Konten dari Pengguna

Pendidikan Bermutu untuk Semua: Pendidikan yang Memuliakan Manusia

Tatang Muttaqin
Fellow di Groningen Research Centre for Southeast Asia and ASEAN.
22 Desember 2025 9:27 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Pendidikan Bermutu untuk Semua: Pendidikan yang Memuliakan Manusia
Buku ini berhasil merangkum gagasan sekaligus praktik Abdul Mu’ti selama satu tahun kepemimpinannya sebagai Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah.
Tatang Muttaqin
Tulisan dari Tatang Muttaqin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
DOk: Tatang Muttaqin
zoom-in-whitePerbesar
DOk: Tatang Muttaqin
Buku Pendidikan Bermutu untuk Semua: Menggali Pokok-Pokok Pikiran Abdul Mu’ti menghadirkan wajah pendidikan Indonesia yang hangat, bernilai, sekaligus membumi. Buku ini tidak hanya merangkum gagasan seorang Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, tetapi juga merekam denyut transformasi pendidikan yang sedang diupayakan: pendidikan yang memuliakan manusia, merawat keberagaman, dan menatap masa depan dengan optimisme yang berakar pada nilai.
Dalam kata pengantar Pemimpin Umum Harian Kompas, Lilik Oetama menegaskan bahwa Abdul Mu’ti tumbuh dalam tradisi intelektual Muhammadiyah yang menekankan keikhlasan, keilmuan, dan pengabdian. Pendidikan, dalam tradisi ini, bukan sekadar transfer pengetahuan, melainkan ikhtiar membangun martabat manusia. Media massa pun diposisikan sebagai sarana pencerahan, bukan sekadar penyampai informasi. Pemikiran Mu’ti, kata Lilik, selalu menghadirkan pendidikan yang berpijak pada nilai, rasionalitas, dan kemanusiaan.
Penguatan makna tulisan juga ditegaskan oleh Luluk melalui adagium klasik verba volant, scripta manent: kata-kata lisan mudah menguap, sementara tulisan akan menetap dan abadi. Buku ini menjadi bukti bahwa gagasan pendidikan Abdul Mu’ti yang tersebar dalam beragam artikel dan beraneka wawancara perlu dicatat, dirawat, dan diwariskan lintas generasi.
Dalam prolog yang ditulis Mike Hardy bertajuk My Friend, the Minister, pembaca diajak melihat sisi lain Abdul Mu’ti sebagai intelektual publik yang aktif membangun dialog lintas budaya dan lintas iman. Hardy menunjukkan bahwa perubahan sosial tidak lahir dari perdebatan keras, melainkan dari percakapan berkelanjutan yang dipandu oleh hati dan pikiran. Di titik inilah kepemimpinan publik bertemu dengan kebijaksanaan moral.
Praktisi Pendidikan, Haidar Bagir kemudian membawa pembaca pada sisi yang sangat praktis dari pemikiran Mu’ti. Transformasi pendidikan dimulai dari keluarga, melalui penguatan kesederhanaan dan nilai-nilai dasar. Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (KAIH) diposisikan sebagai langkah konkret, yang diperkuat dengan delapan Dimensi Profil Lulusan melalui Pendekatan Pembelajaran Mendalam.
Penguatan peran guru bimbingan konseling (BK) melalui "7 Jurus BK Hebat,“ serta penekanan pada literasi, numerasi, Science, Technology, Engineering, Art and Maths (STEAM), hingga koding dan kecerdasan artifisial sejak dini, menunjukkan bahwa visi besar selalu diturunkan menjadi langkah yang operasional.
Salah satu gagasan kunci dalam buku ini adalah reposisi dari persekolahan (schooling) menjadi pembelajaran (learning). Pendidikan tidak lagi dipersempit pada bangku sekolah, tetapi dipahami sebagai proses belajar sepanjang hayat melalui jalur formal, nonformal, dan informal. Menurut Haidar Bagir, esensi transformasi pendidikan Abdul Mu’ti bermuara pada kesejahteraan dan kemaslahatan, serta kebahagiaan murid dan guru.
Pemerhati Pendidikan, Doni Koesoema A menekankan bahwa transformasi sederhana ala Abdul Mu’ti akan berbuah hasil jika dikawal dengan proses belajar yang berkesadaran dengan kehadiran guru yang efektif, serta kurikulum yang relevan dengan tantangan masa depan. Pendidikan tidak boleh terjebak pada rutinitas administratif, tetapi harus hidup dalam relasi belajar yang bermakna.
