Konten dari Pengguna

Ikan Mahseer, Si Raja Sungai yang Kian Terancam di Aceh

Muhammad Syukran
Teknisi Laboratorium Pembenihan dan Pembiakan Ikan di Fakultas Kelautan dan Perikanan, USK.
27 Mei 2025 13:52 WIB
ยท
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Ikan Mahseer, Si Raja Sungai yang Kian Terancam di Aceh
Mahseer (dari genus Tor) yang dulu menjadi primadona sungai-sungai Aceh kini makin sulit ditemukan. Ikan yang oleh sebagian masyarakat disebut sebagai ikan semah, Kawan dan kerling.
Muhammad Syukran
Tulisan dari Muhammad Syukran tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ikan mahseer. Foto merupakan ilustrasi dengan menggunakan AI.
zoom-in-whitePerbesar
ikan mahseer. Foto merupakan ilustrasi dengan menggunakan AI.
Bayangkan sebuah sungai di pedalaman Aceh airnya jernih, mengalir tenang di sela batu-batu besar, dikelilingi hutan lebat dan suara burung yang bersahut-sahutan. Di balik arus itu, berenang seekor ikan besar, tubuhnya kekar, sisiknya mengilat keemasan, gerakannya gesit sekaligus anggun.
Itulah mahseer, si raja sungai yang dulu begitu akrab dengan masyarakat Aceh. Namun, bayangan itu kini lebih mirip kenangan. Mahseer (dari genus Tor) yang dulu menjadi primadona sungai-sungai Aceh kini makin sulit ditemukan. Ikan yang oleh sebagian masyarakat disebut sebagai ikan semah, kawan dan bagi masyarakat Aceh Ikan ini disebut Eungkot Kerling atau sapan ini perlahan menghilang dari habitat alaminya.
Apa yang terjadi? Dan mengapa kita harus peduli?

Ikan Istimewa yang Dilupakan

Mahseer bukan ikan sembarangan. Di berbagai negara Asia, termasuk India, Bhutan, dan Nepal, mahseer dipandang sebagai spesies elit. Ia dijuluki โ€œTiger Of The Riverโ€ karena kekuatannya saat dipancing, dan menjadi maskot penting dalam kampanye penyelamatan sungai-sungai alami. Bukan hanya bentuk tubuhnya yang gagah, tapi juga perannya dalam ekosistem sangat vital. Mahseer hanya hidup di perairan yang bersih, beroksigen tinggi, dan bebas pencemaran. Itu artinya, kehadiran mahseer di sungai adalah pertanda bahwa lingkungan di sekitarnya masih sehat.
Selain itu, mahseer juga memiliki nilai ekonomi tinggi. Dagingnya lezat, harga jualnya mahal, dan di negara-negara seperti India, memancing mahseer secara tangkap-lepas sudah menjadi industri pariwisata yang menghasilkan jutaan dolar per tahun. Sayangnya, semua potensi itu belum sepenuhnya disadari di Aceh. Kita lebih banyak mendengar cerita tentang mahseer dari orang tua kita, ketimbang melihatnya langsung. Bahkan anak-anak kita mungkin tak pernah tahu bahwa ikan seindah itu pernah hidup di sungai-sungai kita.

Di Mana Mahseer Aceh Berada?

Aceh memiliki banyak sungai besar yang dulu dikenal sebagai habitat mahseer: Sungai Alas, Sungai Peusangan, Sungai Tripa, Sungai Jambo Aye, dan masih banyak lagi. Tapi sekarang, menyebut nama mahseer di desa-desa sekitar sungai itu sering disambut dengan gelengan kepala atau senyum pahit. โ€œSudah lama tidak terlihat,โ€ begitu kira-kira jawaban mereka. Penyebabnya tidak rumit justru sangat bisa dijelaskan.
Pertama, kerusakan habitat. Penebangan hutan, pembukaan lahan, pertambangan ilegal, dan pembangunan yang tak terkendali membuat sungai kehilangan kualitas airnya. Lumpur, pestisida, hingga logam berat meracuni aliran sungai yang dulunya jernih.
Kedua, praktik penangkapan ikan yang destruktif. Masih banyak nelayan sungai yang menggunakan racun (potas), setrum, atau bahkan bom ikan. Praktik ini tidak hanya mematikan ikan dewasa, tapi juga membunuh telur dan benih mahseer yang baru menetas.
Ketiga, tidak adanya perhatian serius dari pemerintah. Hingga kini, belum ada program konservasi spesifik untuk mahseer di Aceh, padahal spesies ini sangat rentan terhadap tekanan lingkungan. Jika kita tidak segera bertindak, bukan tidak mungkin mahseer Aceh akan punah dalam waktu dekatโ€”tanpa pernah tercatat secara ilmiah.

