Konten dari Pengguna

AI Bukan Meja Makan, Melainkan Pisau Tajam

Tantan Hadian
Praktiisi Pendidikan, Alumnus S3 Ilmu Pendidikan Universitas Islam Nusantara Bandung, Tinggal di Kota Moci
2 Juli 2025 17:48 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
AI Bukan Meja Makan, Melainkan Pisau Tajam
AI seharusnya bukan alat instan penyaji tulisan, melainkan pisau tajam yang mengasah nalar, kreativitas, dan orisinalitas penulis di era serba cepat.
Tantan Hadian
Tulisan dari Tantan Hadian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Gambar Illustrasi AI Bukan Meja Makan Tapi Pisau Tajam(ChatGPT Image)
zoom-in-whitePerbesar
Gambar Illustrasi AI Bukan Meja Makan Tapi Pisau Tajam(ChatGPT Image)
Kehadiran kecerdasan buatan (AI) dalam kehidupan sehar-hari, terutama dalam dunia menulis dan Pendidikan sejenis ChatGPT, Gemini, Claude, Microsoft Copilot, Perplexity, Meta AI, dan lain-lain telah membawa kenyamanan luar biasa bagi pemakainya.
Dengan satu perintah singkat, sebuah artikel, esai, atau bahkan puisi bisa tersusun dalam hitungan detik. Namun, sisi lain dari kenyamanan ini AI juga menyimpan resiko yang mengerikan seperti menurunnya daya pikir kritis dan ketajaman analisis penulis itu sendiri.
AI kini sering diperlakukan layaknya meja makan: tempat untuk menyajikan hasil akhir yang siap dikonsumsi. Tulisan dibuat cepat, rapi, dan terstruktur, tetapi kehilangan kedalaman, nuansa, makna, emosi dan kekhasan penulisnya.
Gaya bahasanya cenderung seragam, datar, dan terkesan generik. Akibatnya, tulisan terasa “pintar” secara teknis, tetapi tidak menyentuh pembaca secara emosional maupun intelektual.
Padahal, menulis seharusnya merupakan proses berpikir yang aktif. Proses ini menuntut refleksi, perenungan, bahkan pergulatan batin. AI tidak bisa menggantikan itu semua. Justru di sinilah seharusnya AI difungsikan: sebagai pisau tajam, bukan meja makan.
Pisau tajam melambangkan alat yang membantu penulis menganalisis, menguji argumen, dan memperkaya perspektif. AI bisa digunakan untuk mengeksplorasi sudut pandang lain, menyimulasikan argumen yang berlawanan, atau mempercepat riset awal.
Dalam posisi ini, AI tidak menggantikan pemikiran, tetapi memperkuatnya. Ia bukan pengganti otak, melainkan tantangan bagi otak kita untuk berpikir lebih luas dan dalam.
Namun, yang perlu diingat: tidak akan pernah ada tulisan yang benar-benar kuat jika penulisnya malas membaca. Menulis yang baik lahir dari pengendapan, pengalaman, pengamatan, dan pembacaan yang luas dan mendalam.
Banyak orang terburu-buru ingin menjadi penulis, tetapi belum memiliki kebiasaan membaca yang kuat. Padahal, seorang penulis harus membaca jauh lebih banyak daripada jumlah orang yang membaca tulisannya. Itulah bekal intelektual yang tidak bisa ditiru oleh mesin, secerdas apa pun kecerdasan buatan itu.
Membaca memberikan lapisan kekuatan pada tulisan. Ia memberi konteks, data, diksi, bahkan cara memandang. Tanpa itu, tulisan menjadi dangkal dan mudah goyah.
Sayangnya, banyak yang terlalu mengandalkan AI untuk mengcopypaste sebuah argumen atau pernyataan, AI hanya mengulang apa yang populer di dunia internet, bukan menghadirkan pemikiran segar yang penuh makna.
