Konten dari Pengguna
Menyingkap Cahaya Energi Masjid-Masjid Dunia
11 Januari 2026 5:30 WIB
·
waktu baca 5 menit
Kiriman Pengguna
Menyingkap Cahaya Energi Masjid-Masjid Dunia
Masjid di mana pun berada bisa menjadi jangkar yang mampu menerangi pengelana sekaligus membantu memahami arti menjadi insan sambil tetap menjadi Indonesia. #userstoryTatang Muttaqin
Tulisan dari Tatang Muttaqin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Buku “Dicahayai Energi Masjid-Masjid Dunia” berkisah tentang pengelanaan dari satu masjid ke masjid lain, dari satu kota ke kota berikutnya, dari satu negara bahkan benua ke benua yang lain. Semangat utama buku “Dicahayai Energi Masjid-Masjid Dunia” besutan ahli perencana utama, Hanan Nugroho ini jelas bukan sekadar catatan wisata religi. Penulis berusaha mengurai antologi kisah perjalanan yang jujur, reflektif, dan hangat, tentang bagaimana seorang anak manusia mencari makna rumah, tanah air, dan jati diri, ketika langkah kakinya terus dibawa angin ke berbagai penjuru dunia.
Hanan Nugroho dikenal sebagai penulis yang produktif di bidang energi, kebijakan publik, dan Pembangunan yang tulisannya tersebar di jurnal internasional, koran nasional dan beberapa buku yang telah terbit sebelumnya. Di buku ini, Hanan menanggalkan sejenak bahasa teknokratisnya sehingga menulis dengan gaya ringan, personal, renyah dan penuh rasa. Masjid menjadi titik singgah, tetapi yang sesungguhnya ia ceritakan adalah perjumpaan dengan beragam tempat dan budaya, dengan beraneka manusia, dengan kenangan, dan dengan diri sendiri. Masjid bukan hanya bangunan ibadah, melainkan jangkar spiritual sekaligus sosial, tempat seseorang tetap merasa Indonesia sekalipun berada ribuan kilometer dari ibu pertiwi.
Menariknya, buku ini tidak terjebak pada romantisme spiritual semata namun juga menjadi catatan lintas budaya, lintas bahasa, dan lintas benua. Bagaimana menjadi Indonesia di tepian Sungai Charles di Boston, di tengah hiruk-pikuk megapolitan Tokyo, di kota hijau Hangzhou, di tepian Sungai Perak di Bagan Datuk, di kawasan Itaewon Seoul, hingga di gang-gang sempit Phnom Penh. Pada setiap tempat dan kesempatan, identitas diuji sekaligus juga dirawat dan diperkuat.
Sebagai pembuka, bab pertama berkisah yang tak biasa, yaitu “Setengah Marathon“ sekitar 42,2 kilometer menyusuri Boston, Amerika Serikat. Latar kisahnya bermula saat Hanan diterima untuk menjadi research fellow di Harvard University. Boston Marathon yang legendaris, dimulai dari Hopkinton hingga Copley Square menjadi pintu masuk untuk mengenalkan kota, ritmenya, sekaligus lanskap intelektual dan spiritualnya. Hanan mengajak pembaca menikmati tepian Sungai Charles, Widener Library, Barrett Hall, hingga Harvard Yard. Di tengah atmosfer akademik kelas dunia itu, ada Islamic Society of Boston dan juga cerita Masjid Boston Roxbury, tempat mahasiswa dari Harvard, Boston University, hingga Massachusetts Institute of Technology (MIT) berjumpa, bersujud, dan membangun rasa ukhuwah dan kebersamaan. Masjid hadir menjadi ruang inklusif, penyeimbang antara kelelahan intelektual dan kebutuhan menenangkan kalbu.
