma bukan sekadar buah, melainkan bagian dari denyut ekonomi Madinah. Banyak keluarga yang secara turun-temurun mengelola kebun kurma, menjadikannya sebagai sumber penghidupan. Pasar-pasar di Madinah selalu ramai dengan pedagang kurma, sementara sebagian besar hasil panen diekspor ke berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia.
Selain sebagai komoditas ekonomi, kebun kurma kini juga menjadi destinasi wisata religi. Hampir setiap rombongan jamaah haji atau umrah diajak berkunjung ke kebun kurma. Di sana, mereka tak hanya bisa membeli oleh-oleh, tetapi juga merasakan ketenangan berada di tengah hamparan pohon kurma.
Pohon kurma bukan sekadar tumbuhan, tetapi juga simbol keteguhan iman. Ia mampu bertahan hidup di tanah gersang, menghadapi terik matahari, tapi tetap menghasilkan buah yang manis. Sifat ini mengajarkan kita tentang kesabaran, keteguhan, dan manfaat.
Seorang Muslim idealnya seperti pohon kurma. Kokoh dalam keimanan, sabar dalam menghadapi ujian, dan selalu memberi kebaikan bagi orang lain. Tak heran, para ulama kerap menjadikan pohon kurma sebagai metafora kehidupan orang beriman.
Bagi kami semua rombongan Mitra Umroh, melihat kebun kurma di kota asalnya, Madinah, adalah pengalaman spiritual. Di sana kita tak hanya menyaksikan pohon dan buah, tetapi juga menyentuh sejarah panjang Islam.
Pohon-pohon kurma itu adalah saksi kehidupan Rosulullah, para sahabat, dan generasi awal Islam yang menjadikan kurma sebagai makanan, sumber energi, dan simbol keberkahan. (*)
(bersambung,……….)

