Konten dari Pengguna
Koleksi Herbarium: Pilar Tak Tergantikan dalam Penelitian Ilmiah Modern
23 November 2025 12:00 WIB
·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Koleksi Herbarium: Pilar Tak Tergantikan dalam Penelitian Ilmiah Modern
Koleksi herbarium—berupa spesimen tumbuhan kering yang disimpan secara sistematis—merupakan sumber daya vital bagi penelitian ilmiah. #userstoryYudi Prastiyono
Tulisan dari Yudi Prastiyono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah krisis biodiversitas global yang semakin memburuk akibat perubahan iklim dan deforestasi, koleksi herbarium spesimen tumbuhan kering yang disimpan secara sistematis bukan sekadar artefak masa lalu, melainkan senjata ampuh untuk masa depan ilmu pengetahuan. Bayangkan, tanpa herbarium, bagaimana kita bisa memetakan perubahan genetik spesies yang terancam punah atau memprediksi dampak pemanasan global terhadap ekosistem?
Saat ini, dengan lebih dari 414 juta spesimen tersebar pada lebih dari 3.800 herbarium aktif di seluruh dunia (Thiers, 2024; Cantrill & Specht, 2024), koleksi ini mewakili 30% keanekaragaman tanaman darat global.
Namun, hanya sekitar 21% yang telah didigitalisasi(James et al., 2024) meninggalkan potensi besar yang belum tergali. Artikel ini akan meyakinkan Anda bahwa investasi lebih lanjut dalam herbarium bukan hanya kebutuhan, melainkan investasi strategis untuk inovasi ilmiah, konservasi, dan pembangunan berkelanjutan.
Kekuatan Data Historis untuk Penelitian Kontemporer
Herbarium menyediakan catatan tak tertandingi tentang distribusi, morfologi, dan evolusi tumbuhan sepanjang waktu, yang tak tergantikan oleh data sains warga (community science) seperti iNaturalist. Sebuah studi terkini di Kanada menunjukkan bahwa spesimen herbarium mendigitalkan 83,4% dari 4.392 spesies tanaman vaskular, melampaui 79,8% dari iNaturalist, meskipun jumlah rekaman herbarium hanya sepertiga dari data sains.
Lebih penting lagi, herbarium menangkap 3,4% lebih banyak keragaman filogenetik dan 1,8% lebih banyak keragaman fungsional, serta 93,2% spesies berisiko dibandingkan 88,7% dari iNaturalist bukti bahwa herbarium lebih efisien dalam merepresentasikan spesies langka dan habitat pedesaan. Efisiensi ini berarti satu rekaman herbarium setara dengan 1,8 kali lipat liputan niche lingkungan dibandingkan iNaturalist, memungkinkan pemodelan distribusi spesies yang lebih akurat untuk mitigasi perubahan iklim (Lamy et al., 2024).
Di Indonesia, Herbarium Bogoriense (kode BO)—di bawah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)—menjadi contoh teladan. Dengan lebih dari 1 juta spesimen, koleksi ini mendukung penelitian keanekaragaman hayati Asia Tenggara. Pada 2024, proyek Mapping Asia Plants menghasilkan daftar periksa pertama 30.466 spesies tanaman vaskular asli Indonesia 8,7% dari total global berdasarkan data dari BO dan publikasi terkait (Chen et al., 2024).
Rata-rata 76 spesies baru ditemukan setiap tahun di Indonesia selama dua dekade terakhir dan herbarium ini menjadi fondasi untuk identifikasi serta konservasi (Schuiteman et al., 2023). Tanpa dukungan seperti ini, kita berisiko kehilangan pengetahuan etnobotani tradisional, seperti penggunaan tanaman obat yang telah mendukung farmasi modern.
Inovasi Melalui Digitalisasi dan Analisis Genetik
Digitalisasi herbarium membuka pintu bagi penelitian molekuler canggih. Studi Australia 2023 menekankan bagaimana analisis DNA barcode dari herbarium memajukan pemahaman evolusi tanaman, dengan potensi metabarcoding untuk mendeteksi perubahan genetik akibat global change.
Di AS, digitalisasi spesimen kecil herbarium terbukti layak untuk penelitian regional, meningkatkan aksesibilitas data untuk kolaborasi global. Bayangkan jika 7,3 juta spesimen tak terdigitalisasi. Liputan niche lingkungan bisa melonjak dari 5,1% menjadi 19,8%, setara dengan 27,3 juta observasi iNaturalist baru, efisiensi yang luar biasa untuk anggaran terbatas.
Literatur terkini—seperti "Collectomics in Plant Biodiversity Research" (2024)—menegaskan bahwa herbarium dengan hampir 400 juta spesimen terus berkembang, mendukung studi ex situ yang mencakup 105.634 spesies tanaman (Heberling et al., 2024). Di Indonesia, inisiatif digital herbarium memfasilitasi identifikasi cepat, seperti dalam checklist Flora Lombok (2020) yang diperbarui hingga 2024, mendukung 1.309 taksa untuk perencanaan konservasi (Girmansyah et al., 2020).
Mengapa Kita Harus Bertindak Sekarang?
Herbarium bukan museum mati; ia adalah laboratorium hidup yang mendukung penemuan obat baru, restorasi ekosistem, dan adaptasi iklim. Namun, tantangan seperti kurangnya dana digitalisasi mengancam potensinya. Pemerintah, lembaga riset, dan filantropis harus mengalokasikan sumber daya lebih besar seperti yang dilakukan BRIN di Indonesia melalui Direktorat Pengelola Koleksi Ilmiah untuk mempercepat digitalisasi dan kolaborasi internasional. Hasilnya? Inovasi yang menyelamatkan spesies dan umat manusia.
Mari dukung herbarium hari ini. Dengan berinvestasi sekarang, kita tidak hanya melestarikan masa lalu, tetapi membentuk masa depan ilmiah yang berkelanjutan. Hubungi lembaga seperti BRIN atau ikut serta dalam proyek digitalisasi langkah kecil untuk dampak besar. Waktunya bertindak, sebelum keanekaragaman hayati kita hanya tinggal kenangan di lembaran kertas.

