Konten dari Pengguna
Jenderal Polisi Hoegeng dan Bayangannya yang Tak Pernah Pudar
25 Mei 2025 16:09 WIB
·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Jenderal Polisi Hoegeng dan Bayangannya yang Tak Pernah Pudar
Jenderal Hoegeng bukan sekadar legenda—ia cermin moral polisi sejati. Hidup sederhana, jujur, dan dekat rakyat. Bisakah bayangannya jadi kompas bagi Kepolisian Indonesia hari ini?Syaefunnur Maszah
Tulisan dari Syaefunnur Maszah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Nama Jenderal Hoegeng Iman Santoso kerap disebut dengan penuh hormat ketika publik berbicara tentang sosok polisi ideal. Bukan karena pangkat tingginya atau ketegasannya semata, tetapi karena warisan moral yang ditinggalkannya: hidup sederhana, anti korupsi, dan dekat dengan rakyat. Dalam ruang sejarah, Hoegeng tidak hanya menjadi kepala Kepolisian Negara, tapi juga cermin nurani institusi yang kini tengah diuji oleh zaman.
Ketika Hoegeng menolak fasilitas dan iming-iming dari para pengusaha demi menjaga integritas, ia bukan hanya menolak korupsi, tetapi juga sedang menegaskan makna etika publik dalam birokrasi. Di titik inilah pemikiran filsuf Immanuel Kant menemukan relevansinya. Kant berbicara tentang imperatif moral, bahwa tindakan harus dilakukan bukan karena untung rugi, tetapi karena memang itu yang benar secara moral. Hoegeng melakukannya bukan karena takut diawasi, tapi karena moralitas telah menjadi bagian dari dirinya.
Dalam konteks teoritik, konsep “Good Governance” dari Fukuyama sangat aplikatif. Salah satu pilar utama dari good governance adalah integritas aktor negara, yang tidak hanya tunduk pada hukum, tetapi juga menjadikan keadilan dan kesetiaan pada rakyat sebagai nilai utama. Hoegeng memberi contoh bahwa birokrasi bukan sekadar sistem kendali kekuasaan, melainkan tempat membangun kepercayaan publik.
Kini, di tengah modernisasi dan derasnya intervensi politik terhadap lembaga penegak hukum, Hoegeng tampak seperti oase di tengah padang gurun. Banyak petinggi kepolisian hari ini terjerembab dalam gaya hidup hedonis, mempertontonkan kemewahan dan relasi kuasa, yang ironisnya jauh dari jeritan rakyat kecil yang mereka sumpah untuk lindungi. Sudah saatnya nilai-nilai Hoegeng dijadikan rujukan etis dalam menata ulang arah Kepolisian.
Lihatlah bagaimana di negara-negara maju seperti Swedia atau Jepang, polisi hidup dengan sederhana, gaji memadai, namun tidak bermewah-mewahan. Mereka menghormati seragam sebagai simbol amanah, bukan sebagai tiket ke ruang eksklusif kekuasaan. Mobil dinas mereka bukan kendaraan mewah, melainkan alat untuk menjangkau warga. Mereka tak segan berbaur, menjadi bagian dari komunitas, dan menjaga wibawa dengan keramahan.
Di sisi lain, deviasi sosial dalam tubuh kepolisian di Indonesia tak bisa dipungkiri. Kasus penyelewengan kekuasaan, kekerasan terhadap sipil, hingga keterlibatan dalam jaringan kriminal, telah mencoreng citra institusi. Bahkan, pernah terjadi ketika seorang perwira tinggi didakwa dalam kasus kejahatan berat yang melibatkan rekayasa bukti dan pembunuhan. Peristiwa ini menunjukkan betapa deviasi terjadi saat nilai-nilai dasar seperti kejujuran dan tanggung jawab terabaikan.
Namun harapan belum pupus. Masih ada polisi yang diam-diam hidup sederhana, tetap turun ke lapangan, menegur pengendara tanpa meminta suap, dan membantu warga tanpa kamera. Mereka memang tak viral, tapi merekalah penjaga moral terakhir di dalam tubuh institusi. Harus ada keberanian dari pucuk pimpinan untuk meneladani dan memperkuat gerakan moral dari bawah ini.
Refleksi untuk para pemimpin Kepolisian saat ini adalah bahwa jabatan bukanlah medali untuk dilestarikan, melainkan amanah untuk diuji. Menjadi pimpinan Polisi bukan hanya mengurus rotasi dan proyek, tetapi tentang memberi makna kepada seragam dan senyum rakyat. Kepemimpinan harus bermuara pada keberanian untuk mengembalikan moralitas sebagai fondasi utama.
Hoegeng mungkin telah tiada, namun bayangannya tetap hidup. Ia adalah bukti bahwa menjadi pejabat tinggi dan hidup jujur bukanlah utopia. Bahwa memilih tidak korupsi adalah pilihan sadar, bukan keterpaksaan. Dan bahwa rakyat, dalam diamnya, tahu siapa yang benar-benar menjaga mereka.
Indonesia masih punya harapan. Kepolisian bisa menjadi institusi yang membanggakan, bila ia bersedia mereformasi diri, menyelami kembali teladan-teladan masa lalu, dan berjalan bersama rakyat, bukan di atasnya. Sebab, dalam demokrasi yang sehat, kepercayaan publik adalah aset tertinggi, dan itu hanya bisa dibangun dengan keteladanan—seperti yang telah ditunjukkan Jenderal Hoegeng.