Pada bab kedua, pembaca diajak menikmati kisah Tokyo Camii, masjid megah yang konon sering pula disambangi figur publik seperti Syahrini. Hanan tidak berhenti pada sensasi dengan menulis tentang “cinta yang bersemi” dalam arti cinta pada keindahan arsitektur, pada keteraturan Jepang, dan pada Islam yang tumbuh anggun di negeri minoritas Muslim. Tokyo Camii menjadi simbol dialog budaya Turki, Jepang, dan umat Islam global berjumpa dalam satu ruang yang penuh estetika dan keteduhan.
Perjalanan berlanjut ke Masjid Agung Hangzhou pada bagian ketiga. Masjid dengan kubah emas yang megah ini berdiri di kota yang dikenal hijau dan modern. Di sini, Hanan menangkap ironi sekaligus harmoni, di mana Islam yang telah berabad-abad hadir di Tiongkok, tetapi sering luput dari sorotan. Masjid Hangzhou menjadi penanda bahwa identitas keagamaan dapat bertahan, beradaptasi, dan hidup berdampingan dengan perubahan zaman.
Bagian keempat terasa lebih dekat secara kultural, yakni Masjid Tuminah Hamidi di tepi Sungai Perak, Bagan Datuk, Malaysia. Ada kisah tentang Jamal alias Jawa Malaysia yang memperlihatkan bagaimana diaspora Nusantara berakar kuat di negeri jiran. Masjid menjadi pusat komunitas, tempat sejarah migrasi, kerja keras, dan persaudaraan lintas generasi saling terhubung.
Bab kelima, kita diajak mencicipi nuansa yang lebih hening dan reflektif berupa doa-doa sederhana dari masjid di Kamboja, negeri yang pernah dilukai sejarah kelam era Pol Pot. Hanan berkisah menyempatkan salat Jumat di Masjid Al-Sekal, masjid terbesar di Kamboja. Dengan sekitar 900 masjid di negeri itu, Islam hidup dalam kesederhanaan, tetapi justru di situlah elan vitalnya dan munajat doa tak bersahaja menjadi saksi keteguhan iman di tengah keterbatasan.
Bagian keenam menutup perjalanan dengan “Pesan Mas dari Masjid Itaewon”, Masjid Pusat Kota Seoul. Di kawasan yang kosmopolit dan multikultural, masjid Itaewon menjadi ruang aman untuk para imigran Muslim, pekerja, mahasiswa, dan juga wisatawan. Di sana, Hanan menemukan pesan sederhana namun kuat tentang persaudaraan global dan pentingnya saling menguatkan di negeri orang.
Secara keseluruhan, buku “Dicahayai Energi Masjid-Masjid Dunia” merupakan pengelanaan yang penuh makna dan disampaikan dengan renyah tanpa terasa menggurui. Uraianya tidak terlalu detail, karena memang tidak dimaksudkan sebagai panduan wisata. Justru di situlah kekuatannya sebagai ajakan untuk berkelana di muka bumi, baik secara fisik dan batin. Pembaca diajak menyadari bahwa di mana pun kita berada, selalu ada ruang untuk pulang sebagai wujud akar yang kokoh.
Sekalipun renyah, hangat dan reflektif, buku ini masih dapat diperkaya karena beberapa cerita terasa terlalu singkat sehingga potensi emosi, dialog, dan detail lokal belum tergali maksimal. Di samping itu, transisi antarbab dapat diperhalus sehingga alurnya lebih koheren. Pengayaan konteks sejarah masjid dan komunitas Muslim setempat juga akan menambah kedalaman dan tentunya refleksi penutup di setiap bab akan membantu pembaca menangkap benang merah perjalanan dan pesan yang lebih utuh.
Buku “Dicahayai Energi Masjid-Masjid Dunia” perlu dibaca oleh generasi muda untuk bersemangat berkelana, dan masjid di manapun berada bisa menjadi jangkar yang mampu menerangi pengelanaan sekaligus membantu memahami arti menjadi insan, dan tetap menjadi Indonesia, di mana pun kita berada.

