Konten dari Pengguna

Jalan Berliku 80 Tahun Riset untuk Negara

Jamal Suteja
Staf Humas di Badan Riset dan Inovasi Nasional
18 Agustus 2025 13:26 WIB
Ā·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Jalan Berliku 80 Tahun Riset untuk Negara
Perjalanan penuh liku 80 Tahun riset dan teknologi dimulai tanggal 10 Agustus 1995 akan selalu dikenang sebagai tonggak sejarah kebangkitan teknologi nasional. Pesawat N-250 Gatoto Kaca Terbang Perdan
Jamal Suteja
Tulisan dari Jamal Suteja tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Gedung BJ Habibie yang berlokasi di Jalan MH Thamrin, Jakarta, saat ini menjadi kantor pusat dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Foto: Diky Erfan/BKPUK BRIN
zoom-in-whitePerbesar
Gedung BJ Habibie yang berlokasi di Jalan MH Thamrin, Jakarta, saat ini menjadi kantor pusat dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Foto: Diky Erfan/BKPUK BRIN
Tanggal 10 Agustus 1995 akan selalu dikenang sebagai tonggak sejarah kebangkitan teknologi nasional. Di bawah langit Bandung, pesawat N-250 Gatot Kaca karya anak bangsa mengangkasa untuk pertama kalinya.
Masyarakat Indonesia dan dunia internasional dibuat terperangah, bukan sekadar karena Indonesia berhasil menerbangkan pesawat buatan sendiri. Akan tetapi karena hari itu bangsa ini membuktikan bahwa kita bisa menembus batas—batas keraguan, dan batas yang memisahkan negara berkembang menuju negara maju yang menguasai teknologi.
Pesawat N-250 bukan sekadar mesin terbang. Ia adalah simbol keberanian, tekad, dan kecerdasan kolektif yang dirangkai oleh tangan-tangan anak negeri. Di baliknya ada sosok visioner bernama Bacharuddin Jusuf Habibie, putra Parepare yang memiliki 46 paten di bidang aeronautika (ilmu penerbangan). Salah satu yang penemuannya yang terkenal ialah Crack Progression Theory. Teori ini sangat penting dalam dunia penerbangan karena membantu mencegah kecelakaan akibat kegagalan struktural yang disebabkan oleh kelelahan material.
Bagi Habibie, teknologi hanya bisa dikuasai melalui riset dan inovasi. Dan riset hanya bisa tumbuh jika sumber daya manusianya diberdayakan secara maksimal. Jargonnya yang terkenal ialah "bermula dari akhir, berakhir di awal", yang menekankan bahwa penguasaan teknologi yang sudah ada dengan membangun riset dasar dan terapan untuk meningkatkan kemampuan teknologi.
Namun, seperti setiap penerbangan yang mulus sekalipun, ada badai yang menunggu. Dua tahun setelah momen penerbangan pesawat N250, datanglah ā€œbadai raksasaā€ bernama krisis moneter. Layaknya pesawat yang menabrak awan tebal, kecepatan lompatan teknologi kita mendadak tersendat. Proyek N-250 terhenti; mimpi yang baru saja mengangkasa terpaksa mendarat darurat.
Tak lama, situasi politik pun ikut memanas. Presiden Soeharto lengser, Habibie menggantikan, namun hanya bertahan satu tahun setelahnya. Orkestrasi kebangkitan teknologi seolah berhenti dan berakhir dengan antiklimaks.
Jika kita menoleh lebih jauh ke belakang, perjalanan riset Indonesia dimulai dari langkah yang sangat sederhana. Saat kemerdekaan diproklamasikan pada 1945, riset dan teknologi belum menjadi prioritas. Baru pada dekade 1950-an, pemerintah mulai membangun pondasi kelembagaan dengan membentuk Badan Atom Nasional (1958), Kementerian Negara Urusan Riset (1962), Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional—LAPAN (1963), dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia—LIPI (1967).
Era Orde Baru membawa babak baru ketika Presiden Soeharto memanggil pulang Habibie pada 1978 untuk menjadi Menteri Negara Riset dan Teknologi. Dalam dua dekade kepemimpinannya, lahirlah Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) serta industri strategis seperti PT IPTN, PT Pindad, dan PT PAL. Targetnya jelas, menjadikan Indonesia sebagai negara industri yang menguasai teknologi.
Namun, krisis 1998 memutus aliran energi itu. Pergantian presiden, pergantian menteri, dan perubahan kebijakan riset pasca-reformasi seolah hanya menjadi formalitas tanpa arah besar. Isu riset dan teknologi menghilang dari ruang publik, tergeser oleh hiruk-pikuk demokrasi, politik, dan isu ekonomi jangka pendek.
