Konten dari Pengguna

Integritas Kunci Test Kemampuan Akademik 2025

Tatang Muttaqin
Fellow di Groningen Research Centre for Southeast Asia and ASEAN.
4 November 2025 9:34 WIB
Ā·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Integritas Kunci Test Kemampuan Akademik 2025
Di balik ketertiban ujian ini, ada pelajaran penting. Bangsa ini tidak hanya butuh generasi cerdas, tetapi juga berkarakter. Integritas bukanlah sekadar kata, melainkan napas sejati dalam belajar.
Tatang Muttaqin
Tulisan dari Tatang Muttaqin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) tahun 2025. Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) tahun 2025. Foto: Dok. Istimewa
Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) tahun 2025 baru saja dimulai. Dari laporan berbagai daerah, suasananya relatif lancar, tertib, dan penuh semangat. Namun, di tengah kelancaran itu, muncul satu dua peristiwa kecil yang mengingatkan kita bahwa ujian, betapa pun formal dan rutin, selalu menjadi cermin karakter bangsa.
Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP), Toni Toharuddin, menyampaikan apresiasinya kepada semua pihak yang terlibat. ā€œKami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam menyukseskan pelaksanaan TKA tahun 2025 hari pertama,ā€ ujarnya di Jakarta, Senin (3/11). Ucapan sederhana itu mencerminkan kerja besar di lapangan, kerja senyap dari guru, pengawas, panitia daerah, dan tentu para siswa yang datang dengan harapan besar.
Namun, di tengah pelaksanaan yang padat, satu insiden sempat mencuat dan menarik perhatian seorang peserta sengaja melakukan siaran langsung (live streaming) saat ujian berlangsung. Ini menunjukkan bagaimana godaan dunia digital begitu kuat. Beruntung, pengawas di lokasi sigap menanganinya. Toni Toharuddin secara khusus berterima kasih kepada masyarakat yang turut melaporkan kasus ini, sekaligus menegaskan bahwa pelanggaran semacam ini tidak akan dianggap sepele dan harus ditindak tegas.
Dalam Keputusan Mendikdasmen Nomor 95 Tahun 2025 sudah jelas disebutkan: peserta ujian tidak diperbolehkan membawa atau menggunakan gawai selama ujian berlangsung. Bukan karena pemerintah anti-teknologi, tapi karena teknologi tak boleh menjadi jalan pintas menuju hasil instan. ā€œApabila terbukti melakukan pelanggaran, peserta dapat dikenai sanksi berupa pembatalan hasil TKA,ā€ tegas Toni. Aturan ini bukan untuk menakut-nakuti, melainkan menjaga makna dari kata ā€œujianā€ itu sendiri merupakan sebuah proses menguji diri, bukan sekadar mencari skor.
Khawatir soal kebocoran soal? Toni menenangkan publik. Ia menjelaskan bahwa setiap sesi dan wilayah memiliki variasi soal yang berbeda. Jadi, tak ada peserta yang diuntungkan, dan tak ada yang dirugikan. Bahkan, kalaupun ada yang menonton siaran langsung ujian, tidak akan memberi keuntungan apa pun. Dalam ujian yang dirancang dengan sistem pengacakan, yang diadu bukan hafalan, tapi ketahanan berpikir dan kejujuran pribadi. Integritas ini diperkuat dengan penerapan metode pengawasan silang. Guru dari sekolah lain akan mengawas di lokasi yang telah ditetapkan untuk meminimalisasi segala bentuk kecurangan.
Toni juga menegaskan komitmen Kemendikdasmen untuk menjaga integritas dan keadilan dalam setiap pelaksanaan TKA. Untuk memperkuat pengawasan, dibuka posko pemantauan daring agar koordinasi antara pusat, pemerintah daerah, dan sekolah pelaksana dapat berlangsung cepat dan transparan. Di era digital seperti sekarang, pengawasan tidak lagi hanya soal mata yang melihat, tetapi sistem yang saling terhubung dan saling mengingatkan.
