Konten dari Pengguna

Menulis: Senjata Ampuh Melawan Lupa

Syam Nur Fallah
Saya Mahasiswa Universitas Pamulang Semester 2, prodi Ekonomi Syariah Fakultas Agama Islam
31 Mei 2025 11:14 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Tulisan dari Syam Nur Fallah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi seseorang sedang Menulis (Sumber: https://www.pexels.com/id-id/pencarian/menulis/)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi seseorang sedang Menulis (Sumber: https://www.pexels.com/id-id/pencarian/menulis/)
‎Cepat memahami materi bukan berarti akan mengingatnya dalam jangka panjang. Banyak orang merasa sudah paham saat guru atau dosen menjelaskan, namun hanya dalam hitungan hari atau bahkan jam, mereka lupa sebagian besar materinya. Salah satu penyebabnya bukan kurangnya kemampuan, melainkan karena rasa malas untuk menulis ulang apa yang sudah dipelajari. ‎ ‎Otak manusia bekerja dengan cara menyaring informasi. Data yang dianggap tidak penting atau tidak segera digunakan, akan cenderung dibuang. Maka tak heran jika seseorang sangat memahami penjelasan di kelas, tapi kesulitan mengingat kembali poin-poin pentingnya keesokan harinya. ‎ ‎Dalam ilmu psikologi, ini dikenal sebagai forgetting curve atau kurva lupa, yang dikemukakan oleh Hermann Ebbinghaus. Ia menemukan bahwa tanpa pengulangan atau pencatatan, seseorang bisa melupakan hingga 70 persen dari informasi yang baru dipelajari hanya dalam 24 jam. Angka yang cukup mengejutkan, namun menjadi peringatan bahwa memahami saja belum cukup, harus ada usaha untuk mengingatkan kembali isi pikiran.
Menulis sebagai Proses Mengolah Ingatan
Menulis adalah salah satu solusi paling sederhana namun efektif. Tidak hanya sekadar mencatat apa yang kita dengar atau baca, menulis merupakan proses aktif yang melibatkan otak untuk memilih, menyusun, dan mengekspresikan ulang informasi. Ketika seseorang menulis ulang materi pelajaran, misalnya, ia sebenarnya sedang melakukan dua hal penting: mengulang dan memahami lebih dalam. ‎ ‎Dengan menulis, kita memberi jeda bagi otak untuk memproses informasi. Proses ini membantu memperkuat koneksi antar konsep di dalam pikiran. Tak heran jika banyak penelitian menunjukkan bahwa siswa yang membuat catatan sendiri, bukan sekadar menyalin dari papan tulis, cenderung lebih mampu mengingat materi dalam jangka panjang.
Bukan Sekadar Aktivitas Akademik
Sayangnya, menulis sering dianggap sebagai kegiatan akademik semata. Padahal, dalam kehidupan sehari-hari pun menulis terbukti efektif untuk membantu daya ingat. Banyak tokoh besar dunia yang menjadikan menulis sebagai rutinitas, entah dalam bentuk jurnal harian, catatan ide, atau refleksi pribadi. Dari sana mereka tidak hanya mempertajam ingatan, tetapi juga membangun pemikiran yang lebih jernih dan mendalam. ‎ ‎Contoh paling dekat bisa kita lihat dari para jurnalis dan penulis. Mereka terbiasa menulis setiap hari. Sebagai hasilnya, kemampuan mereka dalam menyimpan informasi dan mengingat detail berada di atas rata-rata. Hal ini tentu bisa ditiru oleh siapa saja, termasuk pelajar dan mahasiswa.
Mengapa Banyak yang Enggan Menulis?
Kendala terbesar sering kali bukan karena tidak bisa, tetapi karena tidak mau. Banyak orang menganggap menulis itu membosankan atau menyita waktu. Apalagi di era digital seperti sekarang, di mana mencatat dengan tangan mulai ditinggalkan. Namun justru karena itu pula, kita menjadi semakin mudah lupa. Mengetik cepat di laptop atau ponsel tidak memberikan efek yang sama dengan menulis manual, karena otak cenderung bekerja lebih pasif saat mengetik. ‎ ‎Sebuah studi dari Universitas di California bahkan menunjukkan bahwa mahasiswa yang menulis tangan lebih memahami materi dibandingkan mereka yang mengetik. Menulis tangan memaksa otak untuk benar-benar menyaring dan menyusun informasi, bukan sekadar menyalin.
Menulis Adalah Investasi Ingatan
Oleh karena itu, menulis seharusnya dipandang sebagai investasi jangka panjang untuk memperkuat ingatan. Tidak perlu langsung menulis panjang atau sempurna. Mulailah dengan membuat ringkasan, peta konsep, atau poin-poin penting dari materi yang telah dipelajari. Jika dilakukan secara konsisten, bukan hanya pemahaman yang meningkat, tetapi juga kepercayaan diri dalam mengingat dan menyampaikan kembali informasi. ‎ ‎Menulis memang tidak memberikan hasil instan, tapi justru di situlah letak kekuatannya. Ia melatih kesabaran, ketelitian, dan tentu saja memperkuat ingatan. Maka, jika ingin tidak mudah lupa, ambil pulpen dan buku catatan. Tuliskan kembali apa yang kamu pelajari hari ini. Karena menulis bukan sekadar aktivitas, tapi kunci untuk mengalahkan lupa.
Trending Now