Padahal di negara-negara maju, riset dan inovasi adalah kunci utama untuk menembus status negara berkembang. Contoh sukses bagaimana Korea Selatan dan China yang dulu negara miskin bisa berkembang cepat menjadi negara maju yang saat ini menguasai teknologi.
Kini, di bawah Presiden Prabowo Subianto, visi riset dan inovasi diarahkan untuk mendukung Asta Cita, terutama swasembada pangan dan energi, ekonomi kreatif, ekonomi hijau, dan ekonomi biru. Fokus ini menjanjikan, tetapi harus disertai dengan penciptaan momentum besar yang dapat menggugah seluruh ekosistem riset nasional. Momentum seperti ini penting karena dapat menjadi pemicu percepatan. Tanpa momentum, riset sering berjalan lambat, terfragmentasi, dan kehilangan daya dorong.
Salah satu kekuatan yang dimiliki Indonesia adalah kelimpahan sumber daya alam. Jika digarap berbasis riset dan inovasi, sumber daya ini bisa menjadi batu loncatan untuk melesatkan ekonomi biru, hijau, dan kreatif.
Indonesia adalah negara maritim terbesar di dunia, perlu memanfaatkan dan mengoptimalkan kekayaan sumber daya laut. Melalui riset kelautan, bioteknologi laut, dan inovasi alat tangkap ramah lingkungan, kita bisa mengembangkan industri pangan laut, industri farmasi berbasis organisme laut, hingga energi baru dan terbarukan.
Begitu juga dengan pengembangan ekonomi hijau. Indonesia dapat memanfaatkan kekayaan hayati secara berkelanjutan. Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan energi terbarukan: angin, surya, biomassa, hingga panas bumi. Riset energi bersih dapat mengurangi ketergantungan pada fosil, sekaligus menciptakan industri baru yang ramah lingkungan. Selain itu, riset di bidang pertanian berkelanjutan dapat meningkatkan produktivitas pangan tanpa merusak lahan.
Yang tak kalah menarik ialah, ekonomi kreatif. Melalui kekayaan seni, budaya, dan warisan tradisi Indonesia adalah tambang emas yang belum sepenuhnya diolah. Melalui riset pasar, inovasi teknologi digital, dan strategi pemasaran global, industri kreatif bisa menjadi penggerak ekonomi. Film, musik, game, fashion, dan kerajinan tangan bisa menjadi ā€œproduk unggulan eksporā€ yang membawa identitas Indonesia ke kancah dunia.
Indonesia bisa mendapatkan momentum kembali dalam penguasaan riset dan teknologi. Langkah konkretnya yaitu pemerintah perlu menginisiasi proyek besar berbasis riset yang melibatkan banyak disiplin ilmu dan memicu kebanggaan nasional seperti halnya pesawat N-250. Proyek ini harus relevan dengan tantangan masa kini.
Selanjutnya, perlunya penguatan SDM riset, dengan peningkatan beasiswa, fasilitas riset, dan kolaborasi riset untuk menciptakan SDM Unggul. Selain itu, perlu adanya integrasi industri dan riset. Industri harus menjadi mitra aktif dalam pendanaan dan pemanfaatan hasil riset. Skema triple helix—sinergi pemerintah, akademisi, dan industri—harus dihidupkan kembali dengan kebijakan insentif yang jelas.
Pada akhirnya, delapan puluh tahun kemerdekaan adalah perjalanan panjang, penuh tikungan tajam dan tanjakan curam bagi riset nasional. Kita pernah membuktikan bisa menembus langit Bandung dengan N-250, dan kita bisa melakukannya lagi—asal ada visi, keberanian, dan momentum.
Momentum baru tidak hanya akan membangkitkan kembali kebanggaan nasional, tetapi juga menghidupkan ekosistem inovasi yang selama ini berjalan di lorong sepi. Seperti yang ditunjukkan sejarah, teknologi hanya bisa dikuasai oleh bangsa yang mau berinvestasi pada riset.
Sejarah membuktikan, teknologi hanya bisa dikuasai oleh bangsa yang berani bermimpi, bekerja tanpa lelah, dan menciptakan momentum. Jika momentum itu tercipta di era ini, maka ketika Indonesia merayakan 100 tahun kemerdekaan, kita tidak hanya akan menengok ke belakang dengan bangga, tetapi juga menatap ke depan dengan keyakinan—bahwa kita bukan lagi penonton di panggung teknologi dunia. Selamat HUT ke-80 Kemerdekaan RI! Bangkitlah Riset dan Teknologi!
Trending Now