Konten dari Pengguna

Menjaga Hati, Menjaga Makna

Tatang Muttaqin
Fellow di Groningen Research Centre for Southeast Asia and ASEAN.
12 Desember 2025 18:29 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Menjaga Hati, Menjaga Makna
Di antara banyak buku teori komunikasi yang terasa kering dan penuh istilah akademik, buku "Menjaga Hati, Menjaga Makna" karya Rama Kertamukti hadir sebagai kejutan menyegarkan. #userstory
Tatang Muttaqin
Tulisan dari Tatang Muttaqin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Buku Menjaga Hati, Menjaga Makna Foto: Tatang Muttaqin
zoom-in-whitePerbesar
Buku Menjaga Hati, Menjaga Makna Foto: Tatang Muttaqin
Di antara banyak buku teori komunikasi yang sering terasa kering dan penuh istilah akademik, buku “Menjaga Hati, Menjaga Makna“ besutan Rama Kertamukti hadir sebagai kejutan yang menyegarkan. Rama Kertamukti menulis bukan seperti dosen yang berdiri di depan kelas, tetapi seperti sahabat yang bercerita sambil berjalan santai di halaman kampus.
Teori komunikasi dalam buku ini tidak diposisikan sebagai definisi yang harus dihafal, melainkan sebagai jendela untuk memahami diri sendiri, orang lain, dan dunia sosial. Inilah poin yang ditekankan guru besar Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, Atwar Bajari dalam pengantarnya. Atwar mengungkapkan teori komunikasi sejatinya merupakan cara untuk melihat kehidupan secara reflektif, bukan sekadar daftar istilah yang dingin.
Buku ini mengalir seperti percakapan yang jujur. Sejak awal, Rama menekankan bahwa “Menjaga Hati, Menjaga Makna“ adalah bentuk revolusi paling sunyi. Mantra ini menjadi semacam napas panjang yang mengiringi seluruh cerita. Dari kesunyian hati itulah, katanya, suara-suara baru tumbuh dan menghasilkan keharuman. Maka setiap adegan, dialog, dan perenungan dalam novel ini selalu kembali pada satu pesan: memahami orang lain dimulai dari kemampuan memahami diri sendiri.
Bagian awal dibuka dengan suasana ringan menjelang kuliah. Para tokoh berdialog sambil menunggu kelas dimulai, membicarakan teori interaksi simbolik, relational dialectics, uncertainty reduction, coordinated management of meaning (CMM), sampai uses and gratifications. Semua teori itu hadir begitu alamiah seolah memang bagian dari obrolan sehari-hari. Pembaca yang biasanya tegang saat mendengar istilah-istilah tersebut tiba-tiba merasa dekat, karena ia masuk lewat celah emosi dan pengalaman hidup.
Dari ruang kelas, cerita bergerak ke lorong fakultas yang merupakan ruang yang sering kita anggap sepele. Justru di lorong itulah percakapan tentang teori komunikasi organisasi, relational dialectics, komunikasi kritis, CMM, dan interaksi simbolik mengalir tanpa pretensi. Lorong menjadi metafora ruang sosial yang menjadi tempat orang berlalu-lalang, saling menyapa, saling menafsir, atau bahkan saling salah paham. Rama berhasil menunjukkan bahwa teori lahir dari tempat sederhana seperti ini, yaitu rutinitas yang diam-diam penuh makna.
Kemudian pembaca diajak masuk ke rapat kampus, yang digambarkan begitu khas: panjang, melelahkan, kadang membingungkan, tetapi penuh dinamika. Di sinilah teori komunikasi organisasi, relational dialectics, komunikasi kritis, CMM, dan interaksi simbolik terasa sangat relevan. Rapat yang tak pernah selesai itu menjadi cermin tarik menarik kepentingan, negosiasi makna, dan ketegangan relasi antarpeserta. Pembaca mungkin tertawa kecil karena merasa “ini banget hidup saya.” Di sinilah kekuatan buku ini, di mana teori tidak pernah berdiri sendiri, selalu hadir dalam pengalaman yang sangat manusiawi.
