Konten dari Pengguna

Akibat Anak Kurang Membaca?

Syarif Yunus
Dosen Unindra - Ketua Dewas DPLK Sinarmas AM - Humas ADPI - Asesor LSP Dana Pensiun - Konsultan - Dr. Manajemen Pendidikan - Pendiri TBM Lentera Pustaka - Penulis 54 buku
11 Desember 2025 8:04 WIB
Β·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Akibat Anak Kurang Membaca?
Gampang Menyerah, Akibat Anak Kurang Membaca. Anak yang mau membaca dan mau berpikir adalah anak yang siap berkembang, maka ajak anak membaca
Syarif Yunus
Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Orang tua dan guru sering lupa. Hari ini banyak anak atau siswa menjadi mudah menyerah. Karena terbiasa dengan hal yang serba cepat dan instan. Cepat bosan berpikir lama. Jika jawaban ujian tidak ditemukan dalam satu kali pencarian, langsung menyerah. Rasa percaya diri anak rendah. Takut salah, takut nilai jelek, atau takut terlihat tidak bisa. Motivasi belajar jadi turun. Belajar dianggap sekadar memenuhi tugas, bukan kebutuhan. Dan akhirnya, tidak terlatih berpikir kritis dan kreatif. Orang tua pun nge-dumel, guru jadi bingung. Sebab, anak-anak yang gampang menyerah.
Bila kondisi itu dibiarkan, akhirnya anak-anak malas berpikir. Tidak mau belajar keras, tidak mau berusaha, dan kehilangan banyak hal seperti: kemampuan menganalisis, kreativitas, logika, hingga daya juang. Ketika dewasa nanti, anak-anak yang gampang menyerah pasti kesulitan dalam pekerjaan dan masa depannya sendiri. Anak-anak yang gampang menyerah sama sekali β€œtidak tahu”. Bahwa dunia nyata tidak menyediakan jawaban langsung seperti mesin pencari, ia menuntut usaha, strategi, dan ketekunan yang dibiasakan.
Maka solusinya, orang tua dan guru perlu mengajak anak-anak untuk membaca buku. Membiasakan anak untuk punya waktu membaca, agar terbiasa berpikir lebih lama saat membaca teks. Terbiasa berpikir tidak hanya mencari jawaban, tapi memahami mengapa? Hingga kepercayaan diri anak terbentuk dan berproses untuk tidak gampang menyerah. Seperti anak-anak TBM Lentera Pustaka yang terbiasa membaca buku 3 kali seminggu. Kini hasilnya bisa dilihat, mereka tumbuh lebih dekat dengan buku, terbiasa bertanya, hingga berproses akan pentingnya kenapa harus membaca? Saat ke taman bacaan, anak-anak harus punya komitmen untuk melangkahkan kaki ke taman bacaan, membaca bersama-sama, hingga bergaul dengan teman sebaya. Karenanya, orang tua hanya mengantar atau guru mengimbau untuk rajin membaca.
Anak-anak yang terbiasa membaca
Anak yang mau membaca dan mau berpikir adalah anak yang siap berkembang, bukan anak yang gampang menyerah. Mereka butuh proses untuk paham dan mencari jawaban. Proses dan kebiasaan itulah yang menjadikan mereka kuat di masa depannya. Dunia yang berubah dan tantangan yang semakin besar ke depan, hanya mampu dihadapi oleh anak-anak yang mau membaca dan terbiasa berpikir.
Ketahilah, belajar tidak selalu mudah bagi anak. Tapi anak-anak yang membaca, sudah pasti akan tumbuh menjadi generasi yang lebih siap esok nanti. Salam literasi!
Trending Now