Bila penulis menggunakan AI hanya untuk mendapatkan “produk tulisan jadi”, maka proses berpikirnya berhenti. Namun, jika penulis menjadikan AI sebagai mitra diskusi—yang diperdebatkan, dikritisi, bahkan dilawan—maka AI justru menjadi ruang latihan berpikir yang luar biasa. Di sinilah posisi AI menjadi bermakna: sebagai alat pengasah, bukan pemberi makan.
Di tengah tantangan pembelajaran abad ke-21, empat keterampilan utama—Critical thinking, Creativity, Collaboration, dan Communication (4C)—menjadi tuntutan yang tak terelakkan.
Keempatnya membutuhkan manusia yang aktif berpikir, berinovasi, bekerja sama, dan mampu menyampaikan ide secara jelas dan bernalar.
Namun justru di sinilah paradoks muncul: AI sangat mampu menyusun teks logis dan kreatif secara teknis, tetapi tidak serta-merta melatih manusia berpikir kritis atau berkomunikasi otentik.
Tanpa disadari, AI bisa menggantikan kreativitas dengan hasil imitasi, menggantikan kolaborasi dengan “kerja sendiri tapi seolah bersama-sama”, dan menggantikan komunikasi dengan rangkaian kata yang terlalu sempurna namun kosong makna.
Critical thinking, keterampilan berpikir analitis dan reflektif, menjadi yang paling rentan tumpul. Ketika manusia berhenti mempertanyakan karena semua jawaban tersedia dalam bentuk instan, maka proses berpikir tak lagi diasah.
Creativity pun menjadi kabur batasnya. Apakah menyalin gaya dari AI yang telah menggabungkan 1.000 artikel dianggap sebagai proses kreatif? Tidak. Kreativitas lahir dari pengalaman personal, dari kegagalan dan pencarian bentuk ekspresi diri, bukan dari hasil kompilasi mesin.
Sementara itu, collaboration sejati justru membutuhkan dialog antarindividu—bukan dialog satu arah dengan mesin. Kita harus belajar bekerja sama dengan manusia nyata, memahami perbedaan sudut pandang, dan membangun kesepahaman secara empatik.
AI tidak bisa menggantikan konflik ide, kompromi, dan proses negosiasi antarpikiran manusia.
Terakhir, communication. Banyak yang tertipu oleh struktur kalimat yang rapi dan formal hasil AI. Namun komunikasi yang bermakna lahir dari keberanian mengungkapkan gagasan otentik, disertai pemahaman konteks sosial dan budaya.
AI tidak bisa memahami ironi, emosi, atau bahasa batin dalam pengalaman masyarakat tertentu.
Ke depan, keterampilan menulis bukan hanya soal kemampuan menyusun kata, tetapi juga kemampuan menyaring informasi, memilah logika, dan mempertahankan orisinalitas gagasan di tengah kemudahan teknologi.
AI hanyalah alat. Yang menentukan arah dan kedalaman tulisan tetap manusia itu sendiri.
Kita bisa memanfaatkan AI sebagai teman kerja intelektual, bukan penentu hasil akhir.
Ia bisa membuka pintu, tetapi kitalah yang harus melangkah masuk dan menjelajahi ruang-ruang pengetahuan di baliknya. Dan untuk itu, satu-satunya jalan tetap sama sejak zaman dahulu: membaca, merenung, berdialog, dan berpikir.
Jika kita ingin pendidikan yang kritis dan budaya literasi yang kuat, maka cara kita menggunakan AI harus berubah. Bukan untuk menyederhanakan pikiran, tapi untuk menajamkannya.
Bukan untuk menggantikan proses berpikir, tapi untuk menantangnya. Kita tidak sedang menciptakan generasi yang mahir menyalin dan menempel, tapi generasi yang mampu membedakan, menyusun, dan menyampaikan ide dengan pijakan yang kokoh.
Karena AI, seperti pisau, bisa mempertajam atau justru melukai. Semuanya tergantung siapa yang memegang, dan untuk apa ia digunakan. Dan dalam dunia pendidikan hari ini, kita butuh lebih banyak tangan yang berani berpikir, bukan hanya jari yang pandai mengcopypaste.
Trending Now