Konten dari Pengguna

Inspirasi "Visi Anak Pasar"

Tatang Muttaqin
Fellow di Groningen Research Centre for Southeast Asia and ASEAN.
23 Desember 2025 20:55 WIB
Β·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Inspirasi "Visi Anak Pasar"
Buku "Visi Anak Pasar" menceritakan kehidupan E. Aminudin Aziz yang kini memimpin Perpusnas. Ceritanya mudah dicerna dan penuh energi inspiratif. #userstory
Tatang Muttaqin
Tulisan dari Tatang Muttaqin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Resensi buku Visi Anak Pasar Foto: Tatang Muttaqin
zoom-in-whitePerbesar
Resensi buku Visi Anak Pasar Foto: Tatang Muttaqin
Bertajuk β€œVisi Anak Pasar: Catatan Kecil Kehidupan E. Aminudin Aziz,” buku yang dieditori oleh Tatang Sumarsono ini bukan sekadar biografi tokoh akademik dan birokrat yang kini memimpin Perpustakaan Nasional. Berkisah dari kehidupan nyata yang jujur, hangat, dan penuh tenaga yang menginspirasi, tentang bagaimana keterbatasan justru bisa menjadi bahan bakar kreativitas, ketekunan, dan keberanian untuk bermimpi dan meraihnya.
Sejak halaman-halaman awal, pembaca langsung diajak menyelami dunia Endang Aminudin Aziz yang biasa disapa Amin. Terlahir dari seorang ayah yang dikenal sebagai anak kapal dan seorang ibu penjual agar-agar di pasar Cikoneng, Ciamis, Amin tumbuh dalam keseharian yang keras namun membumi, dari mulai menimba air sumur, mengupas kelapa untuk membantu ibunya berjualan agar-agar, bermain kelereng, dan menerbangkan layang-layang. Pengalaman masa kecil itu bukan sekadar nostalgia, melainkan fondasi karakter yang tangguh, ulat, dan terbiasa bekerja keras sejak dini.
Buku ini bercerita bagaimana Amin sejak kecil selalu meraih prestasi terbaik dari jenjang SD, SMP dan SMA di Ciamis. Menapaki pendidikan tinggi dengan beasiswa Ikatan Dinas yang cukup lengkap. Sang pamuncak, sebutan untuk Amin yang selalu meraih prestasi tertinggi baik saat menyelesaikan Diploma II yang berlanjut dengan Diploma III sampai jenjang Sarjana, tahapan yang tak lazim di era kiwari.
Semangat untuk terus berprestasi mengantarkan Amin menjadi Mahasiswa Berprestasi mewakili Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Bandung di kancah nasional. Prestasi yang sangat membanggakan ini tak lepas dari perpaduan capaian akademik yang selalu meraih nilai tertinggi, aktivitas kemahasiswaan sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa dan tentu saja kemahiran berbahasa Indonesia dan Inggris yang menonjol.
Uraian mengalir buku ini menjadi semakin menarik ketika mengisahkan fase pendidikan lanjutan Amin di luar negeri dengan beasiswa bergengsi dari pemerintah Australia, AusAid di Monash University. Tak sulit untuk Amin menuntaskan jenjang Masternya sehingga tepat waktu dan kembali ke tanah air untuk mengabdi di IKIP Bandung. Menariknya, kurang dari satu sauh dari kepulangan dari Australia, Amin kembali mendapat beasiswa pemerintah yang dibiayai Bank Dunia untuk pendidikan lanjutan PhD Linguistik di Monash University, Australia.
Untuk menyiasati biaya hidup bersama keluarga di Melbourne, Amin berjualan bakso. Dalam kondisi terjepit sekalipun, Amin membuktikan satu hal penting, kreativitas yang terlahir dari himpitan. Riungan pelajar dan warga Indonesia menjadi pasar pertama untuk bakso kampungnya yang kemudian menjadi cukup beken di seantero Melbourne. Amin mengantar pesanan bakso dengan sedan Ford Mazda tipe 232, mobil yang cukup populer di era 1980-an. Di samping kuliah sekaligus menjalankan peran intelektual dan berjualan bakso sebagai perjalanan bisnisnya, Amin juga terbiasa mengisi khutbah di Konsulat Jenderal RI. Selanjutnya, bisnis baksonya meluas dijual lewat toko Laguna milik Koh Hengky, lengkap dengan bendera perusahaan sang pemilik, karena mengurus izin usaha bukan perkara mudah di Negeri Kangguru.