Menariknya, dari berbagai laporan di daerah, kita melihat betapa besar keseriusan sekolah-sekolah dalam menjaga marwah ujian ini. Di Belitung Timur, misalnya, pelaksanaan TKA di SMKN Manggar berlangsung tanpa kendala berarti. Kepala sekolahnya memastikan semua persiapan berjalan sesuai rencana. ā€œUjian dibagi dua kelas, masing-masing 20 peserta, dan pengawasnya dari sekolah lain,ā€ katanya. Cara ini sederhana tapi efektif, memastikan objektivitas terjaga.
Empat siswi yang ditemui setelah ujian mengaku lega. Soal-soalnya, kata mereka, menantang, bahkan ada yang di luar dugaan. Tapi bukan itu yang mereka keluhkan. Mereka justru merasa bangga bisa menaklukkan ujian yang benar-benar menuntut kemampuan berpikir. ā€œBahasa Indonesia dan Bahasa Inggris masih bisa kami kerjakan, tapi yang lain cukup sulit,ā€ ujar salah satu dari mereka sambil tersenyum. Kesulitan yang mereka rasakan itulah yang justru menjadi pengalaman berharga, karena belajar sejatinya memang tak selalu nyaman, tapi selalu menguatkan.
Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) tahun 2025. Foto: Dok. Istimewa
Cerita semacam ini mungkin tidak akan muncul di headline besar, tapi justru di sanalah nilai sesungguhnya dari sebuah ujian. Bukan pada nilai akhir yang tertulis di kertas, melainkan pada pengalaman, kesungguhan, dan kejujuran yang dipupuk dalam prosesnya. Di ruang-ruang ujian itu, integritas sedang diuji. Siapa yang memilih jujur saat ada kesempatan curang, sebenarnya sedang menempuh pendidikan yang paling tinggi nilainya.
Toni Toharuddin kemudian menyampaikan pesan yang layak direnungkan: ā€œUjian bukan sekadar mencari siapa yang paling pintar, tapi siapa yang paling jujur dan berintegritas.ā€ Kalimat ini menampar lembut cara kita memandang ujian selama ini. Sering kali kita terlalu sibuk mengejar hasil, sampai lupa bahwa prosesnya justru yang membentuk karakter.
TKA 2025 kini lebih dari sekadar seleksi, ia adalah cermin upaya sistem pendidikan menjaga kepercayaan publik. Di tengah tantangan teknologi dan budaya serba instan, menjaga kejujuran memang terasa berat. Justru karena itu, setiap upaya menegakkan integritas harus dihargai.
Keberhasilan TKA tidak hanya dilihat dari kelancaran teknis, melainkan dari kepercayaan publik terhadap hasilnya. Kepercayaan ini hanya akan tumbuh subur jika semua pihak—peserta, pengawas, sekolah, dan masyarakat—berpegang teguh pada satu nilai bahwa integritas dan kejujuran tidak bisa ditawar.
Bagi siswa, TKA adalah awal dari perjalanan panjang. Cara mereka menjalani ujian ini akan membentuk karakter mereka di masa depan. Nilai ujian mungkin mudah dilupakan, tetapi nilai kejujuran akan menetap sebagai pegangan hidup.
Di balik ketertiban ujian ini, ada pelajaran penting. Bangsa ini tidak hanya butuh generasi cerdas, tetapi juga berkarakter. Integritas bukanlah sekadar kata, melainkan napas sejati dalam proses belajar.
TKA 2025 memberi harapan itu. Dari Jakarta hingga Belitung, dari pengawas yang tegas hingga siswa yang bersungguh-sungguh, kita melihat semangat yang sama: menjaga kehormatan belajar. Jika semangat ini terus dijaga, kita bukan hanya sedang mencetak calon mahasiswa terbaik, tapi sedang menyiapkan warga negara yang bisa dipercaya. Karena pada akhirnya, pendidikan bukan hanya soal menguasai pengetahuan, tapi soal menjadi manusia yang jujur dalam segala ujian kehidupan.
Trending Now