Rama lalu membawa pembaca ke ruang digital, Google Meet tempat banyak orang “tersesat” selama masa pandemi. Pengalaman wajah tak bergerak (freeze), suara yang hilang, gesture yang kadang salah ditafsir, atau pesan yang meleset makna menjadi pintu masuk untuk membahas teori ekologi media, uncertainty reduction, CMM, relational dialectics, dan uses and gratifications. Penjelasannya terasa akrab karena kita semua pernah berada dalam situasi itu. Teori-teori tadi tidak terasa asing, justru membantu kita memahami mengapa komunikasi di dunia maya kadang terasa melelahkan.
Di bagian lain, pembaca diajak duduk di bawah pohon beringin tua. Suasana tenang dan teduh menjadi latar yang tepat untuk membicarakan paradigma naratif, relational dialectics, penetrasi sosial, CMM, dan interaksi simbolik. Dari latar ini, pembaca diingatkan bahwa manusia adalah makhluk pencerita. Kita hidup dengan cerita yang kita bangun dan kita percayai. Maka memaknai hidup sering kali berarti memaknai kembali cerita-cerita yang kita pilih untuk kita hidupi.
Salah satu bagian paling menarik adalah “Jurnal Nadira Hilang.” Kisah kehilangan jurnal ini tidak hanya soal buku catatan yang tercecer, tetapi juga tentang lapisan diri yang tersingkap melalui pencarian. Teori penetrasi sosial, interaksi simbolik, uncertainty reduction, dan relational dialectics hadir dalam bentuk pengalaman emosional. Pembaca diajak merasakan bahwa memahami orang lain bukan sekadar proses kognitif, melainkan proses membuka lapisan diri dengan perlahan, hati-hati, dan saling percaya.
Ada pula kisah jenaka dan tajam tentang “Status WhatsApp Sang Dekan.” Satu unggahan sederhana menjadi sumber berbagai tafsir dan spekulasi. Dari sini teori komunikasi organisasi, uncertainty reduction, CMM, relational dialectics, dan interaksi simbolik muncul tanpa paksaan. Buku ini seakan ingin mengatakan bahwa dunia organisasi modern tidak lagi hanya terjadi di ruang rapat, tetapi juga di ruang digital yang penuh simbol dan ambiguitas.
Di bagian penutup, Rama menyatukan berbagai teori komunikasi yang mencakup uncertainty reduction, CMM, relational dialectics, uses and gratifications, feminist standpoint, paradigma naratif, hingga muted group theory untuk mendedahkan satu hal sederhana tapi fundamental, yakni menjaga hati berarti berani menundukkan ego. Dengan memahami perspektif orang lain, terutama mereka yang suaranya kerap terpinggirkan, kita sebenarnya sedang membangun jembatan makna yang lebih kokoh.
Sebagai karya yang berupaya mendekatkan teori dengan cerita, buku ini berhasil melakukannya dengan sangat baik. Namun ada satu catatan kecil, yaitu penulisan teori CMM pada beberapa bagian tanpa penjelasan yang memadai baru di beberapa judul bab di Tengah dan akhir Rama menuliskan lengkap sebagai Coordinated Management of Meaning (CMM). Penyebutan lengkap sejak awal akan membantu pembaca, terutama yang baru mengenal teori tersebut untuk memahami konteks secara lebih utuh.
Terlepas dari itu, “Menjaga Hati, Menjaga Makna“ merupakan buku yang renyah, reflektif, dan menyenangkan untuk dicicipi. Ia merangkul pembaca dari berbagai latar belakang, bukan hanya mahasiswa komunikasi. Rama Kertamukti berhasil membuktikan bahwa teori bukanlah tembok, tetapi jembatan. Ia bisa mengalir dalam dialog sehari-hari, dalam rapat, dalam ruang digital, dalam keheningan di bawah pohon tua, dan tentu saja di dalam sukma yang sedang belajar menjaga makna.
Trending Now