Konten dari Pengguna

Cerita Umroh (6): Uhud: Gunung yang Mencintai dan Dicintai

Sugeng Winarno
Pegiat Literasi Media, Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)
30 Agustus 2025 4:37 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Cerita Umroh (6): Uhud: Gunung yang Mencintai dan Dicintai
Jabal Uhud adalah salah satu gunung bersejarah di Madinah yang tak pernah lepas dari kisah perjuangan Islam pada masa Rasulullah.
Sugeng Winarno
Tulisan dari Sugeng Winarno tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sebagai bagian dari kegiatan ziarah jamaah Mitra Umroh, rombongan kami juga berziarah ke Jabal Uhud.
Perjalanan ditempuh selepas dari wisata kebun kurma.
Cuaca cukup terik saat rombongan kami tiba di Jabal Uhud.
Dari dalam bus terlihat banyak rombongan peziarah yang menuju Jabal Uhud.
Tersedia lahan parkir bus yang sangat luas yang dapat menampung bus dan mobil peziarah.
Telah dibangun pula masjid, toilet, dan tempat wudhu. Kios-kios pedagang juga dibangun untuk melayani kebutuhan para peziarah.
Berziarah ke Jabal Uhud, mengenang Perang Uhud. Sumber foto: penulis.
Jabal Uhud adalah salah satu gunung bersejarah di Madinah yang tak pernah lepas dari kisah perjuangan Islam pada masa Rasulullah. Gunung yang membentang sepanjang 7 kilometer dengan ketinggian sekitar 1.050 meter ini bukan hanya sekadar hamparan bebatuan kokoh, tetapi juga menjadi saksi bisu peristiwa besar yang mengguncang umat Islam, yakni Perang Uhud.
Jabal Uhud adalah gunung bersejarah yang terletak di utara Madinah, Arab Saudi, yang terkenal sebagai lokasi Perang Uhud antara umat Islam dan kaum Quraisy.
Rosulullah Muhammad pernah bersabda: "Uhud adalah gunung yang mencintai kita dan kita pun mencintainya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menggambarkan bahwa Jabal Uhud bukan sekadar tumpukan batu, melainkan gunung yang memiliki kedudukan istimewa. Para ulama menafsirkannya sebagai simbol kasih sayang antara Rosulullah dengan alam ciptaan Allah.
Gunung Uhud, saksi sejarah perang Uhud. Sumber foto: penulis.
Gunung ini seakan hidup, memberi pesan bahwa bumi dan seisinya pun bisa menjadi saksi cinta dan iman.
Gunung ini menjadi saksi bisu perjuangan Rosulullah SAW dan para sahabat, serta tempat dimakamkannya para syuhada, termasuk paman Rosulullah, Hamzah bin Abdul Muthalib.
Saat ini, Jabal Uhud adalah salah satu tempat ziarah dan kunjungan utama bagi jamaah haji dan umrah.
Di lembah Jabal Uhud inilah terjadi pertempuran penting yang dikenal sebagai Perang Uhud pada tahun 3 Hijriah (625 M).
Gunung ini menjadi saksi bisu perjuangan Nabi Muhammad SAW dan para sahabat dalam mempertahankan kota Madinah dari serangan kaum kafir Quraisy.
Di sekitar Jabal Uhud terdapat makam para pahlawan Islam yang gugur dalam Perang Uhud, salah satunya adalah makam Sayyidina Hamzah yang terkenal.
Jabal Uhud, saksi sejarah Perang Uhud. Sumber foto: penulis.
Perang itu meninggalkan luka mendalam. Sekitar 70 sahabat gugur, di antaranya Hamzah bin Abdul Muthalib, paman Rasulullah yang dikenal sebagai Asadullah (Singa Allah). Hamzah gugur dengan mengenaskan, tubuhnya dimutilasi oleh Hindun binti Utbah. Rasulullah menangis pilu atas kepergian pamannya, dan hingga akhir hayatnya selalu mengenang para syuhada Uhud dengan doa.
Jabal Uhud melambangkan keteguhan iman dan pengorbanan umat Muslim.
Jabal Uhud diyakini sebagai salah satu gunung yang kelak akan berada di surga.
Setiap tahun, ribuan jamaah haji dan umrah mengunjungi Jabal Uhud untuk mengenang sejarah dan berziarah ke makam para syuhada.
Selain makam, di sekitar kawasan Jabal Uhud terdapat Masjid Al-Fash, tempat Nabi Muhammad SAW pernah salat setelah Perang Uhud selesai.
Masjid di Jabal Uhud. Sumber foto: penulis.
Gunung Uhud ini dicintai Nabi, sehingga ia mengajarkan kita untuk mencintai apa yang Rosulullah cintai. Perang Uhud menjadi peringatan bahwa kemenangan bukan hanya soal jumlah atau strategi, tetapi juga ketaatan penuh pada perintah Allah dan Rasul-Nya.
Syuhada Uhud menunjukkan bahwa Islam ditegakkan dengan pengorbanan jiwa, bukan sekadar kata-kata.
Hingga kunjungan rombongan kami Mitra Umroh pada awal Agustus, Jabal Uhud tetap berdiri kokoh di Madinah, seakan ingin mengingatkan setiap Muslim tentang cinta Rosulullah, ketaatan kepada Allah, dan harga mahal sebuah perjuangan.
Ia bukan hanya sebuah gunung, melainkan monumen abadi iman, cinta, dan pengorbanan. (*)
(bersambung,……….)
Trending Now