Sekalipun menyambi berjualan bakso, tak berarti menjadi penghalang berprestasi. Justru sebaliknya, Amin lulus PhD tepat waktu, meraih predikat doktor termuda untuk ukuran dosen-dosen di UPI saat itu, yaitu pada usia 33 tahun, dengan nilai tertinggi dan terbaik di antara mahasiswa non-native. Rekam jejak prestasinya nyaris tanpa cela: sejak D2, D3, S1, S2, hingga S3, Amin dikenal sebagai langganan juara. Buku ini dengan renyah menggambarkan bahwa prestasi Amin bukan hasil keajaiban, melainkan buah dari kerja keras, disiplin, dan konsistensi yang dipupuk sejak muda.
Kisah masa remaja dan mahasiswa Amin pun dituturkan dengan ringan, membumi dan diperkaya dengan kosakata Sunda yang khas. Saat SMP di Cikoneng, Amin aktif di Pramuka bersama geng-nya, yaiu Uu Suparman, Asep Eka, Enuh, Iman, dan Hendra yang dikenal sebagai laskar β€œasoy geboy” remaja Cikoneng yang pernah menjuarai lomba saat Amin memimpin regu Bebek. Di saat kuliah dengan ikatan dinas yang pas-pasan, Amin menerima order terjemahan bahasa Inggris, pernah menjadi kernet angkutan kota Kebon Kalapa-Ledeng, hingga menyambi sebagai guru bahasa Inggris di SMP Islam Al-Falah Dago. Semua itu dijalani tanpa keluhan berlebihan, seolah menjadi bagian wajar dari proses menuju mimpi yang lebih besar dengan semangat man jadda wajada, siapa bersungguh-sungguh akan berhasil.
Selepas meraih gelar akademik, karier Amin melesat. Kemampuannya membangun hubungan dengan para senior dan kolega menjadi salah satu keunggulan penting. Tak heran, di usia 40 tahun ia sudah menyandang gelar guru besar di IKIP Bandung. Dunia birokrasi pun terbuka lebar, dimulai dari menjadi Kepala Pusat Bahasa Kemendikbud, Wakil Rektor UPI yang telah berubah dari IKIP (2010), hingga mencoba peruntungan sebagai Rektor UPI pada 2015 dan 2025, meski belum berhasil. Buku ini dengan jujur mencatat kegagalan tanpa nada getir, menegaskan bahwa jatuh bangun adalah bagian sah dari perjalanan hidup.
Bab-bab berikutnya menampilkan kiprah Amin di level internasional. Dari rencana menjadi Atdikbud Australia, yang justru mengantarkannya lama berkibar di London sejak 2016 hingga peran strategisnya saat Nadiem Makarim mendapuknya menjadi Kepala Badan Pengembangan Bahasa Kemdikbudristek. Salah satu pencapaian puncaknya adalah keberhasilan menjadikan Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi UNESCO pada 2023, sebuah tonggak sejarah diplomasi kebahasaan. Prestasi lain menyusul, masuk daftar 100 tokoh kecerdasan buatan versi Majalah TIME (5 September 2025), serta Satyalancana Wirakarya dari Presiden RI atas dedikasinya merevitalisasi bahasa daerah.
Lengkap sudah potret Amin sebagai akademisi, birokrat, dan diplomat budaya. Kini, ia mengemban amanah baru sebagai Kepala Perpustakaan Nasional, tugas yang terasa seperti pulang kampung intelektual, mengingat pengalamannya sebagai Plt. Kepala Perpusnas sebelumnya. Buku ini juga tak lupa menyoroti peran keluarga sebagai jangkar kehidupan dengan dukungan yang memungkinkan anak-anaknya menikmati pendidikan terbaik di dalam dan luar negeri.
Ala kulli hal, biografi Amin ini mudah dicerna, renyah, dan penuh energi inspiratif yang mengajarkan bahwa asal-usul sederhana bukan penghalang untuk menembus Melbourne, London, hingga Paris. Untuk anak-anak muda, khususnya pelajar dan mahasiswa dari desa, buku ini adalah pengingat kuat, mimpi boleh tinggi, asal kaki tetap menapak tanah dan tangan tak lelah bekerja. Kisah siswa pamuncak asal Ciamis ini layak dibaca, direnungkan, dan dijadikan bahan bakar meraih harapan.
Trending Now