Konten dari Pengguna
Perlu Disadari, ini 5 Tanda Otak Lelah Akibat Multitasking
10 Desember 2025 19:00 WIB
ยท
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Perlu Disadari, ini 5 Tanda Otak Lelah Akibat Multitasking
Dokumen ini membahas dampak negatif dari multitasking terhadap kesehatan otak. Di era digital yang serba cepat, multitasking sering dianggap sebagai simbol produktivitas.Sutrisno Koswara
Tulisan dari Sutrisno Koswara tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Era digital yang serba cepat, kemampuan multitasking sering dianggap sebagai sebuah lencana kehormatan. Menjawab email sambil rapat via Zoom, membalas pesan WhatsApp sembari menyelesaikan laporan, dan mendengarkan podcast saat memasak. Kita merasa produktif, efisien, dan seperti seorang superhero di dunia modern.
Namun, di balik topeng produktivitas itu, ada harga mahal yang harus dibayar oleh organ paling vital kita: otak.
Secara neurologis, otak manusia tidak dirancang untuk melakukan banyak tugas yang membutuhkan fokus secara bersamaan. Apa yang kita sebut multitasking sebenarnya adalah task-switching atau perpindahan tugas yang sangat cepat. Perpindahan konstan ini menguras energi mental, menyebabkan kelelahan kognitif, dan secara ironis, justru menurunkan kualitas pekerjaan kita.
Bagaimana cara mengetahui jika otak Anda sudah menjerit lelah? Kenali tanda-tanda ini, dan perhatikan baik-baik nomor tiga yang sering kali kita abaikan.
1. Sering Lupa Hal-hal Kecil (Efek "Pintu Dapur")
Pernahkah Anda berjalan ke dapur dengan tujuan jelas, namun sesampainya di sana Anda benar-benar lupa mau mengambil apa? Atau, Anda baru saja meletakkan kunci mobil dan beberapa detik kemudian tidak bisa mengingat di mana menaruhnya?
Ini bukan tanda penuaan dini, melainkan gejala klasik dari cognitive overload. Saat otak dipaksa beralih dari satu tugas ke tugas lain, memori kerja (working memory) kita menjadi terbebani. Informasi-informasi kecil dan jangka pendek tidak sempat "tersimpan" dengan baik karena sudah tergantikan oleh stimulus baru. Akibatnya, hal-hal sepele menjadi mudah terlupakan.
2. Sulit Fokus dan Mudah Terdistraksi
Ketika otak terbiasa melompat-lompat, ia akan kesulitan untuk "diam" dan fokus pada satu hal dalam waktu lama. Anda mungkin mendapati diri Anda membaca paragraf yang sama berulang kali tanpa mengerti isinya, atau perhatian Anda langsung teralih hanya karena suara notifikasi ponsel.
Ini terjadi karena multitasking melatih otak untuk mencari distraksi baru. Akibatnya, kemampuan untuk melakukan deep workโpekerjaan mendalam yang membutuhkan konsentrasi penuhโmenurun drastis. Anda merasa sibuk sepanjang hari, namun saat melihat hasilnya, tidak banyak yang benar-benar tuntas.
3. Membuat Kesalahan Ceroboh yang Sepele (Paling Sering Terjadi)
Inilah tanda yang paling umum namun paling sering tidak kita sadari sebagai akibat dari kelelahan otak. Kita sering kali menyalahkan "kurang teliti" atau "terburu-buru", padahal biang keroknya adalah otak yang sudah kehabisan bensin.
Contohnya sangat dekat dengan keseharian kita:
Kesalahan-kesalahan ini terjadi karena perhatian kita terfragmentasi. Otak yang lelah tidak lagi memiliki kapasitas untuk melakukan pemeriksaan silang (cross-check) detail-detail kecil. Ia beroperasi dalam "mode hemat daya" dan hanya menangkap gambaran besar, mengabaikan nuansa penting yang pada akhirnya menyebabkan kesalahan memalukan.
4. Kelelahan Mental yang Tidak Sebanding dengan Aktivitas Fisik
Anda mungkin duduk di kursi sepanjang hari, tidak melakukan aktivitas fisik yang berat. Namun, di penghujung hari, Anda merasa lelah luar biasa seolah baru saja lari maraton. Kepala terasa berat, energi terkuras, dan bahkan untuk memutuskan makan malam apa pun terasa seperti tugas yang sangat sulit.
Inilah kelelahan mental. Proses task-switching secara konstan membakar glukosa (sumber energi utama otak) dengan sangat cepat. Akibatnya, Anda merasa lelah secara mental, meskipun tubuh Anda tidak banyak bergerak. Kelelahan ini juga sering diikuti dengan perasaan hampa dan tidak termotivasi.
5. Menjadi Lebih Mudah Marah atau Iritabel
Otak bagian depan (korteks prefrontal) tidak hanya bertanggung jawab untuk fokus dan pengambilan keputusan, tetapi juga untuk mengatur emosi. Ketika bagian otak ini kelelahan karena terus-menerus beralih tugas, kemampuannya untuk mengendalikan respons emosional juga melemah.
Akibatnya, Anda menjadi lebih "bersumbu pendek". Gangguan kecil seperti koneksi internet yang lambat, rekan kerja yang bertanya, atau suara bising di sekitar bisa memicu ledakan amarah atau rasa jengkel yang tidak proporsional. Kesabaran Anda menipis karena seluruh sumber daya mental Anda sudah habis untuk juggling pekerjaan.
Lalu, Apa Solusinya?
Menyadari tanda-tanda ini adalah langkah pertama. Langkah selanjutnya adalah mengubah kebiasaan.
โข Terapkan Monotasking: Alih-alih mengerjakan semuanya sekaligus, fokuslah pada satu tugas dalam satu waktu. Gunakan teknik seperti Teknik Pomodoro (25 menit kerja fokus, 5 menit istirahat).
โข Kelompokkan Tugas Serupa (Batching): Alokasikan waktu khusus untuk membalas semua email, waktu lain untuk melakukan panggilan telepon, dan waktu lainnya untuk menulis laporan. Ini mengurangi beban otak karena tidak perlu beralih jenis pekerjaan.
Ingatlah, menjadi sibuk tidak selalu berarti produktif. Otak Anda adalah aset paling berharga. Merawatnya dengan memberinya kesempatan untuk fokus adalah investasi terbaik untuk produktivitas, kreativitas, dan kesehatan mental Anda dalam jangka panjang.
Bekerja lebih cerdas, bukan hanya lebih sibuk.

