Konten dari Pengguna
Merdeka Belajar, Merdeka Kurikulum: Mungkinkah?
20 Mei 2025 12:23 WIB
ยท
waktu baca 2 menit
Kiriman Pengguna
Merdeka Belajar, Merdeka Kurikulum: Mungkinkah?
Ulasan kritis tentang peluang dan tantangan Kurikulum Merdeka dalam mewujudkan Merdeka Belajar.Syalwah Az Zahra
Tulisan dari Syalwah Az Zahra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejak diluncurkannya kebijakan Merdeka Belajar oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Indonesia, dunia pendidikan nasional memasuki era baru yang menjanjikan kebebasan belajar dan mengajar. Salah satu terobosan utamanya adalah Kurikulum Merdeka, yang diklaim memberi keleluasaan kepada pendidik dan peserta didik untuk menyesuaikan proses belajar dengan kebutuhan dan potensi masing-masing. Namun, pertanyaan besar yang muncul adalah: mungkinkah Merdeka Belajar benar-benar tercapai melalui Kurikulum Merdeka?
Esensi Merdeka Belajar
Merdeka Belajar berlandaskan pada gagasan bahwa setiap individu memiliki cara dan kecepatan belajar yang berbeda. Konsep ini menekankan pentingnya pembelajaran yang berpihak pada murid, partisipatif, dan tidak lagi terpaku pada sekadar penguasaan materi. Dalam praktiknya, Merdeka Belajar mencakup kebijakan-kebijakan seperti penghapusan Ujian Nasional, penyederhanaan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dan penguatan asesmen formatif.
Apa Itu Kurikulum Merdeka?
Kurikulum Merdeka memberikan keleluasaan bagi sekolah dan guru untuk menyusun perangkat ajar sesuai konteks lokal dan karakteristik siswa. Fokus utamanya adalah pada penguatan kompetensi esensial, pembelajaran berbasis proyek, serta penekanan pada karakter melalui Profil Pelajar Pancasila. Ini berarti bahwa guru memiliki ruang yang lebih luas untuk berinovasi, tidak lagi terbelenggu oleh kerangka kurikulum yang kaku dan seragam.
Tantangan di Lapangan
Meski idealisme Kurikulum Merdeka terdengar menggembirakan, realitas di lapangan tidak selalu selaras. Beberapa tantangan yang dihadapi antara lain:
1. Kesiapan Guru: Tidak semua pendidik siap dan mampu beradaptasi dengan perubahan ini. Dibutuhkan pelatihan berkelanjutan dan dukungan konkret agar guru benar-benar bisa menjadi fasilitator pembelajaran yang merdeka.
2. Kesenjangan Fasilitas dan Akses: Sekolah-sekolah di daerah tertinggal masih kekurangan sumber daya, baik dari segi infrastruktur, teknologi, maupun sumber daya manusia.
3. Evaluasi yang Belum Konsisten: Meski asesmen formatif didorong, banyak sekolah masih terjebak dalam penilaian berbasis angka yang membatasi kreativitas.
Menuju Merdeka yang Sebenarnya
Agar Kurikulum Merdeka benar-benar mewujudkan semangat Merdeka Belajar, perlu komitmen dari semua pihak pemerintah, sekolah, guru, orang tua, dan masyarakat. Implementasi kurikulum tidak cukup hanya dengan regulasi, tetapi harus dibarengi dengan pemahaman mendalam, pelatihan yang relevan, serta pengawasan dan evaluasi yang adil dan berkelanjutan.
Mungkinkah Merdeka Belajar terwujud lewat Kurikulum Merdeka? Jawabannya: mungkin, namun tidak mudah. Perjalanan menuju kemerdekaan dalam belajar adalah proses panjang yang memerlukan konsistensi, kesabaran, dan kolaborasi. Jika tantangan-tantangan utama dapat diatasi, maka harapan akan lahirnya generasi pembelajar yang mandiri, kreatif, dan berkarakter bukanlah sekadar utopia.

