Konten dari Pengguna

Gen Z, Generasi Sandwich yang Terjepit Tanggung Jawab dari Segala Arah

syintakurniawati68
Syinta Kurniawati, mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Boyolali, tertarik pada isu sosial, pendidikan, dan kebijakan publik, serta aktif menyuarakan perspektif baru tentang dinamika generasi muda di Indonesia.
4 Juni 2025 7:56 WIB
Β·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Gen Z, Generasi Sandwich yang Terjepit Tanggung Jawab dari Segala Arah
Gen Z bukan cuma sibuk kerja dan cari jati diri, mereka juga harus jadi penopang orang tua dan adik-adik. Inilah generasi sandwich: terjepit tanggung jawab dari segala arah.
syintakurniawati68
Tulisan dari syintakurniawati68 tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ilustrasi generasi sandwich, by chat gpt
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi generasi sandwich, by chat gpt
Di tengah hingar-bingar perkembangan teknologi, perubahan sosial yang cepat, dan tekanan ekonomi yang semakin kompleks, Generasi Z anak-anak muda kelahiran pertengahan 1990-an hingga awal 2010-an tumbuh menjadi generasi yang unik sekaligus penuh tantangan. Banyak di antara mereka kini menyandang status sebagai "generasi sandwich", yaitu generasi yang harus menopang kehidupan diri sendiri sekaligus menjadi tumpuan bagi keluarga. Ironisnya, peran ini diemban pada usia yang masih muda, ketika semestinya mereka fokus belajar, mengejar mimpi, dan membangun masa depan.
Dalam banyak kasus, Gen Z tidak hanya harus menuntaskan pendidikan tinggi, tetapi juga bekerja demi mencukupi kebutuhan pribadi dan, tak jarang, ikut menopang ekonomi rumah tangga. Mereka harus bisa membagi waktu antara kuliah, pekerjaan paruh waktu, dan kewajiban-kewajiban keluarga. Bahkan ada yang harus menjadi pengganti peran orang tua dalam mengurus adik atau membantu orang tua yang sakit dan tidak lagi produktif. Fenomena ini menjadikan mereka generasi dengan beban mental dan fisik yang luar biasa besar.
Salah satu pemicu utama kondisi ini adalah tekanan ekonomi yang kian memberatkan. Biaya pendidikan yang terus meningkat, tingginya harga kebutuhan pokok, serta ketidakpastian lapangan kerja membuat banyak keluarga tak lagi bisa mengandalkan orang tua sebagai satu-satunya sumber penghasilan. Alhasil, anak-anak yang masih kuliah pun terpaksa ikut turun tangan demi meringankan beban rumah tangga. Keadaan ini diperparah oleh ekspektasi sosial dan budaya yang masih memandang anak sebagai pihak yang harus β€œberbakti” dengan cara membantu secara finansial.
Dalam konteks ini, Gen Z seolah tidak diberikan cukup ruang untuk mengalami masa muda secara wajar. Banyak dari mereka yang kehilangan waktu untuk membangun jejaring sosial, mengembangkan kreativitas, atau sekadar menikmati hidup. Hari-hari mereka diisi dengan kegiatan produktif tanpa jeda, dari kelas pagi hingga shift malam, dari pekerjaan kampus hingga masalah rumah. Akibatnya, tidak sedikit yang mengalami stres, kelelahan, dan bahkan depresi. Beban ini juga memengaruhi prestasi akademik dan kualitas hidup mereka secara keseluruhan.
Namun, di balik tantangan besar ini, ada hal positif yang juga muncul. Banyak anggota Gen Z yang tumbuh menjadi pribadi yang jauh lebih tangguh, mandiri, dan empatik. Mereka terbiasa bekerja keras, menghargai proses, dan mampu beradaptasi dengan berbagai situasi sulit. Mental pejuang ini membuat mereka memiliki daya saing tinggi di dunia kerja dan mampu menciptakan solusi kreatif dalam menghadapi keterbatasan.
Meski begitu, ketangguhan bukan alasan untuk membiarkan mereka terus tertekan. Negara, institusi pendidikan, dan masyarakat luas perlu menyadari bahwa kondisi ini tidak ideal dan tidak boleh dianggap normal. Perlu ada kebijakan yang berpihak pada anak muda: beasiswa yang lebih mudah diakses, sistem perkuliahan yang fleksibel bagi mahasiswa pekerja, layanan kesehatan mental yang murah dan berkualitas, serta ruang aman bagi anak muda untuk menyuarakan pendapat dan mendapatkan dukungan.
Lebih dari itu, keluarga juga harus membuka ruang komunikasi yang sehat. Anak bukanlah mesin pencetak uang, melainkan individu yang juga butuh dukungan, pengertian, dan kasih sayang. Peran sebagai anak tidak seharusnya dibebani dengan kewajiban-kewajiban orang dewasa yang belum waktunya mereka emban.
Sebagai penutup, Gen Z adalah generasi yang luar biasa: berani, kuat, dan penuh potensi. Namun, potensi itu bisa layu jika terus ditekan oleh beban yang tak proporsional. Maka, mari kita buka mata dan telinga terhadap suara mereka. Mereka tidak minta dimanjakan, hanya ingin didengarkan dan diberi ruang untuk berkembang tanpa harus kehilangan dirinya sendiri dalam beban yang terlalu berat.
Trending Now