Konten dari Pengguna

Melampaui Dikotomi Ilmu: Sintesis Baru Antara Sains Modern dan Al-Qur’an

Tatang Muttaqin
Fellow di Groningen Research Centre for Southeast Asia and ASEAN.
2 September 2025 17:42 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Melampaui Dikotomi Ilmu: Sintesis Baru Antara Sains Modern dan Al-Qur’an
Kang Zaki, seorang Doktor Teknik Elektro Universitas Groningen Belanda yang menoreh jejak sebagai ahli elektro, hafidz, dan tafsir. Ia juga menjembatani kokoh antara sains dan agama. #userstory
Tatang Muttaqin
Tulisan dari Tatang Muttaqin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ujian Promosi Doktor UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Ujian Promosi Doktor UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Foto: Dok. Istimewa
Pada tanggal 27 Agustus 2025, Muhammad Zakiyullah Romdlony (Kang Zaki) mempertahankan disertasi bertajuk “Relevansi Al-Qur’an dan Sains Modern: Sintesis Epistemologi Baru yang Menggabungkan Rasionalitas, Empirisisme, dan Transenden” di kampus UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Disertasinya menarik karena promovendus tujuh tahun lalu, juga mempertahankan PhD Control Systems di Universitas Groningen, Belanda.
Disertasi kedua berangkat dari kegelisahan akademik adanya dikotomi ilmu: seakan-akan sains modern berdiri di satu sisi, agama di sisi lain, keduanya berjalan sendiri tanpa jembatan. Dalam pandangan Islam klasik, ilmu adalah satu kesatuan. Fisika, matematika, kosmologi, hingga tafsir. Semuanya mengalir dari sumber yang sama: Allah, Sang Maha Mengetahui. Menurut Kang Zaki, yang lama menimba ilmu di salah satu Pesantren di Kota Tasikmalaya ini, pemisahan yang kaku tersebut justru membuat umat kehilangan pijakan epistemik.
Melalui penelitian kualitatif dengan pendekatan filosofis-analitis, ia merumuskan tiga tujuan utama: Pertama, menelusuri pandangan ulama Muslim klasik hingga kontemporer tentang relasi sains dan Al-Qur’an. Kedua, mengkritik ateisme dan scientisme, yang menolak otoritas agama dalam ranah pengetahuan. Ketiga, merumuskan epistemologi integratif yang bisa diaplikasikan untuk menjawab tantangan zaman.
Menurut disertasi Kang Zaki, banyak upaya integrasi sebelumnya masih bersifat apologetik: hanya “membela” agama dari tuduhan sains modern, tanpa menyajikan sintesis yang kokoh. Ia menawarkan sesuatu yang berbeda. Sintesisnya memadukan tiga pilar: (1) Burhān Aṣ-Ṣiddīqīn: metode filsafat Islam klasik yang membuktikan kebenaran melalui keberadaan Yang Mutlak; (2) Logico-hypothetico-verificative method: metode ilmiah ala Baconian yang menjadi dasar sains modern; (3) Prinsip Wahyu Memandu Ilmu: kerangka aksiologis dari UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
Dari sini lahirlah tiga tahap metodologis: Tanzīlī yang berangkat dari wahyu, Burhānī yang berbasis rasional-empiris, dan Taḥqīqī berwujud verifikasi dan aplikasi nyata. Sintesis epistemologi ini tidak berhenti di tataran konsep namun mengujinya pada tiga studi kasus.
Pertama, kosmologi: bagaimana memahami asal-usul alam semesta, bukan sekadar melalui Big Bang, tapi juga melalui kacamata Qur’ani. Kedua, bioetika: perdebatan seputar editing genetik dan bagaimana Al-Qur’an memberi bingkai moral-spiritual. Ketiga, ekologi: krisis lingkungan yang tak cukup dijawab oleh sains teknis, tetapi butuh orientasi nilai dan transendensi.
Hasilnya, model integratif ini bukan hanya menjawab kelemahan scientisme yang terlalu percaya pada sains seolah serba bisa, tetapi juga menegaskan kembali otoritas epistemik Al-Qur’an sebagai sumber pengetahuan yang sahih.
