Konten dari Pengguna
Einstein, Wahabi Lingkungan dan Pergeseran Paradigma
2 Desember 2025 17:13 WIB
·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Einstein, Wahabi Lingkungan dan Pergeseran Paradigma
Bisa jadi konsep "wahabi lingkungan" itu juga benar, dan hanya salah momentum saja, sebagaimana keyakinan Einstein soal watak deterministik fisika, ketika fisika kuantum sedang berkembang pesat. Syamsul Arifin
Tulisan dari Syamsul Arifin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Saya memang belum pernah membaca secara langsung tulisan Thomas Kuhn tentang "shifting paradigm" atau pergeseran paradigma. Saya hanya sekadar tahu dari tulisan para tokoh atau pemikir lain yang menyinggung soal itu, bahwa pada masa tertentu, dapat terjadi pergeseran tentang cara berpikir, keyakinan maupun praktik dan pola baru yang menggeser atau menggantikan pola lama.
Saya malah menemukan persoalan terkait pergeseran paradigma ini melalui kisah nyata dalam buku Biografi Einstein yang ditulis oleh Walter Isaacson. Einstein pernah mengalami suatu pergeseran paradigma, dimana saya menganggapnya sebagai sebuah paradoks. Mengapa demikian? Begini ceritanya.

Einstein disebut-sebut sebagai pembaharu di bidang fisika teoritis pada masa itu, dimana ia mencetuskan teori relativitas khusus pada 1905 dan relativitas umum pada 1915, selain menemukan fenomena efek fotolistrik yang menyabet hadiah Nobel Fisika pada 1921.
Einstein juga turut membidani lahirnya fisika kuantum dan ikut berkontribusi pada bidang tersebut. Misalnya ketika ia menemukan konsep dualisme cahaya sebagai gelombang sekaligus sebagai partikel, yang kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh Louis de Broglie dan menjadi salah satu konsep dasar dalam mekanika kuantum.
Namun demikian, di akhir-akhir masa kehidupannya, ketika teori fisika kuantum semakin berkembang, Einstein malah cenderung menolak dan bersikukuh untuk mengembangkan teori medan terpadu yang belum juga terwujud hingga akhir hidupnya.
Alasannya lebih bersifat filosofis. Ia meyakini bahwa hukum alam, khususnya dalam sains fisika, bersifat deterministik alih-alih stokhastik-statistik. Cara pandang ini dapat dilihat dari ungkapannya yang terkenal: "Tuhan tidak bermain dadu dengan alam semesta". Prinsip tersebut terus diyakininya sembari ia menghabiskan sebagian besar waktu di usia senjanya dengan mengembangkan teori medan terpadu yang utopis itu.
Siapa sangka, dunia fisika modern berkembang menuju penguatan fisika kuantum, yang saat itu dipelopori antara lain oleh Max Planck, Niels Bohr, Erwin Schrodinger, Werner Heisenberg, Max Born dan juga Einstein sendiri. Inilah yang saya maksud dengan paradoks pergeseran paradigma, dimana Einstein yang pada mulanya turut mengembangkan fisika kuantum, akhirnya justru cenderung mengingkarinya di akhir masa hidupnya.
Penolakan Einstein terhadap fisika kuantum tidak lantas menjadikan fisika kuantum meredup, bahkan makin berkembang. Hal ini ditandai dengan beberapa temuan dalam fisika kuantum yang menggeser paradigma dari deterministik ke stokhastik. Misalnya mengenai prinsip superposisi dalam percobaan kucing Schrodinger dan prinsip ketidakpastian Heisenberg dalam penentuan posisi dan momentum elektron.
Situasi dan kondisi tersebut seolah mengingatkan pada suatu masa ketika Einstein muda menjungkirbalikkan teori mekanika Newton tentang ruang-waktu absolut dengan persamaan relativitasnya. Dalam kasus serupa, keyakinan Einstein akan sifat kausalitas-deterministik sains pada akhirnya diobrak-abrik oleh berbagai temuan dalam fisika kuantum yang cenderung nisbi-stokhastik.
Demikianlah, tak ada yang statis dalam sains. Kebenaran hari ini, dalam cara pandang sains, dapat saja keliru, tidak berlaku lagi, dan bahkan harus dikoreksi di masa yang akan datang. Nalar relativitas akhirnya menghakimi keyakinan Einstein sendiri, bahwa sains tidaklah kaku.
Merekonstruksi Makna "Wahabi Lingkungan"
Hal demikian dapat berlaku pula bagi cara pandang lainnya, misalnya terkait istilah "wahabi lingkungan" yang digulirkan oleh Ulil Abshar Abdalla atau Gus Ulil. Istilah itu dapat menjadi benar dalam konteks realitas yang ia alami, namun juga bisa jadi salah dan dapat dikoreksi jika kemudian tidak cocok dengan realitas yang dipahami oleh jamak orang, atau bahkan dengan realitas empiris saat ini.
Bencana banjir bandang dan longsor yang terjadi di Sumatera Barat hingga Aceh saat ini menjadi pertanda bahwa kebenaran realitas empiris lebih nyaring bunyinya ketimbang paradigma manapun.
Bisa jadi konsep "wahabi lingkungan" itu juga benar, dan hanya salah momentum saja, sebagaimana keyakinan Einstein soal watak deterministik fisika, ketika fisika kuantum sedang berkembang pesat. Namun berdasarkan kebenaran korespondensi, konotasi negatif soal wahabi lingkungan saat ini dapat terbantahkan oleh realitas empiris berupa bencana alam yang disebabkan deforestasi hutan secara besar-besaran.
Dalam kondisi seperti itu, kita perlu memaknai ulang istilah "wahabi lingkungan". Wahabi lingkungan seharusnya tidak dipandang secara negatif. Ia justru harus digaungkan secara positif dan pro-aktif menjadi sebuah gerakan peduli lingkungan yang konkret, ketika regulasi dan etika lingkungan dengan mudahnya ditabrak dan diacak-acak oleh para elite oligarki yang tidak bertanggungjawab dan semena-mena terhadap lingkungan.

