Konten dari Pengguna
Pasar Klithikan, Arsip Hidup Kota Jogja yang Tak Pernah Kehabisan Cerita
27 November 2025 11:30 WIB
·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Pasar Klithikan, Arsip Hidup Kota Jogja yang Tak Pernah Kehabisan Cerita
Pasar Klithikan Pakuncen adalah “arsip hidup” Jogja berisi barang bekas dan antik penuh cerita. Festival Loakarta kembali menghidupkannya lewat kegiatan seni.Syifa Nafisa Tahira
Tulisan dari Syifa Nafisa Tahira tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dari Lapak Barang Bekas hingga Panggung Kreativitas: Klithikan Kembali Bergeliat Lewat Festival Loakarta
Yogyakarta — Deretan barang bekas, antik, hingga suku cadang motor dan kamera lawas memenuhi sudut-sudut Pasar Klithikan Pakuncen, Tegalrejo, Yogyakarta. Pasar yang sering disebut sebagai “museum hidup” itu tak pernah sepi cerita, sebab di setiap lapaknya tersimpan kenangan dan sejarah yang tak tergantikan bagi warganya.
“Yang dijual di sini itu bukan cuma barang, tapi cerita,” ujar Sugeng (57), pedagang radio antik yang sudah berjualan sejak 1998. Tangan tuanya tampak cekatan mengusap debu dari radio kayu yang katanya berasal dari era Orde Baru.
Menurutnya, banyak pembeli datang bukan sekadar ingin membeli, tetapi mencari nostalgia dari benda-benda yang sudah jarang ditemui.
Ruang Kenangan yang Terus Hidup
Tak hanya barang antik, pasar ini juga menjadi surga bagi mereka yang berburu suku cadang motor lawas. Yoga Saputra (21), mahasiswa asal Sleman, datang karena ingin mencari spion lama untuk motor tuanya.
“Kalau nggak di sini ya susah cari barangnya. Tapi selain itu, proses nyarinya itu yang bikin seru,” tuturnya.
Pasar Klithikan mulai dikenal luas sejak direlokasi dari kawasan Sriwedari pada tahun 2004. Sejak itu, pasar ini menjadi tempat berkumpulnya para kolektor, peminat barang bekas, hingga warga biasa yang ingin mencari kebutuhan dengan harga terjangkau.
Keunikan barang yang dijual menjadikan pasar ini saksi perubahan zaman sekaligus penyimpan ingatan kolektif masyarakat Jogja.
Loakarta: Upaya Menghidupkan Kembali Napas Pasar
Dalam beberapa tahun terakhir, Pasar Klithikan sempat meredup akibat maraknya toko daring dan menurunnya jumlah pengunjung. Namun Oktober lalu, denyut pasar itu kembali terasa ketika Pemerintah Kota Yogyakarta menggelar Festival Loakarta, sebuah acara bertema barang antik, budaya urban, dan kreativitas berbasis barang bekas.
Selama lima hari, area pasar berubah menjadi ruang seni terbuka. Ada pameran karya seni dari material loak, workshop daur ulang barang vintage, hingga lomba modifikasi barang bekas yang justru paling menarik perhatian pengunjung muda.
Festival ini digelar untuk membangkitkan kembali ekosistem ekonomi di Pasar Klithikan sekaligus menjaga identitasnya sebagai pusat barang loak Jogja. Banyak anak muda datang untuk membuat konten TikTok atau mencari barang unik sebagai dekorasi kamar bergaya retro.
Magnet Baru bagi Generasi Z
Loakarta tampaknya menjadi titik balik. Kehadiran pengunjung muda membawa energi baru ke pasar yang sempat dianggap “mulai meredup.”
Tren thrifting, analog comeback, dan konten berburu barang antik membuat Klithikan kembali relevan di era digital.
Beberapa lapak bahkan mulai memasang QRIS, menawarkan paket bundling barang retro, hingga memajang kartu cerita kecil di barang antik untuk menarik minat konten kreator.
Bagi mahasiswa seperti Yoga, Klithikan bukan hanya tempat belanja, tapi lokasi yang punya estetika tersendiri.
“Spot-spotnya bagus buat foto. Vibenya beda banget sama mall,” ujarnya.
Pasar yang Menjaga Waktu
Hingga siang menjelang, hiruk-pikuk di pasar makin ramai. Pembeli datang dan pergi silih berganti, membawa pulang kamera tua, kaset pita, buku bekas, hingga peluit polisi tempo dulu.
Pasar Klithikan Pakuncen tetap bertahan sebagai arsip hidup Jogja — ruang di mana setiap barang memiliki kisah dan setiap lapak menyimpan ingatan.
Di tengah derasnya digitalisasi, pasar ini membuktikan bahwa barang bekas pun bisa punya masa depan, selama ada cerita yang tetap dijaga.

