Konten dari Pengguna
Pertanian Adaptif Berbasis Iklim: Strategi Bertahan di Era Krisis
2 September 2025 19:36 WIB
ยท
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Pertanian Adaptif Berbasis Iklim: Strategi Bertahan di Era Krisis
Pertanian adaptif berbasis iklim bukan sekadar strategi bertahan, tetapi cara merancang ulang sistem pangan agar lebih tangguh dan berkelanjutan. #userstoryNofiyendri Sudiar
Tulisan dari Nofiyendri Sudiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Krisis iklim kian nyata dampaknya di sektor pertanian. Musim menjadi sulit diprediksi, curah hujan ekstrem sering memicu banjir, sementara kekeringan berkepanjangan mengancam produksi di berbagai daerah. Serangan hama juga semakin meningkat ketika suhu dan kelembapan berubah drastis. Semua ini menyebabkan produktivitas menurun, biaya produksi melonjak, dan risiko gagal panen semakin besar.
Di sisi lain, alih guna lahan untuk industri dan perumahan mempersempit ruang bagi budidaya pangan, sementara regenerasi petani terhambat karena anak muda enggan berkecimpung di sektor ini. Pertanian dianggap kotor, berat, dan tidak menjanjikan secara ekonomi. Kombinasi tantangan ini menuntut transformasi menyeluruh menuju pertanian adaptif berbasis iklim, sebuah pendekatan yang memadukan sains, teknologi, dan inovasi sosial untuk menjamin ketahanan pangan.
Adaptasi harus dimulai dari tanah karena tanah yang sehat menentukan daya tahan tanaman terhadap perubahan cuaca ekstrem. Praktik pengelolaan regeneratif seperti penanaman tanaman penutup, pengembalian bahan organik, penggunaan kompos dan biochar, serta pengurangan olah tanah terbukti mampu menjaga kelembapan dan mengurangi erosi. Peningkatan kandungan karbon di dalam tanah juga memberi manfaat ganda karena meningkatkan produktivitas dan berkontribusi terhadap mitigasi emisi karbon.
Pengelolaan air menjadi sama pentingnya. Perubahan pola hujan menuntut petani untuk memanfaatkan teknologi sederhana, misalnya pemanenan air hujan, pembuatan embung mikro, dan penerapan irigasi hemat air seperti irigasi tetes. Penyesuaian kalender tanam berbasis prakiraan cuaca menjadi langkah penting agar tanaman tumbuh optimal.
Keberagaman dalam pola tanam juga merupakan strategi kunci menghadapi ketidakpastian iklim. Sistem monokultur terbukti sangat rentan terhadap serangan hama dan cuaca ekstrem, sehingga diversifikasi menjadi bentuk perlindungan alami. Agroforestri, integrasi tanaman dengan ternak, dan pengembangan kebun campur adalah contoh nyata praktik yang dapat menjaga produktivitas sekaligus menciptakan sirkulasi nutrien yang lebih baik. Keberadaan bank benih lokal yang menyimpan varietas adaptif akan sangat membantu petani menghadapi perubahan lingkungan yang cepat.
Selain pengelolaan sumber daya, pemanfaatan teknologi digital menjadi kebutuhan mendesak. Informasi cuaca yang akurat, sistem peringatan dini, hingga penggunaan sensor kelembapan tanah dapat membantu petani mengambil keputusan lebih tepat. Teknologi drone untuk pemetaan lahan dan deteksi dini serangan hama juga semakin terjangkau.
Sementara itu, platform pemasaran digital membuka peluang petani untuk menjual hasil panen secara langsung kepada konsumen, mengurangi ketergantungan pada tengkulak, dan mendapatkan harga yang lebih adil. Kombinasi inovasi ini akan semakin efektif jika didukung oleh model bisnis yang inklusif. Koperasi modern, kemitraan yang transparan dan skema asuransi indeks iklim dapat memberi perlindungan finansial kepada petani tanpa proses klaim yang rumit.
Generasi muda juga harus dilibatkan dalam transformasi ini. Pertanian perlu diposisikan sebagai sektor berbasis teknologi, inovasi, dan kewirausahaan. Program inkubasi agritech, pelatihan digital farming, akses modal berbasis arus kas, dan kurikulum vokasi yang menggabungkan agribisnis dengan teknologi informasi akan membuat pertanian lebih menarik bagi anak muda. Jika pertanian hanya dipandang sebagai pekerjaan fisik yang berat, maka regenerasi petani akan terus terhambat. Namun, jika sektor ini dilihat sebagai peluang bisnis berbasis teknologi yang mampu menjawab krisis pangan global, maka anak muda akan melihat pertanian sebagai masa depan.
Semua langkah ini sejalan dengan SDGs 13: Climate Action, yang menuntut upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim secara sistematis. Pertanian adaptif bukan hanya menjaga ketersediaan pangan, tetapi juga berperan dalam menekan emisi dari sektor agrikultur melalui efisiensi input, pengurangan pembukaan lahan baru, dan peningkatan serapan karbon di tanah. Dengan mengintegrasikan prinsip-prinsip SDGs 13 dalam praktik pertanian, kita bukan hanya menyelamatkan petani dari guncangan iklim, tetapi juga membangun fondasi bagi pembangunan berkelanjutan yang melibatkan semua pihak.
Pertanian adaptif berbasis iklim bukan sekadar strategi bertahan, tetapi cara merancang ulang sistem pangan agar lebih tangguh dan berkelanjutan. Dengan pengelolaan sumber daya yang bijak, pemanfaatan teknologi, model bisnis inovatif, dan partisipasi generasi muda, Indonesia dapat memimpin implementasi pertanian yang sejalan dengan aksi iklim global. Saat cuaca semakin tidak menentu, langkah adaptasi inilah yang memberi kepastian baru bagi masa depan pangan nasional dan kesejahteraan petani.

