Konten dari Pengguna

58 Tahun Sufmi Dasco: Komunikator Politik Andal dan Politisi di Balik Layar

Sugiat Santoso
Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI. Anggota Badan Legislasi DPR RI
9 Oktober 2025 12:00 WIB
·
waktu baca 6 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
58 Tahun Sufmi Dasco: Komunikator Politik Andal dan Politisi di Balik Layar
Selain berperan sebagai komunikator di DPR, Dasco juga beperan layaknya “stabilizer” dalam menghadapi dinamika sosial-politik di masyarakat
Sugiat Santoso
Tulisan dari Sugiat Santoso tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad(Media Indonesia /Susanto)
zoom-in-whitePerbesar
Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad(Media Indonesia /Susanto)
Pasalnya selain mengemban jabatan sebagai Ketua Harian Partai Gerindra yang mengurusi urusan internal partai, Dasco merupakan salah satu orang kepercayaan Presiden Prabowo yang kerap diberi kepercayaan dalam berkomunikasi dengan partai-partai di parlemen, baik yang tergabung pada koalisi pemerintahan maupun di luar kabinet.
Dasco lahir di Kota Bandung pada 7 Oktober 1967. Masa anak-anak hingga remajanya dilaluinya dengan berpindah-pindah ke pelbagai kota di Indonesia, dari SD di Palembang, SMP di Jakarta, SMA di Manado kemudian kembali ke Jakarta untuk menempuh pendidikan tinggi di kampus.
Dasco sejatinya merupakan seorang insinyur lulusan teknik elektro namun karena ketertarikannya terhadap hukum dalam tataran teori dan praksis, ia kemudian mengambil perkuliahan kembali di bidang Ilmu Hukum dari tingkatan sarjana (S1), magister (S2) dan doktoral. Dan puncaknya pada tahun 2022 yang lalu, Universitas Pakuan Bogor mengukuhkannya sebagai Guru Besar di bidang Ilmu Hukum serta sejak saat itu Dasco resmi menyandang gelar profesor.
Jejak akademisnya itu sedikit banyak mempengaruhi gaya berpolitiknya. Alasannya ketika mempelajari Ilmu Elektro, seseorang diajarkan memahami serta memanfaatkan suatu energi mampu menciptakan solusi dan inovasi sementara pada Ilmu Hukum, seseorang selalu dituntut untuk punya perspektif yang luas dalam memberi penilaian terhadap objek permasalahan di masyarakat.
Perpaduan keduanya jelas memberi nuansa yang baru dalam diri Dasco sebagai komunikator politik dalam menghubungkan pelbagai kepentingan dari tingkatan elit hingga masyakat.
Ibarat pertunjukan orkestra, Dasco berperan sebagai konduktor yang mengatur tempo, memahami dinamika serta memaknai partitur agar nuansa musik yang keluar menjadi harmonis.
Gestur politiknya sangat menentukan baik buruknya persepsi yang muncul di masyarakat. Pasalnya ketika orang melihat ucapan dan sikapnya, orang bisa memaknainya sebagai pesan sama yang keluar dari sikap Prabowo.
Itu sebabnya, persona politik Dasco terlihat sangat kalem dan tenang. Ia sangat berhati-hati dalam memberikan komentar ke media atau melalui akun media sosialnya karena sedikit saja salah memberikan pernyataan, apalagi di era kemajuan teknologi saat ini bisa dengan cepat viral dan berpotensi menghadirkan polemik di masyarakat.
Komunikator Politik Andal
Dasco adalah seorang komunikator politik yang sangat mumpuni karena keahliannya dalam menganalisa persoalan secara imparial, sistematis dan holistik. Hal ini terlihat dari peran politik yang dimainkannya di DPR dalam menjaga kepentingan pemerintah, utamanya menyangkut lancarnya proses legislasi seperti pengesahan UU TNI, revisi UU BUMN dan RUU-lainnya yang berasal dari usulan pemerintah.
Selain mengawal proses legislasi di DPR, Dasco secara intensif juga mengawal proses pembahasan APBN agar anggaran yang disetujui dan disahkan oleh DPR linear dengan program-program pemerintah dan kepentingan rakyat.
Peran Dasco ini tentu membutuhkan legitimasi tidak hanya dari Prabowo yang memberikan mandat kepadanya tapi juga dari lingkaran fraksi di DPR itu sendiri.
Sebab setiap fraksi memiliki kepentingan berbeda berdasarkan platform perjuangan partai berbeda pula sehingga masing-masing partai di DPR harus memiliki pemahaman yang sama ihwal kebijakan yang akan dilaksanakan oleh pemerintah.
Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI Sugiat Santoso dan Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad. Dok Pribadi.