Aceh Bisa Jadi Pemimpin Konservasi

Salah satu sungai yang ada di Aceh. Foto: Ampelsa/Antara Foto
Pertanyaannya: apakah semua ini tak bisa dicegah? Tentu bisa. Justru Aceh punya peluang besar untuk menjadi pelopor konservasi ikan air tawar di Indonesia.
Pertama, kita punya sumber daya alam yang luar biasa. Pegunungan Leuser, hutan-hutan tropis di Gayo Lues, Aceh Tenggara, hingga Aceh Tengah masih menyimpan sungai yang relatif bersih. Ini adalah โ€œsisa-sisaโ€ habitat mahseer yang harus kita lindungi dengan sepenuh hati.
Kedua, ada budaya lokal yang bisa kita angkat. Di beberapa daerah, masyarakat adat masih memegang prinsip kearifan lokal dalam mengelola sungai. Konsep larangan, lubuk larangan, atau kawasan pantangan bisa dihidupkan kembali sebagai bentuk perlindungan terhadap ikan-ikan besar seperti mahseer.
Ketiga, potensi ekowisata kita belum tergarap optimal. Bayangkan jika ada paket wisata pancing tangkap-lepas di Sungai Alas, dipadukan dengan trekking hutan Leuser dan penginapan ramah lingkungan. Ini bukan impian India dan Nepal sudah membuktikan bahwa mahseer bisa menjadi daya tarik wisata dunia.

Apa yang Bisa Dilakukan?

Masalah besar sering kali dimulai dari kelalaian kecil. Tapi solusi juga bisa dimulai dari langkah sederhana. Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan, baik sebagai individu, komunitas, maupun pemerintah:

1. Pemetaan Habitat Mahseer

Kita perlu mendata sungai-sungai mana yang masih menjadi habitat potensial mahseer. Ini bisa dilakukan melalui kerja sama antara peneliti, masyarakat lokal, dan pemerintah daerah.

2. Moratorium Penangkapan Mahseer

Jika memang populasinya kritis, maka harus ada larangan sementara untuk menangkap mahseer, terutama di musim pemijahan.

3. Edukasi Masyarakat Sungai

Penduduk desa yang tinggal di sepanjang sungai harus dilibatkan. Mereka perlu tahu bahwa menjaga mahseer berarti menjaga masa depan sungai mereka.

4. Budidaya dan Restocking

Teknologi pembenihan mahseer secara buatan sudah berkembang. Pemerintah bisa mendirikan balai benih khusus mahseer, dan melakukan restocking ke habitat alami yang sudah dilindungi.

5. Ekowisata Sungai

Pemerintah daerah, khususnya Dinas Pariwisata, bisa menggandeng LSM dan komunitas untuk merancang paket wisata berbasis sungai dan konservasi.

6. Kampanye Digital

Mahasiswa, influencer, dan media lokal bisa berperan menyuarakan pentingnya melindungi mahseer. Foto-foto, dokumenter, hingga konten edukatif di media sosial bisa menjadi alat kampanye yang kuat.

Menyelamatkan Mahseer, Menyelamatkan Sungai

Pada akhirnya, menyelamatkan mahseer bukan hanya soal mempertahankan satu jenis ikan, tapi soal menyelamatkan sungai secara keseluruhan. Sungai yang sehat akan mengalirkan kehidupan air bersih, pangan, energi, dan keseimbangan ekologi. Sungai yang mati hanya akan menjadi parit besar yang membawa limbah menuju laut. Jika kita bisa mengembalikan mahseer ke habitatnya, itu berarti kita telah berhasil mengembalikan kehidupan ke sungai-sungai Aceh. Dan itu adalah warisan paling berharga yang bisa kita tinggalkan untuk generasi mendatang.
Sebelum semuanya terlambat, mari kita kenali kembali mahseer. Mari kita lindungi dia, karena melindungi mahseer adalah melindungi jantung Aceh yang sebenarnya: air, hutan, dan kehidupan.
Catatan: Artikel ini ditulis untuk meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya konservasi Eungkot Kerling (ikan mahseer) di Aceh. Semua data dan opini adalah hasil pengamatan dan interpretasi penulis, serta merujuk pada laporan-laporan lingkungan dan konservasi yang relevan.
Trending Now