Konten dari Pengguna

Pilih Teman yang Jadi Pupuk, Bukan Hama

Syarif Yunus
Dosen Unindra - Ketua Dewas DPLK Sinarmas AM - Humas ADPI - Asesor LSP Dana Pensiun - Konsultan - Dr. Manajemen Pendidikan - Pendiri TBM Lentera Pustaka - Penulis 54 buku
17 November 2025 11:00 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Pilih Teman yang Jadi Pupuk, Bukan Hama
Sob, Tidak Semua Teman Harus Dipertahankan. Pilih pertemanan yang sehat, pergaulan yang saling menghargai dan memberi ruang pada tumbuhnya kebaikan
Syarif Yunus
Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sobats, ini seperti kalimat perintah. Bahwa tidak semua teman harus dipertahankan meskipun sudah lama. Tidak sedikit orang yang maksa untuk pertahankan teman suma karena udah kenal lama. Padahal, lamanya kenal tidak selalu setara dengan kualitas hubungan. Bertahan dengan teman yang udah nggak asyik, itu bukan tanda memghargai pertemanan tapi lebih ke takut kehilangan masa lalu.
Yah, namanya teman. Bisa jadi, dulu masih satu circle, satu vibes. Tapi seiring waktu kan bisa saja berubah. Atau sekarang udah beda jalan, beda arah orientasi. Dan itu normal saja, ada teman yang bisa diajak tumbuh, ada pula pertemanan begitu-begitu saja,. Ngobrol ngalor-ngidul tanpa ada manfaatnya. Bila temann bisa berubah, maka hubungan pun pasti berubah.
Sob, memang tidak semua teman harus dipertahankan! Seiring waktu harus lebih selektif memilih teman. Tentu, ada yang tetap dipertahankan dan terpaksa ada yang dibuang. Apalagi teman yang kerjanya meremehkan teman sendiri, membanding-bandingkan, atau bahkan kerjanya memperolek serta menjadikan kita sebagai bahan candaan. Itu bukan candaan sehat tapi justru jadi bukti lingkungan teman yang toxic. Zaman now, pilih teman yang memberi ruang kita untuk tumbuh dalam kebaikan dan kemanfaatan. Bukan teman yang hanya membuang waktu atau tidak salaing menghargai.
Harus diakui, pertemanan yang nggak seimbang itu berat. Pada akhirnya, harus selektif memilih teman. Sebab selalu ada yang datang saat butuh, ada yang hadir di saat perlu. Selebihnya menghilang, entah kemana? Apalagi saat kita yang lagi butuh bantuan. Makanya ada yang bilang, kalau datang cuma saat butuh itu bukan teman tapi penumpang.
Berteman dengan relawan taman bacaan
Sudah lama berteman, tentu bukan alasan untuk bertahan. Apalagi bila hubungan pertemanannya tergolong toxic. Berteman jadi pura-pura, bukan apa adanya. Tapi lebih ke ada apanya. Di depan manis, di belakang pahit. Lagi duduk bareng yang diomongin orang lain, begitu kita yang pergi malah kita yang diomongin. Jatahnya diomongin sama teman sendiri.
Hati-hati saja. Membenci, memanipulasi, iri, nyebarin hoaks, dan merendahkan itu bukan ciri teman. Teman itu harusnya mensupport, minimal diam bila nggak tahu banyak. Sejelek-jeleknya teman ya mendoakan yang baik. Bukan malah menghancurkan, apalagi gembira temannya kejeblos pada keburukan. Jadi, tinggalkan teman yang nggak kondusif, nggak produktif pula. Kita lepaskan pertemanan bukan karena benci. Tapi karena kita menyanyangi diri sendiri. Biar lebih sehat, lebih objektif dalam melihat realitas.
Lepaskan saja circle teman yang nggak sehat. Apalagi teman yang arigan, subjektif dan merasa benar sendiri. Lebih baik bangun circle pertemanan baru yang lebih sehat. Circle yang positif bukan sekadar teman nongkrong atau cuma ramai di WA group. Tapi pertemanan yang bikin siapapun tetap bisa tumbuh, merasa dihargai, dan diterima apa adanya. Sebab pertemanan yang sehat bisa jadi “pupuk” buat versi terbaik diri kita. Bukan pertemanan yang jadi “hama” untuk kita.
Berani tinggalkan teman, bukan berarti jauhi pergaulan. Pilih pertemanan yang sehat, memilih pergaulan yang saling menghargai dan memberi ruang pada tumbuhnya kebaikan dan mau menebar manfaat. Ketahuilah Sob, waktu itu singkat. Jadi carilah pertemanan yang bisa menjadikan kita lebih baik dari kemarin. Salam literasi!
teman ngobrol literasi
Trending Now