Pada posisi ini ia harus menjaga agar kondisi politik tetap stabil, utamanya menyangkut situasi yang berkembang di masyarakat pasca munculnya sebuah kebijakan tidak menghadirkan keriuhan berlebihan atau kecemasan publik.
Pada bagian ini, ada beberapa kasus yang akhirnya diselesaikan oleh Dasco menyangkut kebijakan yang sempat memunculkan polemik, seperti; pembatalan kebijakan PPN 12 persen yang akhirnya dikhususnya hanya untuk barang mewah, pembatalan kebijakan LPG 3 kg yang akhirnya tidak lagi menghadirkan kelangkaan, penyelesaian masalah polemik 4 pulau antara pemerintah Provinsi Sumatera Utara-Provinsi Aceh yang meredakan ketegangan hingga mengakomodir kepentingan tuntutan “17+8 Tuntutan Rakyat” masyarakat sipil melalui penerimaan organisasi mahasiswa Cipayung Plus di DPR pasca demonstrasi 25 Agustus-2 September 2025 lalu.
Politisi di Balik Layar
Dan Dasco adalah salah satu orang yang menjadi sahabat Prabowo. Perkenalan antara Prabowo dan Dasco sudah terjadi sejak awal tahun 1990-an, jauh sebelum Partai Gerindra resmi berdiri tanggal 6 Februari 2008 lalu. Perkenalan itu lalu bertransformasi menjadi persahabatan ketika Dasco terlibat aktif di Partai Gerindra dari awal pendirian hingga empat kali menjadi partai politik peserta pemilu. Artinya perkawanan keduanya telah terjadi selama lebih dari 3 (tiga) dekade.
Akan tetapi posisi Dasco selama ini lebih banyak di balik layar yang mengurusi hal-hal yang sifatnya teknis. Ia adalah jenderal lapangan partai yang banyak melakukan operasi politik sehingga diinternal Partai Gerindra, Dasco akrab disapa dengan panggilan “komandan”.
Bagi Prabowo, keberadaan Dasco sangat penting karena menjadi pelengkap atau puzzle perjuangan di internal partai. Pasalnya Dasco bukan tipe politisi aristokrat atau berasal dari golongan bangsawan dan ekonomi kelas atas tapi ia memulai karir politiknya dengan awalnya adalah seorang aktivis kampus, pengusaha, akademisi hingga menjadi Dasco yang kita kenal hari ini.
Juga secara empirik, Dasco sering kali melakukan aktivitas tak biasa di internal Partai Gerindra dengan menelepon pengurus dari tingkatan provinsi, kota/kabupaten hingga kecamatan diwaktu senggangnya.
Ia tidak hanya menanyakan hal-hal menyangkut organisasi partai tapi menanyakan kondisi pribadi dari kader yang dihubunginya. Dari aktivitas ini pula akhirnya menghadirkan banyak kedekatan antara dirinya dan kader-kader di daerah.
Sifatnya yang detail, peduli dan presisi dalam mengurus partai ini pula yang akhirnya membuka jalan baginya didaulat menjadi Ketua Harian Partai Gerindra sejak tahun 2020 lalu, sebuah posisi yang memiliki tanggung jawab dalam mengatur operasional partai dan manajamen kaderisasi sesuai dengan arahan Ketua Umum Partai Gerindra yaitu Prabowo Subianto.
Tidak hanya itu, pada lingkup eksternal eksternal dalam kapasitas ketua harian, ia juga kerap menjadi jembatan komunikasi dalam beberapa pertemuan Prabowo dengan tokoh-tokoh politik nasional, seperti; pertemuan antara Megawati dan Prabowo pasca lebaran di bulan April 2025 lalu dan silaturahmi antara Prabowo dan elit PKS di Istana Negara pada akhir Juli 2025 lalu.
Secara politik, peran di balik layar yang dimainkan Dasco ini adalah sesuatu yang lumrah dalam perpolitikan. Pasalnya banyak pemimpin di dunia termasuk Indonesia selalu menerapkan “hukum lingkaran dalam” dengan menempatkan orang kepercayaannya di sampingnya.
Presiden Sukarno punya Jenderal Ahmad Yani, Presiden Suharto memiliki Jenderal Ali Murtopo, Presiden Gus Dur punya Marsilam Simanjuntak, Presien Megawati Punya Jenderal Theo Syafei, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono punya Jenderal Sudi Silalahi, Presiden Jokowi punya Jenderal Luhut Binsar Panjaitan dan saat ini Presiden Prabowo memiliki Dasco sebagai salah satu sosok orang kepercayaan di dekatnya.
Pun keberadaan Dasco memiliki manfaat yang sangat sentral karena selain berguna dalam menjaga kekuasaan juga memastikan situasi politik nasional tetap kondusif dan stabil.
Trending Now