Konten dari Pengguna
Kang Zaki, Ahli Elektro, Hafidz, dan Ahli Tafsir
2 September 2025 16:14 WIB
·
waktu baca 5 menit
Kiriman Pengguna
Kang Zaki, Ahli Elektro, Hafidz, dan Ahli Tafsir
Kang Zaki, seorang Doktor Teknik Elektro Universitas Groningen Belanda yang menoreh jejak sebagai ahli elektro, hafidz, dan tafsir. Ia juga menjembatani kokoh antara sains dan agama. #userstoryTatang Muttaqin
Tulisan dari Tatang Muttaqin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pada tanggal 27 Agustus 2025, Muhammad Zakiyullah Romdlony (Kang Zaki) yang merupakan Doktor Teknik Elektro Universitas Groningen Belanda mempertahankan disertasi bertajuk “Relevansi Al-Qur’an dan Sains Modern: Sintesis Epistemologi Baru yang Menggabungkan Rasionalitas, Empirisisme, dan Transenden” di kampus UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
Kisah hidup Kang Zaki seperti jalur ganda yang unik: satu kaki menapak kuat di dunia teknologi modern, satunya lagi berakar dalam pada ilmu-ilmu agama. Dan keduanya tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi dipertemukan dalam sebuah sintesis yang indah.
Perjalanan Kang Zaki dimulai dari pesantren di Jombang, tempat ia menimba dasar-dasar ilmu agama. Namun takdir membawanya melangkah jauh ke Belanda, tepatnya di University of Groningen, untuk menempuh doktor di bidang teknik elektro.
Di sana, ia tidak hanya bergelut dengan riset dan jurnal internasional, tetapi juga memimpin sebuah komunitas bernama deGromiest—organisasi muslim asal Indonesia yang bermukim di Groningen. Anggotanya beragam: mahasiswa S1 hingga PhD, juga keluarga keturunan Indonesia-Suriname yang menetap di Belanda.
Karakter utama deGromiest adalah keswadayaan: kegiatan lahir dari, oleh, dan untuk anggota. Tak ada sponsor besar, tak ada lembaga yang mengikat karena semua berjalan dengan semangat kebersamaan. Di bawah kepemimpinan Kang Zaki, kegiatan memperhalus bacaan Qur’an (tahsin) dan membiasakan menghafal (tahfidz) menjadi motor utama. Targetnya pun naik kelas: bukan sekadar bisa membaca, tetapi membaca dengan baik, indah, dan benar.
Di samping menyelenggarakan pengajian untuk dewasa secara berkeliling, Kang Zaki selaku Ketua DeGromist mengelola pengajian khusus untuk anak-anak dan remaja setiap hari Ahad. Program ini menjadi “oase” bagi keluarga mahasiswa Indonesia di Belanda. Bayangkan, di tengah kesibukan studi doktoral, para orang tua kadang khawatir anak-anak mereka kehilangan jejak agama. Kehadiran program ini memberi ruang bagi mereka untuk mengaji, bertemu teman sebaya, sekaligus mengenal lebih dekat agamanya.
Menariknya, sekalipun aktif mengelola komunitas, Kang Zaki berhasil menuntaskan PhD teknik elektro dalam waktu sekitar 4 tahun, sebuah prestasi tersendiri karena cukup cepat dan lancar. Setelah itu, ia pulang ke tanah air dan mengajar di Fakultas Teknik Universitas Telkom Bandung.
Namun, di sinilah “jalur ganda” tadi makin jelas. Di tengah aktivitas mengajar dan berdakwah, ia kembali mendaftar program doktor, kali ini di UIN Sunan Gunung Djati Bandung, mengambil konsentrasi ilmu tafsir. Tidak main-main, disertasinya menyorot persoalan besar: relasi antara sains modern dan Al-Qur’an.