Secara singkat, sintesis epistemologi Kang Zaki adalah Epistemologi Tawhidi, yaitu sebuah kerangka berpikir yang mengembalikan ilmu pada fitrahnya: menyatu dengan kebenaran transenden (tauhid). Dampaknya tidak kecil karena jika diterapkan secara konsisten, model ini bisa melahirkan peradaban ilmu yang unggul, holistik, dan berkeadilan. Sains tidak lagi steril dari nilai, agama tidak lagi dianggap “pengganggu” sains. Keduanya saling melengkapi dan saling menguatkan.
Di samping disertasinya yang menarik, perjalanan akademik Kang Zaki juga unik seperti jalur ganda: satu kaki menapak kuat di dunia teknologi modern yaitu S1-S2 Teknik Elektro ITB, S3 di Universitas Groningen, dan satunya lagi berakar dalam pada ilmu-ilmu agama dari Pesantren selama nyantri di Tasikmalaya dan Jombang. Keduanya tidak berjalan sendiri, tetapi dipertemukan dalam sebuah sintesis yang indah.
Selama menempuh doktor di bidang Control and Systems for Robotics di Belanda, Kang Zaki tidak hanya bergelut dengan riset dan jurnal internasional, tetapi juga memimpin sebuah komunitas bernama deGromiest—organisasi muslim asal Indonesia yang bermukim di Groningen. Anggotanya beragam: mahasiswa S1 hingga PhD, juga keluarga keturunan Indonesia-Suriname yang menetap di Belanda.
Karakter utama deGromiest adalah keswadayaan: kegiatan lahir dari, oleh, dan untuk anggota. Tak ada sponsor besar, tak ada lembaga yang mengikat karena semua berjalan dengan semangat kebersamaan. Di bawah kepemimpinan Kang Zaki, kegiatan memperhalus bacaan Qur’an (tahsin) dan membiasakan menghafal (tahfidz) menjadi motor utama. Targetnya pun naik kelas: bukan sekadar bisa membaca, tetapi membaca dengan baik, indah, dan benar.
Di samping menyelenggarakan pengajian untuk dewasa secara berkeliling, Kang Zaki selaku Ketua DeGromist mengelola pengajian khusus untuk anak-anak dan remaja setiap hari Ahad. Program ini menjadi “oase” bagi keluarga mahasiswa Indonesia di Belanda.
Bayangkan, di tengah kesibukan studi doktoral, para orang tua kadang khawatir anak-anak mereka kehilangan jejak agama. Kehadiran program ini memberi ruang bagi mereka untuk mengaji, bertemu teman sebaya, sekaligus mengenal lebih dekat agamanya.
Menariknya, sekalipun aktif mengelola komunitas, Kang Zaki berhasil menuntaskan PhD teknik dengan relatif tepat waktu, sebuah prestasi tersendiri karena relatif lancar. Setelah itu, ia pulang ke tanah air dan mengajar di Fakultas Teknik Universitas Telkom Bandung.
Di sinilah “jalur ganda” tadi makin jelas, di tengah aktivitas mengajar dan berdakwah, ia kembali mendaftar program doktor, kali ini di UIN Sunan Gunung Djati Bandung, mengambil konsentrasi ilmu tafsir.
Tidak main-main, disertasinya menyorot persoalan besar: relasi antara sains modern dan Al-Qur’an. Kecintaannya pada Al-Quran juga ditunjukan dengan aktivitasnya saat ini yang bisa ditelusuri melalui siaran langsung di kanal YouTube DKM Masjid Al Yusna Bandung.
Ketika kita mendengar cerita Kang Zaki, sulit untuk tidak terkesima. Ia membuktikan bahwa seorang muslim bisa unggul di laboratorium sekaligus di musala, bisa bermain di jurnal internasional sekaligus menjaga hafalan Qur’an. Di usianya yang masih muda, ia sudah menorehkan jejak sebagai ahli Sistem Kontrol Robot, hafidz, sekaligus ahli tafsir. Dan yang lebih penting: ia menghadirkan jembatan kokoh antara sains dan agama, sesuatu yang kerap kita anggap mustahil.
Trending Now