Konten dari Pengguna
Ekspedisi Sungai Singkil: Menyusuri Jejak Peradaban yang Masih Tersisa
28 November 2025 18:00 WIB
Β·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Ekspedisi Sungai Singkil: Menyusuri Jejak Peradaban yang Masih Tersisa
Ekspedisi Sungai Singkil dilaksanakan sebagai upaya menyusuri jejak peradaban masyarakat Singkil yang masih tersisa di sepanjang Sungai Alas - Singkil.Suhardin Djalal
Tulisan dari Suhardin Djalal tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pada Juli 2025, sekelompok anak muda dari Komunitas Singkel Muda Chinquelle dan Destanada II merencanakan sebuah perjalanan budaya yang mereka beri nama Ekspedisi Sungai Singkil. Mereka adalah generasi yang lahir di tepian sungai, namun tumbuh besar jauh dari arus yang dulu menjadi nadi kehidupan masyarakat Singkil.
Singkil dan Dua Sungai Besarnya
Aceh Singkil memiliki dua sungai besar yang menjadi sumber pembentukan peradaban masyarakat setempat:
Kedua sungai ini bertemu di Kampung Pemuka, membentuk hulu Sungai Singkil yang kemudian mengalir hingga ke hilir dan bermuara di pesisir Laut Singkil. Dua sungai besar inilah yang sejak lama menjadi pusat kehidupan, ruang sosial, serta jalur transportasi utama masyarakat Singkil.
Sungai yang Menjadi Nadi Kehidupan
Pada masa lalu, banyak kampung berdiri di sepanjang tepian sungai. Sungai Singkil berperan sebagai jalur utama mobilitas sebelum akses darat berkembang. Perahu-perahu hilir mudik membawa penumpang, logistik, dan berbagai barang kebutuhan. Di beberapa titik terdapat warung terapung (lampung) yang berfungsi sebagai tempat singgah, beristirahat, sekaligus halte tradisional bagi para pelintas sungai.
Sungai Singkil juga menjadi pusat ekonomi, tanah di bantaran sungai sangat subur, ikan melimpah, dan masyarakat menggantungkan hidup pada ekosistem sungai. Di sinilah masyarakat Singkil membangun adat, budaya, dan sistem sosial yang diwariskan turun-temurun.
Di masa yang lebih jauh, Sungai Singkil bahkan menjadi jalur penting distribusi rempah-rempah dari hulu yang kaya dan subur menuju hilir yang terhubung langsung dengan Samudera Hindia. Sungai ini adalah bagian dari Jalur Rempah Nusantara yang berperan dalam perdagangan dan penyebaran peradaban.
Perubahan Besar Sejak Awal 2000-an
Namun memasuki awal tahun 2000-an, Sungai Singkil mulai ditinggalkan. Situasi politik dan keamanan di Aceh pada masa itu, ditambah bencana gempa dan banjir besar, membuat sebagian besar kampung direlokasi. Pada 2005, di Kabupaten Aceh Singkil hanya tiga kampung (Lentong, Rantau Gedang, dan Teluk Rumbia) yang masih bertahan di pinggir sungai tersebut.
Perpindahan ini menyebabkan perubahan besar pada aktivitas sosial, ekonomi, serta adat budaya masyarakat. Banyak generasi muda tumbuh tanpa mengenal sungai yang selama ratusan tahun menjadi pusat kehidupan leluhur mereka.
Lahirnya Ekspedisi Sungai Singkil
Berangkat dari kerinduan tersebut, para pemuda Singkil menginisiasi Ekspedisi Sungai Singkil. Sebagai anak-anak yang lahir di tepi sungai tetapi tumbuh jauh darinya, mereka ingin kembali menyusuri alur sungai yang selama ini hanya mereka kenal melalui cerita orang tua.
Gagasan ekspedisi kemudian mendapat dukungan dari banyak pemuda Aceh Singkil dan akhirnya memperoleh dukungan penuh dari Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah I Aceh, Kementerian Kebudayaan RI.
Ekspedisi berlangsung pada 12β16 November 2025, diikuti para peserta dari Jakarta, Banda Aceh, Meulaboh, dan Kota Subulussalam. Mereka terdiri dari jurnalis, fotografer/videografer, konten kreator, akademisi, peneliti, pegiat budaya dan sejarah, pegiat wisata, hingga komunitas lokal lainnya.
Menemukan Jejak Peradaban
Sepanjang perjalanan, rombongan menemukan bahwa masyarakat yang masih tinggal di tepian Sungai Singkil tetap menjaga adat istiadat, budaya, serta aktivitas ekonomi tradisional. Ekspedisi juga mendapati banyak peninggalan bersejarahβmulai dari nisan-nisan abad ke-17 hingga ke-18 yang berkaitan dengan kerajaan lokal hingga makam para ulama.
Wilayah Singkil memang sejak lama menjadi pusat peradaban kecil, serta melahirkan ulama besar Nusantara seperti Syekh Hamzah Fansuri dan Syekh Abdurrauf As-Singkili.
Harapan ke Depan
Ekspedisi Sungai Singkil bukan hanya perjalanan napak tilas, tetapi upaya membangkitkan kembali ingatan kolektif masyarakat Singkil tentang sungai yang menjadi akar identitas mereka. Semoga kegiatan ini dapat menjaga sejarah, merawat kebudayaan, serta menyalakan kembali semangat para ulama dan leluhur untuk membangun Aceh Singkil dan Kota Subulussalam.
Sepanjang Sungai Singkil juga terdapat berbagai potensi perikanan, pertanian, serta sektor wisata. Pada masa mendatang, arah Pembangunan daerah di Aceh Singkil dan Kota Subulussalam harusnya dapat memanfaatkan sungai dengan sebaik-baiknya guna kemakmuran masyarakat.

