Konten dari Pengguna
Menakar Kualitas Layanan Pendidikan Tinggi Vokasi
26 Agustus 2025 19:13 WIB
·
waktu baca 5 menit
Kiriman Pengguna
Menakar Kualitas Layanan Pendidikan Tinggi Vokasi
Pendidikan tinggi vokasi kepuasan mahasiswa tidak bisa dicapai hanya dengan fasilitas bagus atau administrasi rapi. Kepuasan baru muncul ketika mahasiswa siap kerja dan bangga dengan citra kampusnya.Tatang Muttaqin
Tulisan dari Tatang Muttaqin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bagaimana sebenarnya mahasiswa menilai kampusnya? Apakah dari dosennya yang hebat, fasilitasnya yang lengkap, atau dari peluang kerja setelah lulus? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini menjadi inti dari disertasi Saiful Ghozi di Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya (FIA UB) yang bertema “Pengaruh Perceived Service Quality terhadap Perceived Employability, Institutional Image, Perceived Value, dan Student Satisfaction pada Mahasiswa Politeknik Negeri di Jawa Timur.”
Penelitian ini mencoba menjawab bagaimana persepsi mahasiswa tentang kualitas layanan kampus (perceived service quality) memengaruhi kepuasan mereka. Menariknya, hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas layanan saja belum tentu membuat mahasiswa puas. Ada tiga “jembatan” penting yang menjadi mediator: citra institusi (institutional image), kebekerjaan yang dirasakan (perceived employability), dan nilai manfaat (perceived value).
Dibimbing tiga guru besar, yakni Prof. Dr. Hamidah Nayati Utami, Prof. Andriani Kusumawati, dan Prof. Dr. Edy Yulianto, penelitian ini melibatkan 356 mahasiswa tingkat akhir di seluruh program studi Diploma 4 (D4) di politeknik negeri Jawa Timur. Data survey dikumpulkan lewat aplikasi android ODK Collect, kemudian diolah dengan Partial Least Squares-Structural Equation Modelling (PLS-SEM) menggunakan SmartPLS 4. Model yang digunakan adalah higher-order constructs (reflective-reflective), yang cocok untuk menangkap kompleksitas kepuasan mahasiswa.
Temuan utama dari penelitian ini bisa dirangkum dalam satu kalimat sederhana: layanan saja tak cukup. Meski delapan dari sembilan hipotesis terbukti benar, ada satu hasil yang cukup mengejutkan—kualitas layanan ternyata tidak berpengaruh langsung pada kepuasan mahasiswa. Dengan kata lain, mahasiswa tidak otomatis puas hanya karena merasa dosennya baik, fasilitasnya lengkap, atau layanannya ramah. Namun, bukan berarti kualitas layanan tidak penting. Layanan yang baik memberi efek besar pada tiga hal kunci: citra institusi, kebekerjaan yang dirasakan, dan nilai manfaat kuliah. Ketiga faktor inilah yang kemudian berperan sebagai “jembatan” menuju kepuasan mahasiswa. Jadi, mahasiswa baru merasa puas bila: prospek kerja mereka jelas, citra kampus positif, dan nilai manfaat kuliah dianggap sepadan dengan pengorbanan.
Penelitian ini menggabungkan dua teori, yakni signaling theory dan expectancy disconfirmation theory. Signaling theory membantu menjelaskan bagaimana kualitas layanan menjadi sinyal positif yang memperkuat citra institusi, nilai manfaat, dan kebekerjaan yang dirasakan. Sementara expectancy disconfirmation theory menjelaskan bagaimana kepuasan mahasiswa terbentuk lewat perbedaan ekspektasi dan pengalaman mereka.