Pakar Manajemen dan Perubahan, Rhenald Kasali menyoroti keberanian Abdul Mu’ti menempatkan penghargaan terhadap keragaman sebagai inti pendidikan nasional. Pendidikan tidak cukup mencetak anak cerdas secara akademik, tetapi juga matang secara moral, berempati, toleran, dan terbuka pada pluralitas. Ini bukan toleransi pasif, melainkan pluralitas positif yang aktif merayakan perbedaan.
Dimensi karakter diperkuat oleh Alissa Wahid yang mengaitkannya dengan Theory U yang diperkenalkan Otto Scharmer. Perubahan sistemik harus menyentuh lapisan terdalam: dari sekadar bereaksi, merancang ulang, memikirkan ulang, hingga meregenerasi. Pendidikan karakter tidak cukup diajarkan, tetapi dibiasakan.
Selanjutnya, peran guru mendapat sorotan kuat dari Pegiat Pendidikan, Ki Saur Panjaitan XIII. Guru adalah aktor strategis dalam mengubah nasib bangsa. Menurut Ki Saur Panjaitan XIII, reformasi tata kelola guru, mulai dari penguatan peran sebagai fasilitator, revitalisasi dalam komunitas, infrastruktur dan perlindungan, hingga redistribusi guru menjadi keniscayaan. Ki Saur Panjaitan XIII kembali menekankan bahwa pendidikan yang baik dapat mengubah nasib seseorang, tetapi guru yang baik dapat mengubah segalanya.
Pendiri PT Media Kernels Indonesia, Ismail Fahmi membawa diskusi ke ranah digital. Menurut Ismail Fahmi, kecerdasan artifisial harus dimanusiakan, bukan ditakuti. Dengan demikian, pendidikan digital adalah proyek peradaban, sehingga kesalehan digital menjadi prasyarat. Abdul Mu’ti menegaskan bahwa transformasi pendidikan harus bertumpu pada nilai, bukan sekadar teknologi.
Konsep Pembelajaran Mendalam (PM) diurai oleh Haryatmoko melalui perspektif Taksonomi SOLO. PM menekankan pembelajaran reflektif, kritis, kreatif, dan berdampak. Oleh karena itu, menurut pakar Filsafat Universitas Sanata Dharma Yogyakarya ini, guru beralih peran menjadi perancang, fasilitator, motivator, dan pemandu. Tujuannya jelas untuk melahirkan generasi pembelajar yang mandiri, adaptif, dan berdaya saing.
Guru besar UNJ, Yuli Rahmawati dan Guru besar UNY, Suyanto mempertegas bahwa PM adalah jalan menuju pendidikan bermutu untuk semua sehingga diharapkan mampu menekan kesenjangan. Prinsip berkesadaran, bermakna, menggembirakan, dan memuliakan menjadi ruh utama pembelajaran mendalam. Syamsir Alam melengkapinya dengan menekankan pentingnya sistem penilaian yang seimbang melalui tes kemampuan akademik (TKA), sementara Guru besar UIN Syarif Hidayatullah, Maila Dinia Husni Rahiem dan Direktur Eksekutif Pelita Harapan Grup, Stephanie Riady menekankan pengingnya penguatan budaya STEM sebagai ekosistem bersama.
Selanjutnya, isu keadilan akses pendidikan diangkat oleh aktivis pendidikan, Darmaningtyas melalui sistem penerimaan murid baru (SPMB), sedangkan Direktur Program INOVASI, Sri Widuri menutup dengan gagasan partisipasi semesta yang menekankan pentingnya kolaborasi, kedermawanan, dan digitalisasi sebagai pengungkit gerakan bersama.
Ala kulli hal, buku ini berhasil merangkum gagasan sekaligus praktik Abdul Mu’ti selama satu tahun kepemimpinannya sebagai Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah. Buku yang kaya perspektif, bernuansa reflektif, dan sarat inspirasi sehingga perlu dibaca oleh para pengambil kebijakan, pegiat pendidikan, akademisi, dan siapa pun yang peduli pada masa depan pendidikan Indonesia. Selamat membaca.
Trending Now