Salah satu kegelisahan akademik Kang Zaki adalah adanya dikotomi ilmu: seakan-akan sains modern berdiri di satu sisi, agama di sisi lain, keduanya berjalan sendiri tanpa jembatan. Dalam pandangan Islam klasik, ilmu adalah satu kesatuan. Fisika, matematika, kosmologi, hingga tafsir. Semuanya mengalir dari sumber yang sama: Allah, Sang Maha Mengetahui. Menurut Kang Zaki, pemisahan yang kaku justru membuat umat kehilangan pijakan epistemik.
Melalui penelitian kualitatif dengan pendekatan filosofis-analitis, ia merumuskan tiga tujuan utama: Pertama, menelusuri pandangan ulama Muslim klasik hingga kontemporer tentang relasi sains dan Al-Qur’an. Kedua, mengkritik ateisme dan scientisme, yang menolak otoritas agama dalam ranah pengetahuan. Ketiga, merumuskan epistemologi integratif yang bisa diaplikasikan untuk menjawab tantangan zaman.
Menurut disertasi Kang Zaki, banyak upaya integrasi sebelumnya masih bersifat apologetik: hanya “membela” agama dari tuduhan sains modern, tanpa menyajikan sintesis yang kokoh. Ia menawarkan sesuatu yang berbeda.
Sintesisnya memadukan tiga pilar: (1) Burhān Aṣ-Ṣiddīqīn: metode filsafat Islam klasik yang membuktikan kebenaran melalui keberadaan Yang Mutlak; (2) Logico-hypothetico-verificative method: metode ilmiah ala Baconian yang menjadi dasar sains modern; (3) Prinsip Wahyu Memandu Ilmu: kerangka aksiologis dari UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
Dari sini lahirlah tiga tahap metodologis: Tanzīlī (berangkat dari wahyu), Burhānī (rasional-empiris), dan Taḥqīqī (verifikasi dan aplikasi nyata). Sintesis epistemologi ini tidak berhenti di tataran konsep. Kang Zaki mengujinya pada tiga studi kasus.
Pertama, kosmologi: bagaimana memahami asal-usul alam semesta, bukan sekadar melalui Big Bang, tapi juga melalui kacamata Qur’ani. Kedua, bioetika: perdebatan seputar editing genetik dan bagaimana Al-Qur’an memberi bingkai moral-spiritual. Ketiga, ekologi: krisis lingkungan yang tak cukup dijawab oleh sains teknis, tetapi butuh orientasi nilai dan transendensi.
Hasilnya, model integratif ini bukan hanya menjawab kelemahan scientisme yang terlalu percaya pada sains seolah serba bisa, tetapi juga menegaskan kembali otoritas epistemik Al-Qur’an sebagai sumber pengetahuan yang sahih.
Secara singkat, sintesis epistemologi Kang Zaki adalah Epistemologi Tawhidi, yaitu sebuah kerangka berpikir yang mengembalikan ilmu pada fitrahnya: menyatu dengan kebenaran transenden (tauhid). Dampaknya tidak kecil karena jika diterapkan secara konsisten, model ini bisa melahirkan peradaban ilmu yang unggul, holistik, dan berkeadilan. Sains tidak lagi steril dari nilai dan agama tidak lagi dianggap “pengganggu” sains. Keduanya saling melengkapi, saling menguatkan.
Sulit untuk tidak terkesima ketika kita mendengar cerita Kang Zaki. Ia membuktikan bahwa seorang muslim bisa unggul di laboratorium sekaligus di musala, bisa bermain di jurnal internasional sekaligus menjaga hafalan Qur’an.
Di usianya yang masih produktif, ia sudah menorehkan jejak sebagai ahli elektro, hafidz, sekaligus ahli tafsir. Dan yang lebih penting: ia menghadirkan jembatan kokoh antara sains dan agama, sesuatu yang kerap kita anggap mustahil.
Alhamdulillah, dari pesantren di Jombang hingga ruang kuliah internasional, dari laboratorium teknik hingga forum tafsir, Kang Zaki menunjukkan bahwa ilmu sejati adalah ilmu yang menyatu dengan tauhid.