Integrasi keduanya melahirkan kerangka yang lebih canggih (advanced theory) untuk memahami dinamika kepuasan mahasiswa, dengan memasukkan aspek psikologis atas employability (yakni perceived employability). Semua itu dibahas di bawah payung besar consumer behavior theory yang melihat mahasiswa sebagai konsumen dalam layanan pendidikan tinggi. Dengan begitu, penelitian ini memperluas wacana, sekaligus menawarkan sudut pandang baru, serta memberikan pemahaman yang lebih kaya tentang bagaimana kepuasan mahasiswa politeknik terbentuk.
Pekerjaan Rumah Politeknik dan Implikasi Kebijakan
Bagi politeknik, hasil penelitian ini jelas jadi PR besar yang nggak bisa ditunda-tunda lagi. Pertama, kampus perlu terus meningkatkan employability. Mahasiswa bakal merasa puas kalau mereka yakin akan terserap dalam dunia kerja. Jadi, kurikulum jangan kaku, harus adaptif dengan kebutuhan industri. Magang jangan cuma formalitas, tapi wajib dan benar-benar memberi pengalaman.
Jangan lupa juga, kampus perlu punya layanan karier yang nyata—misalnya pusat karier aktif, pelatihan soft skill, atau bahkan jejaring alumni yang bisa bantu buka jalan. Kedua, politeknik perlu perkuat citra institusi. Branding kampus vokasi masih sering kalah gaung dibanding universitas atau institut sebagai penyelenggara pendidikan tinggi akademik.
Padahal, politeknik punya keunggulan khas yang harus ditunjukkan ke publik. Bukan hanya soal fasilitas, tapi juga cerita sukses alumninya yang bisa jadi bukti nyata: “kuliah di sini memang bikin siap kerja.” Ketiga, jangan melupakan soal nilai yang dirasakan. Mahasiswa dan orang tua pasti menghitung, apakah biaya, waktu, dan tenaga yang mereka keluarkan sepadan dengan hasilnya?
Pemerintah sebagai pemangku kepentingan pendidikan tinggi vokasi juga perlu melakukan sejumlah langkah strategis yang bisa ditempuh agar politeknik benar-benar berfungsi sebagai jalur cepat menuju dunia kerja.
Pertama, selain mengukur tingkat kebekerjaan lulusan, perlu juga ada standar pengukuran perceived employability mahasiswa sebelum lulus, sebagai indikator kinerja layanan pendidikan tinggi. Kedua, fasilitas dan infrastruktur kampus harus terus diperbarui mengikuti perkembangan industri, terutama pada laboratorium dan workshop, agar pembelajaran praktis benar-benar relevan.
Ketiga, kurikulum wajib direview secara berkala melalui kolaborasi dengan industri, kebijakan magang, serta berbagi sumber daya. Keempat, mahasiswa dan alumni harus dilibatkan dalam evaluasi kualitas layanan agar data yang diperoleh akurat dan tervalidasi.
Kelima, pemerintah dapat memberikan dukungan berupa pendanaan dan insentif untuk memperkuat relevansi kurikulum, meningkatkan kebekerjaan lulusan, dan mempercepat keterhubungan dengan industri. Keenam, politeknik juga perlu diarahkan menyusun ulang visi-misi agar lebih selaras dengan identitas vokasi, menekankan capaian kebekerjaan sebagai indikator utama keberhasilan, serta membangun budaya pendidikan yang berpusat pada mahasiswa dan berorientasi kerja.
Penelitian Saiful Ghozi memberi pelajaran penting: di pendidikan tinggi vokasi, kepuasan mahasiswa tidak bisa dicapai hanya dengan fasilitas bagus atau administrasi rapi. Kepuasan baru muncul ketika mahasiswa merasa siap kerja, bangga dengan citra kampusnya, dan melihat kuliah sebagai investasi yang sepadan. Dengan kata lain, kualitas layanan penting, tapi bukan tujuan akhir. Ia harus dikonversi menjadi employability, citra positif, dan value nyata. Di situlah letak kunci kepuasan mahasiswa vokasi dan sekaligus penanda keberhasilan perguruan tinggi vokasi itu sendiri.

